Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
Ada satu hal yang langsung terasa begitu memasuki Zizai Valley di Yi County, Kota Huangshan, Provinsi Anhui, Tiongkok. Keheningan.
Tak ada hiruk-pikuk rombongan wisatawan yang berdesakan untuk berfoto. Tak ada deretan kios souvenir yang memaksa pengunjung berhenti setiap beberapa meter.
Yang terdengar hanya desir angin yang menyapu perbukitan, suara langkah kaki di lorong-lorong batu, dan sesekali kicau burung dari balik pepohonan.
Di sinilah Tiongkok sedang menunjukkan arah baru pengembangan pariwisatanya.
Negeri Tirai Bambu itu perlahan meninggalkan konsep pariwisata massal. Sebagai gantinya, mereka mulai mengembangkan wisata yang lebih personal, eksklusif, dan berorientasi pada kesehatan fisik maupun mental atau yang kini populer disebut wellness tourism.
Salah satu contoh paling menarik adalah Zizai Valley di Provinsi Anhui, Tiongkok.
Kawasan ini bukan destinasi wisata yang dibangun dari nol. Sebaliknya, ia tumbuh dari sebuah desa kuno yang diyakini telah berusia lebih dari 1.300 tahun.
Puluhan rumah tua yang masih berdiri di lembah itu bahkan diperkirakan berumur lebih dari 400 tahun.
Berjalan di antara bangunan-bangunan tersebut serasa melintasi lorong waktu. Dinding batu, tanah liat, balok kayu tua, dan arsitektur tradisional Tiongkok masih dipertahankan sebagaimana bentuk aslinya.
Namun jangan terkecoh dengan penampilan luarnya.
Di balik tembok-tembok tua itu tersimpan kenyamanan setara hotel berbintang.
Kamar-kamar yang hangat, fasilitas modern, restoran, ruang workshop, hingga area relaksasi menyatu tanpa merusak karakter asli bangunan.
Yang paling menarik, tidak ada kesan kumuh ataupun lembap sebagaimana yang sering melekat pada bangunan berusia ratusan tahun. Semuanya terasa hidup, nyaman, sekaligus autentik.
Kisah transformasi desa tua ini bermula pada 2013.
General Manager Zizai Valley, Chen Lin, mengaku pertama kali menemukan kawasan tersebut secara tidak sengaja saat melakukan aktivitas hiking di kawasan perbukitan Huangshan.
Saat itu akses menuju desa sangat sulit. Pengunjung harus berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer menembus kawasan hutan.
Ketika tiba, Chen menemukan sebuah desa yang seolah tertinggal oleh waktu. Rumah-rumah tua masih berdiri kokoh, tetapi sebagian besar penghuninya hanyalah para lansia.
“Saat saya datang memang hanya ada lansia yang tinggal. Anak-anak mereka pergi ke kota untuk bekerja,” katanya.
Fenomena itu sebenarnya tidak berbeda jauh dengan yang terjadi di banyak kawasan pedesaan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Generasi muda pergi mencari pekerjaan di kota, sementara desa perlahan kehilangan penghuninya.
Namun Chen melihat sesuatu yang berbeda.
Ia tidak melihat desa tua yang menua dan ditinggalkan. Ia melihat warisan budaya yang masih memiliki masa depan.
Chen kemudian mengambil alih kawasan tersebut dan memberikan kompensasi kepada para penghuni. Para lansia dipindahkan ke kawasan yang lebih dekat dengan keluarga mereka.
Sejak saat itu dimulailah proyek restorasi besar-besaran.
Selama satu dekade terakhir, setiap bangunan dipugar dengan pendekatan yang sangat hati-hati.
Bagian luar rumah dipertahankan sedekat mungkin dengan bentuk aslinya, sementara interiornya disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan modern.
Hasilnya, kini terdapat 39 rumah yang difungsikan sebagai akomodasi wisata.
Namun menariknya, Zizai Valley tidak mengejar jumlah kunjungan sebanyak-banyaknya.
Mereka justru membatasi diri.
“Kami mengembangkan konsep pariwisata wellness, bagaimana pengunjung bisa merasakan pengalaman yang benar-benar personal. Sehingga mereka bisa merasa lebih fresh lagi setelah berkunjung ke tempat ini,” ungkap Chen.
Sebagai pebisnis, Chen sebenarnya bisa memilih jalan yang lebih mudah. Merobohkan seluruh bangunan tua, lalu menggantinya dengan deretan vila mewah yang mungkin lebih menguntungkan.
Namun baginya, pengalaman yang dicari wisatawan modern bukan lagi sekadar kemewahan.
“Kehidupan rural di kawasan pedesaan merupakan akar kehidupan masyarakat Tiongkok. Sehingga saya berusaha sebisa mungkin melakukan restorasi bangunan untuk melestarikannya,” imbuhnya.
Di tengah geliat pembangunan modern Tiongkok, Zizai Valley menjadi bukti bahwa masa depan pariwisata tidak selalu harus dibangun dengan beton baru. Kadang justru lahir dari keberanian merawat yang lama.
Pengalaman berada di Zizai Valley membuat pikiran saya melayang jauh ke Bali Utara.
Ke sejumlah desa Bali Aga seperti Pedawa, Julah, dan Sembiran yang hingga kini masih menyimpan rumah-rumah adat berusia ratusan tahun. Bangunan yang selama ini lebih sering dipandang sebagai bangunan tua semata.
Padahal, rumah-rumah itu sesungguhnya memiliki potensi yang jauh lebih besar.
Konsep yang diterapkan di Zizai Valley mungkin layak menjadi inspirasi. Bentuk luar rumah adat tetap dipertahankan, nilai budayanya tetap dijaga, sementara bagian dalamnya dapat diadaptasi menjadi akomodasi yang nyaman bagi wisatawan.
Dengan begitu, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat bangunan tua dari kejauhan.
Mereka bisa tinggal, merasakan, dan mengalami langsung kehidupan masyarakat adat yang sesungguhnya.
Jika itu bisa diwujudkan, rumah-rumah adat Bali Aga tak lagi hanya menjadi objek foto atau pajangan budaya.
Mereka bisa hidup kembali sebagai bagian dari masa depan pariwisata Bali yang lebih berkualitas, berkelanjutan, dan berkarakter.
Dan mungkin, seperti yang terjadi di sebuah lembah sunyi berusia 1.300 tahun di Tiongkok, masa depan itu justru berawal dari keberanian menjaga masa lalu. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya