Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Satwa Dilindungi Kembali ke Alam, BKSDA Bali Lepas Elang hingga Luwak di Buleleng

Eka Prasetya • Minggu, 1 Maret 2026 | 17:03 WIB

 

LEPASKAN HEWAN: Kepala Balai KSDA Bali, Ratna Hendratmoko melakukan pelepasliaran satwa di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Buyan-Tamblingan.
LEPASKAN HEWAN: Kepala Balai KSDA Bali, Ratna Hendratmoko melakukan pelepasliaran satwa di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Buyan-Tamblingan.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Sebanyak delapan ekor satwa liar hasil sitaan dan penyerahan masyarakat akhirnya kembali ke habitat alaminya. 

Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bali (BKSDA Bali) bersama Yayasan Pecinta Alam dan Kemanusiaan (PPS) Bali melepasliarkan satwa tersebut di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Danau Buyan - Danau Tamblingan, Kabupaten Buleleng, pada Sabtu (28/2/2026) pukul 14.00 WITA.

Kegiatan bertema “Kolaborasi untuk Kelestarian Satwa Bali, Sepenuh Hati Alam Bali” ini menjadi simbol sinergi multipihak dalam menjaga keanekaragaman hayati Pulau Dewata.

Total delapan satwa dilepasliarkan, terdiri dari seekor Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus), seekor Elang Ular Bido (Spilornis cheela), dua ekor Landak Jawa (Hystrix javanica), dan empat ekor Luwak (Paradoxurus hermaphroditus).

Satwa-satwa tersebut sebelumnya menjalani proses rehabilitasi di PPS Bali. Mereka juga melewati tahapan habituasi, pemeriksaan kesehatan, serta kajian kesesuaian habitat sebelum dinyatakan layak dilepasliarkan.

Langkah pelepasliaran itu dilakukan untuk memastikan satwa mampu beradaptasi di lingkungan barunya sekaligus memperkuat populasi di alam liar.

BKSDA Bali sengaja memilih Kawasan TWA Danau Buyan–Danau Tamblingan karena dinilai memiliki karakteristik habitat yang sesuai dan mendukung kelangsungan hidup satwa liar.

Bagi masyarakat Tamblingan, hutan dan danau bukan sekadar ruang ekologis, melainkan juga memiliki nilai spiritual dan warisan leluhur yang dijaga turun-temurun. 

Pelepasliaran ini diharapkan menjadi wujud nyata filosofi Tri Hita Karana—harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Kepala Balai KSDA Bali, Ratna Hendratmoko menegaskan, konservasi bukan sekadar menyelamatkan satwa, tetapi membangun kesadaran dan tanggung jawab bersama.

“Kami bersama mitra akan melakukan monitoring selama beberapa bulan ke depan untuk memastikan satwa mampu beradaptasi di habitat barunya. Jika kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita,” tegasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#satwa #Habitat #kesehatan #elang #alam liar #danau #BKSDA Bali #luwak #satwa liar #danau tamblingan #buleleng #danau buyan #Taman Wisata Alam #konservasi #landak