Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Belajar Mandarin di Beijing: Saat Kelas Bahasa Berubah Jadi Ujian Menahan Lapar

Eka Prasetya • Sabtu, 6 Juni 2026 | 04:59 WIB
BELAJAR BAHASA MANDARIN: Suasana saat para jurnalis dari Asia Pasifik dan Eropa mempelajari Bahasa Mandarin di Renmin University of China. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
BELAJAR BAHASA MANDARIN: Suasana saat para jurnalis dari Asia Pasifik dan Eropa mempelajari Bahasa Mandarin di Renmin University of China. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

ADA satu pelajaran yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya saat mengikuti kelas Bahasa Mandarin di Beijing. 

Bukan soal sulitnya menghafal karakter Hanzi. Bukan pula bagaimana mengucapkan nada yang tepat agar maknanya tidak berubah. 

Pelajaran itu adalah: jangan belajar kosakata makanan saat perut sedang tidak siap.

Setelah seminggu penuh beraktivitas di Provinsi Anhui, saya bersama para jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) kembali ke Beijing. 

Aktivitas kami pun kembali berpusat di kampus Renmin University of China (RUC), salah satu universitas ternama di ibu kota Tiongkok.

Agenda yang disiapkan cukup padat. Mulai dari berdiskusi dengan jurnalis Chinese Global Television Network (CGTN), berlatih Tai Chi, mengunjungi Tembok Besar Tiongkok, hingga mengikuti kelas Bahasa Mandarin yang selalu menjadi salah satu kegiatan paling dinanti.

Kamis (4/6/2-26) siang itu, kami kembali duduk di bangku kelas. Jika dua pekan sebelumnya belajar bersama jurnalis dari kawasan Karibia, kali ini peserta dari Asia Pasifik digabung dengan rekan-rekan jurnalis asal Eropa.

Suasana kelas pun sedikit berbeda.

Biasanya kami belajar di ruang kelas lantai lima Gedung Lide yang berada di sisi timur kampus RUC. Namun kali ini kelas dipindahkan ke lantai 10. 

Pemandangan Kota Beijing dari balik jendela terlihat lebih luas. Tetapi fokus kami segera beralih ketika seorang guru muda bernama Pi Jian Xuan mulai memperkenalkan tema pelajaran hari itu.

Makanan.

Sejak awal, Jian Xuan menjelaskan bahwa tujuan pembelajaran kali ini sangat sederhana. Ia ingin para peserta mampu memesan makanan sendiri dalam Bahasa Mandarin.

“Saya ingin anda semua nanti bisa lancar memesan dan memilih makanan,” ujarnya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun setelah beberapa menit pelajaran berlangsung, kami mulai menyadari tantangan yang sebenarnya.

Satu per satu kosakata makanan diperkenalkan. Ada jiaozi untuk pangsit. Huo guo untuk hot pot. Dou fu yang berarti tahu. Mi fan untuk nasi. Hingga ke le, sebutan untuk minuman bersoda.

Setiap kata diucapkan berulang-ulang. Kami diminta menirukan pelafalan, menghafal arti, lalu menggunakannya dalam percakapan sederhana.

Masalahnya, semakin banyak kata yang dipelajari, semakin aktif pula imajinasi bekerja.

Di kepala saya mulai terbayang semangkuk hot pot hangat dengan kuah mengepul dan rasa pedas yang menggoyang lidah. 

Lalu sepiring pangsit yang baru diangkat dari kukusan. Disusul nasi hangat yang menemani berbagai hidangan khas Tiongkok.

Padahal sebelum masuk kelas, saya sudah membeli camilan sebagai langkah antisipasi.

Ternyata itu tidak cukup.

Rasa lapar datang lebih cepat daripada kemampuan saya menghafal kosakata baru.

Untuk membuat suasana lebih hidup, Jian Xuan kemudian mengajak kami bermain peran. Sebagian peserta menjadi pembeli, sebagian lagi menjadi pelayan restoran.

Saya memilih menjadi pelayan.

Entah kenapa, posisi itu terasa lebih nyaman dibanding harus menjadi pelanggan yang memesan makanan dalam bahasa yang masih asing di telinga.

Dalam simulasi tersebut kami belajar bagaimana menawarkan menu, menanyakan pilihan makanan, hingga memberikan tagihan kepada pelanggan. 

Aktivitas sederhana yang ternyata cukup membantu memahami penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

Namun efek sampingnya semakin terasa.

Semakin lama membicarakan makanan, semakin keras pula perut memprotes.

Ternyata saya tidak sendirian.

Di sela-sela kelas, Saurabh Kumar Shahi, jurnalis asal India yang duduk tak jauh dari saya, mengaku mengalami hal serupa.

“Setelah dari kelas sepertinya saya harus ke food court. Terlalu banyak bicara makanan membuat perut saya lapar,” ujarnya sambil tertawa.

Saya hanya bisa mengangguk setuju.

Hari itu saya belajar bahwa Bahasa Mandarin bukan sekadar soal tata bahasa atau pelafalan. 

Ada kalanya pelajaran bahasa juga menjadi perjalanan rasa. 

Dan ketika topiknya makanan, ujian terberat justru bukan menghafal kosakata. Melainkan menahan keinginan untuk segera mencari sesuatu yang bisa dimakan begitu kelas berakhir. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#beijing #bahasa mandarin #makanan #tiongkok #buleleng