SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Ajang Singaraja Literary Festival (SLF) kembali membuka ruang bagi lahirnya talenta sastra baru dari Indonesia Timur.
Sebanyak 13 orang penulis cerpen dari kawasan Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur lolos dalam program Emerging Writers 2026 yang digelar SLF berkolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Lab dan Presentasi.
Para penulis terpilih berasal dari berbagai latar dan daerah. Dari Bali ada Agus Wiratama, I Gede Aries Pidrawan, I Made Sugianto, Lina PW, Nityasa Wijaya, dan Puspa Seruni.
Sementara dari Nusa Tenggara Barat terdapat Bunga Damai Prasasti, Eyok El Abrorii, Intan Soraya, dan Novita Hidayani.
Sedangkan dari Nusa Tenggara Timur ada Beatrix Polen Aran, Lisa Pingge, dan Mariemon Simon.
Mereka terpilih setelah melalui proses kurasi ketat oleh tiga kurator sastra, yakni Royyan Julian, Kiki Sulistyo, dan Maria Pankratia.
Founder SIngaraja Literary Festival, Made Adnyana Ole mengatakan, para peserta yang lolos tidak hanya mendapatkan kesempatan pengembangan karya, tetapi juga difasilitasi langsung oleh Kementerian Kebudayaan untuk hadir dan mempresentasikan karya mereka dalam rangkaian SLF 2026.
Program ini mendapat antusiasme besar dari para penulis muda di kawasan Bali dan Nusa Tenggara.
Ole mengungkapkan, ada 65 orang penulis yang mengirimkan ratusan cerpen dan premis cerpen untuk diseleksi.
Dalam proses penjurian, para kurator mempertimbangkan sejumlah aspek penting. Mulai dari kematangan bahasa, kekuatan mengolah tema, kebaruan sudut pandang, hingga membuka akses bagi penulis pemula yang potensial.
Royyan Julian, misalnya, memberi perhatian besar pada kualitas bahasa sebagai alat utama dalam penulisan cerpen. Selain itu, orisinalitas karya juga menjadi pertimbangan utama dalam proses seleksi.
Sementara Kiki Sulistyo menilai kemampuan mengeksplorasi tema dengan sudut pandang segar menjadi kekuatan penting dalam sebuah cerita pendek.
Di sisi lain Direktur Singaraja Literary Festival, Kadek Sonia Piscayanti menjelaskan, kurator Maria Pankratia turut menekankan pentingnya membuka ruang bagi penulis baru agar memiliki kesempatan berkembang.
“Pertimbangan dari Maria Pankratia lebih kepada pertimbangan bahasa dan orisinalitas, akses kepada penulis pemula juga menjadi penting. Pemberian akses kepada penulis yang tepat akan memberikan dampak luar biasa,” jelas Sonia.
Program MTN Lab dan Presentasi sendiri merupakan bagian dari MTN Seni Budaya, salah satu program prioritas nasional Kementerian Kebudayaan RI.
Program tersebut bertujuan menjaring, mengembangkan, sekaligus mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara berkelanjutan.
Melalui kolaborasi bersama SLF, program Emerging Writers diharapkan menjadi ruang penciptaan sekaligus pengembangan karya sastra yang mampu menghadirkan gagasan-gagasan baru dari Bali, NTB, dan NTT.
SLF sendiri dikenal sebagai festival sastra yang menjembatani naskah-naskah lama dengan ide-ide baru masa kini. Festival ini berpusat di Kabupaten Buleleng, Bali.
Tahun ini, SLF mengusung pengembangan tema “Stri Sasana” menjadi “Energi Keseimbangan Semesta”, yang memberi ruang interpretasi lebih luas dalam dunia sastra dan kebudayaan. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya