Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Di Tiongkok, Uang Tunai Seperti Mulai Ditinggalkan

Eka Prasetya • Selasa, 26 Mei 2026 | 04:18 WIB
CASHLESS: Mesin penjual otomatis di Beijing Capital Airport. Nyaris seluruh transaksi di Tiongkok dilakukan secara non tunai alias cashless lewat aplikasi WeChat Pay dan Alipay. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
CASHLESS: Mesin penjual otomatis di Beijing Capital Airport. Nyaris seluruh transaksi di Tiongkok dilakukan secara non tunai alias cashless lewat aplikasi WeChat Pay dan Alipay. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya. 

MEMEGANG uang tunai di Tiongkok rasanya seperti membawa barang “cadangan”. Ada, tapi nyaris tak terpakai. 

Dalam beberapa hari pertama saya berada di negeri Tirai Bambu, satu hal yang langsung terasa mencolok adalah cara masyarakatnya bertransaksi.

Semua serba digital. Mau beli kopi, naik transportasi, belanja di minimarket, bahkan jajan di kaki lima, semuanya cukup lewat ponsel.

Di Indonesia, termasuk Bali, masyarakat masih dalam masa transisi menuju sistem pembayaran non tunai. 

QRIS memang mulai masif digunakan, tetapi uang cash tetap jadi “penyelamat” dalam banyak situasi. 

Di Tiongkok, kondisinya jauh berbeda. Transaksi cashless sudah seperti budaya sehari-hari.

Dua aplikasi menjadi “penguasa” pembayaran digital di sana: AliPay dan WeChat Pay.

AliPay merupakan layanan finansial digital yang berafiliasi dengan Alibaba Group milik Jack Ma. 

Sedangkan WeChat Pay berada di bawah Tencent Holding, perusahaan teknologi raksasa yang juga mengembangkan aplikasi WeChat.

Kalau di Indonesia orang mengenal Dana, OVO, atau GoPay sebagai dompet digital, maka WeChat sudah naik level menjadi super app. 

Satu aplikasi bisa dipakai untuk chatting, transfer uang, membayar makanan, membeli tiket, hingga hiburan.

Saking dominannya kedua aplikasi itu, mobile banking milik bank-bank pemerintah di Tiongkok justru kalah populer. 

Masyarakat lebih memilih menghubungkan kartu debit maupun kartu kredit mereka langsung ke AliPay atau WeChat Pay.

Sebelum berangkat ke Tiongkok, staf Konsulat Jenderal Tiongkok di Denpasar sudah mewanti-wanti saya untuk mengunduh kedua aplikasi tersebut. 

Awalnya saya pikir semuanya akan mudah. Tinggal install aplikasi, hubungkan kartu, lalu selesai.

Ternyata tidak sesederhana itu.

Saya harus mengganti kartu debit dari sistem Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) menjadi Mastercard agar bisa terhubung dengan aplikasi pembayaran di Tiongkok. 

Setelah proses pergantian kartu selesai, saya masih harus menunggu lebih dari 24 jam sampai kartu benar-benar tersambung dengan AliPay dan WeChat Pay.

Ketika akhirnya berhasil terkoneksi, saya sempat lega. Saya pikir persoalan selesai.

Namun kenyataan berkata lain.

Setibanya di Bandara Shanghai Pudong, saya mencoba membeli minuman ringan menggunakan kartu debit Mastercard dari salah satu bank BUMN Indonesia. Gagal. Transaksi ditolak.

Saya lalu mencoba alternatif lain menggunakan QRIS. Barcode sudah saya tunjukkan, proses scan juga dilakukan. Hasilnya tetap nihil.

Entah masalah sistem, jaringan, atau memang ada kendala lain, yang jelas transaksi tetap tak bisa berjalan.

Saya mencoba membayar menggunakan uang cash. Kebetulan saya membawa dua lembar uang pecahan seratus yuan. Kasir menolak, alasannya tak punya kembalian.

Beruntung, sebelum berangkat saya sudah mengisi saldo AliPay sekitar 1.000 yuan atau setara Rp 2,5 juta. 

Saldo “darurat” itulah yang akhirnya menjadi penyelamat selama hari-hari awal di Tiongkok.

Agar lebih praktis, saya kemudian memutuskan membuka rekening bank lokal di Tiongkok. 

Prosesnya ternyata juga tidak instan. Butuh sekitar tiga hari kerja hingga rekening khusus warga negara asing aktif.

Syaratnya pun cukup ketat. Selain paspor, warga asing wajib memiliki nomor telepon Tiongkok.

Begitu rekening aktif, dolar yang saya bawa dari Indonesia langsung ditukar menjadi yuan dan seluruhnya dimasukkan ke rekening tersebut. Kartu debit dari bank lokal kemudian saya hubungkan ke AliPay dan WeChat Pay.

Dan hasilnya langsung terasa. Semua transaksi mendadak jadi sangat mudah.

Mau bayar makan tinggal scan barcode. Mau kirim uang cukup masukkan nomor telepon atau scan QR code. Tidak ada lagi repot menghitung uang receh atau menunggu kembalian.

Yang paling menarik, sistem pembayaran digital ini bukan cuma dipakai pusat perbelanjaan modern. Pedagang kaki lima pun sudah terbiasa menggunakan AliPay dan WeChat Pay.

Bahkan di area kampus Renmin University of China, tempat saya tinggal selama program CIPCC, kantin-kantin kampus lebih sering melayani pembayaran digital dibanding uang tunai.

Bukan berarti uang cash benar-benar hilang. Masih ada yang menggunakannya. Hanya saja, transaksi tunai dianggap kurang praktis.

“Cuma untuk ngasih kembalian agak lama. Perlu waktu untuk cari tukar atau uang kecil mungkin,” cerita Nadia Ayu Soraya, wartawan Metro TV yang juga peserta program CIPCC.

Di Tiongkok, kecepatan dan kemudahan tampaknya menjadi segalanya. Dan ponsel kini bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan dompet utama masyarakatnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#beijing #bali #tiongkok #cashless #buleleng