Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Cacar Sapi Meluas di Bali. Setelah di Jembrana Kini Ditemukan di Buleleng

Eka Prasetya • Selasa, 20 Januari 2026 | 18:52 WIB

 

CACAR SAPI: Salah satu sapi di Buleleng yang diduga terkena cacar sapi.
CACAR SAPI: Salah satu sapi di Buleleng yang diduga terkena cacar sapi.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Penyakit cacar sapi atau Lumpy Skin Disease (LSD) yang sebelumnya terdeteksi di Kabupaten Jembrana kini mulai merambah wilayah Buleleng. 

Dua ekor sapi milik peternak di salah satu desa di Kecamatan Gerokgak dilaporkan diduga terjangkit penyakit virus tersebut.

Temuan tersebut membuat Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Buleleng langsung mengambil langkah cepat dengan memberlakukan karantina wilayah di tingkat desa. 

Kebijakan tersebut dilakukan dengan membatasi pergerakan dan distribusi sapi guna mencegah penyebaran virus semakin meluas.

Kepala Distan Buleleng, Gede Melandrat, mengatakan dua sapi terduga LSD tersebut merupakan kasus pertama yang tercatat di wilayahnya. 

Sebelumnya, Bali memang sudah berada dalam status waspada menyusul laporan merebaknya LSD di Jembrana berdasarkan informasi dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar.

“Sebelumnya kami hanya mendapat informasi kewaspadaan dari BBVet Bali. Di lapangan awalnya belum ditemukan kasus. Namun kemarin (Senin, 19 Januari 2026), kami menerima laporan dari peternak adanya dua ekor sapi yang menunjukkan gejala LSD,” ujar Melandrat, saat dikonfirmasi pada Selasa (20/1/2026).

Dari hasil penelusuran, dua sapi tersebut diketahui merupakan anakan sapi yang dibeli peternak secara daring melalui media sosial Facebook. 

Ternak tersebut didatangkan dari luar daerah, diduga dari wilayah timur Bali, dan telah dipelihara sekitar satu bulan sebelum akhirnya menunjukkan gejala penyakit.

“Inilah yang menjadi perhatian kami, karena asal-usul ternak yang dibeli secara online sulit dipantau,” jelas Melandrat.

Hasil pemeriksaan dokter hewan menunjukkan ciri khas LSD pada sapi yang terjangkit, berupa bercak-bercak di kulit menyerupai cacar. 

Meski demikian, kondisi kedua sapi dilaporkan mulai membaik dan masih memiliki nafsu makan yang cukup baik.

Sementara itu, sapi lain di sekitar kandang tidak menunjukkan gejala serupa. Kendati demikian, Distan Buleleng tetap memberlakukan pembatasan ketat dengan melakukan isolasi di tingkat desa.

“Bukan hanya sapi yang sakit yang diisolasi, tetapi seluruh desa kami lakukan pembatasan pergerakan sapi. Sapi dari desa tersebut tidak boleh keluar dulu sampai benar-benar dinyatakan steril,” tegas Melandrat.

Ia menjelaskan, LSD merupakan penyakit virus yang hanya menyerang sapi dan tidak menular ke manusia. 

Penularannya umumnya terjadi melalui vektor seperti nyamuk dan lalat, yang populasinya meningkat saat musim hujan. 

Lingkungan dengan semak-semak tinggi dan genangan air disebut menjadi faktor pendukung berkembangnya penyakit ini.

Meski demikian, Melandrat mengimbau masyarakat, khususnya peternak, agar tidak panik. 

Distan Buleleng saat ini mengintensifkan kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada peternak di seluruh wilayah, terutama di Kecamatan Gerokgak yang memiliki populasi sapi cukup tinggi.

Peternak juga diminta untuk sementara tidak membeli sapi dari luar desa maupun luar kabupaten, terutama melalui transaksi daring yang sulit ditelusuri asal-usul kesehatannya.

Untuk penanganan sapi yang terjangkit, fokus dilakukan pada perawatan guna menjaga kondisi kesehatan ternak serta pengendalian vektor penular. 

Peternak dianjurkan melakukan pengasapan kandang untuk mengusir nyamuk dan lalat, serta memandikan sapi dengan bahan alami sebagai langkah pencegahan.

Melandrat menambahkan, tingkat kematian akibat LSD tergolong rendah. Namun, penyakit ini berpotensi menyebabkan kecacatan pada sapi yang berdampak pada penurunan nilai jual.

“Risiko terbesarnya adalah penurunan nilai ekonomi. Kalau sapi cacat, otomatis harga jualnya turun,” katanya.

Ia menegaskan, jika penyebaran LSD terus meluas dan sulit dikendalikan, Distan tidak menutup kemungkinan mengambil langkah tegas, termasuk pemusnahan ternak seperti saat penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

“Itu opsi terakhir. Saat ini masih dua ekor dan kami optimistis bisa dikendalikan,” ungkapnya.

Selain itu, dokter hewan di Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) setempat juga ditugaskan melakukan pemantauan intensif. Seluruh petugas diwajibkan menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai prosedur standar penanganan penyakit hewan. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#karantina #kandang #cacar #gerokgak #Cacar Sapi #Lumpy Skin Disease #jembrana #peternak #pertanian #virus #buleleng #penyakit #LSD #media sosial