Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Berkunjung Yellow Mountain, Serasa Masuk ke Dunia Kungfu Panda

Eka Prasetya • Minggu, 31 Mei 2026 | 09:42 WIB
GUGUSAN PEGUNUNGAN: Wisatawan saat mengunjungi gugusan pegunungan Yellow Mountain di Kota Huangshan, Provinsi, Anhui, Tiongkok. Gugusan pegunungan ini merupakan ikon pariwisata di Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
GUGUSAN PEGUNUNGAN: Wisatawan saat mengunjungi gugusan pegunungan Yellow Mountain di Kota Huangshan, Provinsi, Anhui, Tiongkok. Gugusan pegunungan ini merupakan ikon pariwisata di Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.  

PAGI itu, Jumat (30/5/2026) udara di Kota Huangshan, Provinsi Anhui, Tiongkok, terasa sejuk menusuk kulit. Kabut tipis menggantung di antara gugusan pegunungan yang menjulang tinggi. 

Pemandangan seperti ini langsung mengingatkan saya pada Kintamani di Bali. Bedanya, di sini tak ada kaldera maupun gunung berapi. Yang tampak hanyalah deretan tebing granit dan puncak-puncak gunung yang menjulang.

Berada di Kota Huangshan rasanya belum lengkap jika belum menginjakkan kaki di Yellow Mountain atau Gunung Huangshan. 

Inilah destinasi wisata yang menjadi kebanggaan masyarakat Tiongkok sekaligus salah satu ikon wisata alam paling terkenal di negeri tirai bambu.

Kawasan wisata Gunung Huangshan memiliki luas lebih dari 150 kilometer persegi. Lokasinya berada di bagian selatan Provinsi Anhui. 

Keindahan alamnya bahkan membuat UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Budaya dan Alam Dunia. Tak hanya itu, kawasan ini juga menyandang status Taman Geologi Dunia dan Cagar Biosfer Dunia.

Meski begitu, tidak semua area dapat dikunjungi wisatawan. Dari total kawasan yang ada, hanya sekitar 15 persen yang dibuka untuk publik. Sisanya merupakan area konservasi yang dijaga ketat pemerintah Tiongkok.

“Gunung ini sangat penting bagi pemerintah dan masyarakat Tiongkok. Kalau ingin melihat lokasi di luar kawasan wisata, harus ada izin dari Beijing,” ujar Louis, pemandu yang mendampingi perjalanan kami hari itu.

Sejak tiba di kawasan wisata, saya langsung memahami mengapa Yellow Mountain begitu istimewa. Bus-bus wisata berjejer panjang menunggu giliran masuk area parkir. 

Ribuan orang datang setiap hari untuk menikmati panorama yang selama berabad-abad menginspirasi pelukis, penyair, hingga sineas Tiongkok.

Untuk menghemat tenaga, saya memilih menggunakan gondola. Dari atas kabin yang bergerak perlahan, hamparan pegunungan Huangshan terlihat seperti lukisan yang terasa nyata.

Tebing-tebing batu menjulang dari lautan awan, sementara pepohonan pinus tumbuh menempel di celah-celah batu yang tampak mustahil dihuni tumbuhan.

Harga tiket masuk kawasan wisata ini tergolong terjangkau bagi warga Tiongkok, yakni 190 yuan atau sekitar Rp 500 ribu. Sementara tiket gondola dibanderol 90 yuan atau sekitar Rp 234 ribu. 

Namun sebagian besar wisatawan memilih paket wisata lengkap seharga 400 yuan yang sudah mencakup tiket masuk, transportasi bus, gondola, dan pemandu wisata.

Bagi pecinta petualangan, tersedia jalur pendakian sepanjang sekitar 18 kilometer yang dapat ditempuh selama satu hari penuh. 

Jalur itu menawarkan pengalaman berbeda karena wisatawan bisa menikmati setiap sudut keindahan pegunungan secara lebih dekat. Mulai dari kaki pegunungan hingga puncak.

Popularitas Yellow Mountain memang luar biasa. Pada hari kerja, jumlah pengunjung bisa mencapai 15 ribu orang per hari. Saat akhir pekan jumlahnya melonjak hingga dua kali lipat. 

Bahkan ketika musim libur nasional, kunjungan wisatawan dapat mendekati 50 ribu orang dalam sehari.

“Kalau sudah membeludak, otoritas di sini akan membatasi kunjungan supaya tidak terlalu padat dan tidak membahayakan pengunjung,” jelas Louis.

Sepanjang Januari hingga April 2026 saja, Yellow Mountain telah menerima sekitar 18 juta kunjungan wisatawan. 

Sebagian besar merupakan wisatawan domestik, meskipun tidak sedikit wisatawan mancanegara yang datang untuk melihat langsung keajaiban alam tersebut.

Di antara sekian banyak spot wisata, Guest Greeting Pine atau Pohon Pinus Penyambut Tamu menjadi lokasi yang paling ramai dikunjungi.

Pohon pinus yang tumbuh di tepi tebing itu telah menjadi simbol Gunung Huangshan. Bentuknya unik, dengan salah satu ranting menjulur ke samping menyerupai tangan yang sedang menyambut kedatangan tamu.

Usianya diyakini telah melampaui satu abad. Karena nilai historis dan simboliknya yang tinggi, pemerintah Tiongkok memberikan perlakuan khusus terhadap pohon tersebut. 

Ranting-rantingnya ditopang menggunakan penyangga khusus, batangnya diperkuat dengan kabel, dan seorang petugas ditugaskan merawatnya selama 24 jam penuh. Kamera CCTV dipasang di berbagai arah untuk memantau kondisi pohon.

Salah satu penjaga pohon itu adalah Hu Xiaochun. Dengan penuh kebanggaan ia menceritakan pekerjaannya menjaga ikon Huangshan tersebut.

“Dengan kondisi alam yang ekstrem, pohon di area ini hanya bisa tumbuh maksimal satu sentimeter per tahun. Ini kehormatan bagi saya menjaga pohon ini. Karena pohon pinus ini sudah menjadi simbol bagi daerah ini. Kami merawatnya sepenuh hati, seperti kami menjaga anggota keluarga sendiri,” katanya.

Selain Guest Greeting Pine, wisatawan biasanya memburu dua titik lain yang tak kalah ikonik. 

Pertama adalah Lianhua Feng atau Lotus Peak, puncak tertinggi di kawasan Huangshan dengan ketinggian 1.864 meter di atas permukaan laut.

Kedua adalah Tiandu Feng atau Celestial Capital Peak. Meski "hanya" memiliki ketinggian 1.810 meter, lokasi ini justru dikenal sebagai jalur paling ekstrem dan menantang.

Menurut Louis, masyarakat setempat memiliki ungkapan unik tentang puncak tersebut.

“Menurut masyarakat di sini, bahkan burung tidak ada yang mau terbang ke sana, monyet pun tidak mau berada di sana karena saking terjal. Tapi justru itu yang membuatnya menantang. Di beberapa titik, pendaki bahkan harus seperti merangkak untuk mencapai puncak,” ujarnya sambil tertawa.

Di tengah perjalanan, pikiran saya tiba-tiba melayang ke sebuah film animasi yang sangat akrab di rumah. 

Saat melihat puncak-puncak batu yang menjulang di antara awan, saya langsung teringat pada Kungfu Panda, film favorit putra saya.

Entah mengapa, lanskap Yellow Mountain terasa begitu mirip dengan latar Istana Giok tempat Po si panda berlatih kungfu. 

Tebing-tebing tinggi, lautan awan, dan pepohonan pinus yang tumbuh di atas batu membuat saya merasa seperti sedang berada di dalam salah satu adegan film tersebut.

Pengalaman itu semakin berkesan ketika saya bertemu dua pemuda Indonesia, Fadil dan Noura, asal Samarinda, Kalimantan Timur. 

Keduanya telah tinggal di Tiongkok sejak Oktober 2025 dan tengah mempersiapkan diri untuk kuliah sambil mengikuti kursus Bahasa Mandarin.

Meski tinggal di Hefei, ibu kota Provinsi Anhui, kunjungan ke Yellow Mountain juga menjadi pengalaman pertama bagi mereka.

“Kebetulan ada acara juga di Huangshan. Jadi sekalian mampir. Memang tempatnya bagus banget, nggak tergantikan dengan tempat lain,” kata Fadil.

Menjelang sore, pengunjung perlahan mulai berkurang. Sembari menyesap teh di area Guest Greeting Pine, saya pun memahami mengapa masyarakat Tiongkok menempatkan Yellow Mountain pada posisi yang begitu istimewa.

Ada sebuah pepatah klasik Tiongkok yang berbunyi: “Setelah melihat Huangshan, seseorang tidak perlu lagi melihat gunung lain di Tiongkok.”

Mungkin terdengar berlebihan. Namun setelah berdiri langsung di hadapan gugusan pegunungan itu, saya mulai percaya bahwa pepatah tersebut tidak lahir tanpa alasan. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#bali #gunung #tiongkok #buleleng #pegunungan