SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Penataan kawasan titik nol Kota Singaraja kini tampil lebih berkarakter. Sentuhan ukiran khas Buleleng menghiasi pilar dan candi di kawasan tersebut, menghadirkan nuansa estetika sekaligus mempertegas identitas lokal.
Tak sekadar ornamen, ukiran ini juga menjadi bagian dari upaya pelestarian seni tradisional Buleleng.
Pengerjaannya melibatkan perajin lokal, salah satunya Nyoman Arta Sunada, 54, undagi asal Kelurahan Banyuning yang telah lebih dari dua dekade menekuni seni ukir.
Bersama enam rekannya, Arta menggarap ornamen dengan gaya khas Buleleng yang dikenal memiliki ciri daun lebar dan lipatan yang lebih bebas.
“Ukiran Buleleng itu cirinya daunnya lebar dan lipatannya bebas, tidak kaku seperti gaya Bali selatan. Motifnya bisa dikreasikan leluasa mengikuti bentuk alam,” ujarnya.
Ia menjelaskan, karakter ukiran Buleleng cenderung berukuran besar sehingga tetap terlihat jelas, baik dari dekat maupun kejauhan.
Variasi motifnya pun beragam, tidak hanya tumbuhan tetapi juga dipadukan dengan unsur fauna seperti kelelawar, burung, monyet, hingga kijang.
“Kalau ukiran Buleleng itu tidak membosankan karena bisa terus berkreasi. Motifnya banyak seperti punggel, ulanda, samblung, dan lainnya,” jelasnya.
Dalam proyek penataan ini, Arta mengerjakan motif ulanda yang dipadukan dengan patra cina.
Menariknya, material yang digunakan merupakan batu paras abasan asal Desa Sangsit, yang menjadi ciri khas Buleleng.
Batu ini memiliki warna kemerahan menyerupai bata, dengan tampilan yang semakin kontras saat terkena air hujan.
Selain itu, tingkat kekuatannya juga dinilai lebih baik dibandingkan material berbasis pasir, sehingga mendukung daya tahan sekaligus keindahan ukiran.
Arta mengapresiasi langkah pemerintah yang kembali mengangkat seni ukir khas Buleleng dalam pembangunan fasilitas publik. Menurutnya, hal ini penting untuk menjaga identitas daerah agar tidak kalah dikenal dibandingkan gaya ukiran dari daerah lain di Bali.
“Biar tidak hanya dikenal ukiran Bali Selatan atau Gianyar saja, padahal Buleleng punya gayanya tersendiri dan tidak kalah estetik, ini jati diri daerah yang harus terus digaungkan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Kawasan Permukiman (PU-Perkim) Buleleng, I Putu Adiptha Ekaputra, menegaskan penggunaan ornamen dan material lokal menjadi bagian penting dalam setiap penataan kawasan.
Penegasan identitas daerah diwujudkan melalui pemanfaatan batu paras abasan serta ornamen khas Buleleng.
“Kita harus mengembalikan jati diri sebagai orang Buleleng,” ujarnya.
Penerapan ukiran khas ini kini mulai terlihat di sejumlah titik strategis kawasan kota, seperti pagar DPRD, rumah jabatan, Gedung Laksmi Graha, hingga area depan Kantor Bupati Buleleng yang masih dalam tahap pengerjaan. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya