SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Makna pahlawan tak hanya sebatas pada mereka yang angkat senjata melawan penjajah, tetapi juga pada upaya menjaga dan menghargai warisan perjuangan mereka.
Semangat itulah yang kini dihidupkan kembali oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui inovasi bertajuk “Dinsos Melawan Lupa”, yang digagas oleh Dinas Sosial (Dinsos) Buleleng.
Program tersebut menjadi gerakan untuk menggali dan mendokumentasikan riwayat perjuangan serta nilai-nilai kepahlawanan yang tersebar di 148 desa dan kelurahan di Bali Utara.
Tak hanya mencatat tonggak sejarah berupa tugu atau monumen perjuangan, Dinsos juga menelusuri kisah para tokoh utama dan para pendampingnya yang ikut berjuang merebut kemerdekaan.
Kepala Dinsos Buleleng, I Putu Kariaman Putra mengatakan, pihaknya melibatkan tim kreatif dan aparat desa setempat dalam melakukan pendekatan dan wawancara bersama tokoh masyarakat yang mengetahui sejarah di wilayahnya.
“Ini sebagai bentuk sosialisasi kepada generasi muda tentang perjuangan rakyat Buleleng dalam merebut kemerdekaan. Sejauh ini, sudah ada 39 monumen perjuangan daerah yang berhasil kami himpun datanya,” ujarnya.
Baca Juga: Kabur karena Cekcok, Ibu Muda di Sukasada Ditemukan dalam Kondisi Selamat
Ia menambahkan, inovasi Dinsos Melawan Lupa telah berjalan selama tiga tahun dan mendapat dukungan luas dari para perbekel serta lurah.
Selama ini banyak desa belum memiliki data maupun dokumentasi tertulis tentang monumen perjuangan yang mereka miliki.
Beberapa di antaranya adalah Monumen Lila Panca Graha di Desa Pakisan yang dibangun pada 30 November 2002.
Keberadaan monumen itu mengenang perjuangan Mangku Wirya, Wayan Samba, Nyoman Karma, Wayan Mantra, dan kawan-kawan yang terlibat kontak senjata dengan NICA pada 1946.
Ada pula Monumen Perjuangan Wira Wijaya Sakti di Desa Bebetin, yang dibangun pada 1986.
Monumen dibangun untuk mengenang Nengah Wenten dan Wayan Kayun — dua pejuang asal Galungan yang gugur setelah dieksekusi Belanda di Sungai Sangburni.
Selain itu, terdapat Monumen Stana Wira Yudha di Desa Depeha yang dibangun pada 19 Maret 2003 oleh mengenang para veteran untuk menghormati pejuang lokal yang gugur saat Agresi Militer Belanda II tahun 1947.
“Salah satu tugas pokok Dinsos adalah memelihara dan merawat tugu perjuangan yang ada di Buleleng. Melalui program ini, kami menghimpun dan mendata lokasi-lokasi bersejarah di Bali utara,” lanjut Kariaman.
Dari hasil pendataan, tercatat 15 pahlawan lokal asal Buleleng yang namanya kini dikenang dalam berbagai bentuk penghargaan.
Di antaranya Nengah Sri Madia, Wayan Kenak, Serma Karma, Wayan Wandras, Bagus Putu Nuaba, I Gede Wangsa, hingga tokoh besar Mayor Metra dan Kapten Muka.
Mayor Metra, kelahiran Desa Beratan pada 5 Mei 1902, dikenal sebagai pemimpin pejuang yang gugur di Gintungan, Selat, pada 1946.
Namanya kini diabadikan menjadi nama stadion, jalan raya, hingga patung di Tugu Tri Yudha Sakti.
Sementara Kapten Muka, lahir di Singaraja tahun 1923, tercatat sebagai tokoh penting dalam peristiwa penurunan bendera Belanda di Pelabuhan Singaraja pada 27 Oktober 1945.
Ia gugur di Lorong Melati, Banjar Jawa, pada 3 April 1946 — lokasi yang kini dikenal sebagai Jalan Kapten Muka.
“Kami berharap masyarakat Buleleng dapat meneladani dan menanamkan nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan sehari-hari, agar semangat juang para pahlawan tidak pernah pudar,” tandas Kariaman. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya