SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Seorang wanita asal Buleleng mencuri perhatian warganet atau netizen setelah aksinya merayakan Hari Raya Galungan dilakukan dengan cara yang tak biasa.
Wanita itu melakukan aksi freediving menggunakan pakaian adat Bali di kedalaman sekitar 10 meter bawah laut.
Aksi unik itu direkam pada Minggu (9/11/2025) di perairan Amed, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali.
Dia adalah Ni Putu Sri Ota Piani, wanita kelahiran 11 Mei 1995, yang kini tinggal Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng.
Ibu dari seorang anak ini bekerja sebagai pemilik salon kecantikan, tetapi memiliki hobi menyelam sejak masih duduk di bangku SMA.
Videonya diunggah melalui akun instagram @pupuota pada Selasa (18/11/2025). Video itu pun dengan cepat viral di media sosial.
Menurut Sri Ota, ide konsep tersebut datang dari temannya, Ayu Febri, asal Singaraja.
“Konsepnya ingin mengangkat nuansa Galungan–Kuningan dengan busana adat Bali, tapi disatukan dengan alam. Di Amed ada artificial reef yang bentuknya seperti pura, jadi cocok untuk mengambil video,” jelasnya.
Ota menegaskan struktur yang ia datangi di dalam foto dan video tersebut bukan pura bawah laut, tetapi terumbu buatan yang memang dirancang menyerupai bangunan suci.
Dalam pengambilan video, ia melakukan free dive hingga 10 meter dengan satu kali tahan nafas sekitar satu menit.
Meski terbiasa menyelam—bahkan kini rutin melakukan free diving 4–5 kali sebulan—tantangan yang dihadapi kali ini berbeda.
Ia menyelam tanpa wetsuit dan menggunakan pakaian adat Bali lengkap.
“Cukup menantang karena pakai kebaya dan kain kamben. Harus pintar mengakali kainnya biar tidak bergerak di bawah air. Untung pakai bahan yang ringan,” tuturnya.
Ota mulai menekuni free diving lebih dalam sejak satu setengah tahun terakhir. Ia pernah terlebih dulu belajar scuba diving, namun merasa lebih cocok dengan freediving karena memberikan sensasi tenang dan hening.
“Rasanya santai, bisa melepas stres. Kalau mumet kerjaan, ya refresh-nya di laut,” katanya.
Ketertarikannya pada olahraga air juga didukung keluarga yang sama-sama gemar berenang.
Di balik aksinya, Sri Ota ingin menyampaikan pesan tentang spiritualitas dan hubungan manusia dengan alam.
“Saya ingin mengingatkan bahwa Tuhan ada di mana saja, termasuk di laut. Dan bagaimana kita bisa menghubungkan Tri Hita Karana,” ungkapnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya