SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Rangkaian Hari Raya Waisak 2570 BE diwarnai kegiatan spiritual bertajuk Indonesia Walk for Peace 2026.
Sebanyak 50 bhikkhu dari tiga negara memulai perjalanan suci dari Brahmavihara Arama atau Vihara Banjar, Kabupaten Buleleng, menuju Candi Borobudur, Jawa Tengah.
Mereka memulai perjalanannya pada Sabtu (9/5/2026). Para bikkhu diharapkan bisa sampai di Borobudur pada Rabu (28/5/2026) mendatang.
Para bikkhu dilepas oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, KH. Romo R. Muhammad Syafi’i; Dirjen Bimas Buddha, Supriyadi; serta Gubernur Bali, Wayan Koster.
Perjalanan damai ini menempuh jarak sekitar 600 kilometer dengan estimasi perjalanan harian mencapai 30 hingga 40 kilometer.
Para bhikkhu dijadwalkan berjalan kaki melintasi Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta, sebagai simbol penyebaran pesan perdamaian dan toleransi.
Ketua Panitia Indonesia Walk for Peace 2026, Tosin, mengatakan seluruh peserta mendapatkan pengawasan kesehatan ketat selama perjalanan berlangsung.
Menurutnya, mitigasi risiko menjadi perhatian utama panitia mengingat perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan.
“Kami ini punya mitigasi risiko sangat tinggi. Para bhikkhu yang berjalan ini hari Kamis (7/5/2026) datang ke Bali. Kemarin (Jumat) paginya itu mereka diukur kesehatan, riwayat-riwayatnya bagaimana. Pengukuran ini bukan satu tempat saja. nanti di Jawa Timur, tepatnya di Surabaya akan ada pemeriksaan kesehatan lagi, dan titik akhir di Jawa Tengah ada lagi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemeriksaan kesehatan dilakukan secara berkala untuk memastikan kondisi seluruh peserta tetap aman selama perjalanan.
“Kalau memang riwayatnya tidak bagus, tentu ya terpaksa kita sampaikan apa adanya. Sejauh ini apa yang disampaikan bagian dari medis, tidak ada catatan yang tinggi,” katanya.
Selain pemeriksaan kesehatan, panitia juga menyiapkan berbagai langkah antisipasi lain, mulai dari cuaca hingga fasilitas pendukung selama perjalanan.
“Tapi di luar itu, karena perjalanan ini jauh, mitigasi yang lain kita juga jaga, termasuk cuaca dan sebagainya. Ada bagian mobil pendingin supaya tidak kepanasan gitu loh,” imbuh Tosin.
Menariknya, sebagian besar bhikkhu yang mengikuti perjalanan ini merupakan peserta baru. Bahkan, beberapa di antaranya tidak bisa berbahasa Indonesia.
Tosin menyebut Bali dipilih sebagai titik awal perjalanan karena dinilai memiliki nilai toleransi dan kebersamaan yang kuat. Sambutan masyarakat Bali terhadap kegiatan ini pun disebut sangat luar biasa.
“Tahun ini kami memilih Bali karena sangat terkenal dengan kemajuan, toleransi, kebersamaan, ya tempat ini memang tempat yang sangat bagus sekali. Walaupun umat Buddhisnya terbatas, tapi sambutan yang ada di Bali ini sangat-sangat luar biasa. Semua elemen bukan hanya dari komunitas Buddhis, lintas agama, bahkan pemerintah itu semua support,” katanya.
Selama perjalanan, para bhikkhu akan beristirahat di lokasi yang telah disiapkan panitia. Mereka disebut lebih banyak tinggal di vihara, tempat terbuka atau hall sederhana sebagai bagian dari perjalanan spiritual.
Total peserta Indonesia Walk for Peace 2026 mencapai 50 orang. Rinciannya, 43 bhikkhu berasal dari Thailand, empat dari Malaysia, dan tiga dari Laos.
Sejumlah bhikkhu dari Indonesia juga disebut akan ikut bergabung di beberapa titik perjalanan.
“Harapan kami justru banyak biksu lokal bergabung sehingga menjadi kebersamaan. Yang ingin kami sampaikan bahwa jalan damai ini bukan hanya orang tertentu, tapi kita semua bisa berkontribusi. Setiap langkah yang kita lakukan itu ada memberikan kedamaian,” ungkap Tosin.
Secara teknis, perjalanan terjauh dalam rute tersebut yakni dari Desa Sanggalangit menuju Vihara Empu Astapaka Gilimanuk dengan jarak mencapai 48 kilometer.
Sementara itu, Wakil Menteri Agama, KH. Romo R. Muhammad Syafi’i mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai bagian dari praktik nyata ajaran agama yang membawa pesan perdamaian dan toleransi.
Ia menilai kerukunan yang selama ini terbangun di Indonesia lahir dari pelaksanaan ajaran agama yang baik oleh masing-masing umat beragama.
“Mereka melaksanakan agamanya, maka kita hidup dengan penuh kedamaian, dengan penuh toleransi. Yang kemudian dikuatkan oleh pemerintah dengan politik toleransi,” katanya.
Menurutnya, dukungan berbagai kepala daerah dengan latar belakang agama berbeda terhadap kegiatan ini menjadi bukti seluruh agama mengajarkan nilai perdamaian, kasih sayang, dan persaudaraan. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya