Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
Ada satu pemandangan yang hampir mustahil dilewatkan saat menyusuri kawasan pegunungan di Kota Huangshan, Provinsi Anhui, Tiongkok.
Hamparan hijau membentang di berbagai sudut perbukitan. Sebagian berupa hutan bambu yang rimbun, sebagian lagi merupakan kebun teh yang telah menjadi denyut kehidupan masyarakat setempat selama ratusan tahun.
Di kawasan inilah teh bukan sekadar minuman pelepas dahaga. Teh adalah budaya. Teh adalah tradisi.
Bahkan, bagi banyak keluarga di Tiongkok, teh merupakan bagian dari identitas yang diwariskan lintas generasi.
Keterikatan masyarakat Tiongkok dengan teh sudah berlangsung selama berabad-abad.
Dari lingkungan istana hingga rumah-rumah sederhana di pedesaan, teh selalu hadir dalam berbagai momen penting kehidupan.
Jejak panjang itu salah satunya dapat ditemukan di Xie Yuda, salah satu merek teh legendaris yang lahir di Huangshan.
Produk ini pertama kali dipasarkan pada 1875 di Shanghai dan hingga kini tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Bisnis keluarga tersebut bahkan telah diwariskan selama enam generasi.
Kesempatan mengenal lebih dekat sejarah panjang itu datang saat para jurnalis Asia Pasifik peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) mengunjungi pusat budaya dan wisata teh Xie Yuda di Distrik Huizhou, Anhui.
Begitu memasuki kawasan tersebut, suasananya jauh dari kesan pabrik modern yang kaku.
Hamparan kebun teh berpadu dengan bangunan bernuansa tradisional menciptakan atmosfer yang tenang dan menenangkan.
Pusat budaya yang dibuka pada Oktober 2017 itu berdiri di atas lahan seluas 133 hektare.
Sekitar 80 hektare di antaranya merupakan perkebunan teh. Sisanya dikembangkan menjadi berbagai fasilitas edukasi dan wisata, mulai museum budaya teh, taman sains dan teknologi industri teh, taman budaya integritas teh, hingga area rekreasi publik.
Di tempat ini, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati secangkir teh. Mereka diajak memahami perjalanan panjang sehelai daun teh sejak dipetik dari kebun hingga tersaji di meja.
Pengunjung bisa melihat koleksi sejarah, mengikuti proses pengolahan teh, mencicipi berbagai jenis teh, hingga mempelajari filosofi yang menyertainya.
"Pada masa lalu, teh hanya dinikmati kalangan bangsawan dan lingkungan istana," ujar Xu Jimiao, Kurator Museum Budaya Teh Xie Yuda.
Namun, seiring perkembangan zaman, budidaya teh mulai diperkenalkan kepada masyarakat luas. Produksi diperbesar dan kemasan dibuat lebih sederhana sehingga teh dapat dinikmati oleh semua kalangan.
"Sehingga masyarakat umum bisa menikmati teh. Sampai sekarang teh menjadi keseharian masyarakat Tiongkok," lanjutnya.
Di Tiongkok, teh memiliki posisi yang jauh lebih penting dibanding sekadar minuman pendamping makan.
Dalam berbagai acara resmi, pertemuan keluarga, hingga jamuan makan malam, teh hampir selalu tersedia. Kehadirannya menjadi simbol penghormatan kepada tamu sekaligus bentuk keramahan tuan rumah.
Lebih dari itu, teh juga menyatu dengan berbagai ritual keluarga.
Salah satu tradisi yang masih dijaga hingga kini adalah upacara minum teh sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Ritual tersebut biasanya dilakukan ketika ada anggota keluarga baru yang lahir.
Di depan altar keluarga, secangkir teh dipersembahkan sebagai simbol penghormatan kepada para pendahulu sekaligus pemberitahuan bahwa keluarga tersebut bertambah satu anggota baru.
"Upacara ini menjadi simbol penghormatan, sekaligus penyampaian kepada para tetua dan leluhur bahwa ada anggota keluarga baru yang bergabung," kata Xu.
Tradisi-tradisi seperti inilah yang membuat teh tetap memiliki tempat istimewa di tengah derasnya arus modernisasi.
Wakil Direktur Perusahaan Teh Xie Yuda, Gui Liquan, menjelaskan kualitas teh menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Perusahaan bermitra dengan puluhan petani untuk mengelola ratusan hektare kebun teh di Huangshan. Namun tidak semua lahan dianggap layak.
"Kami hanya menanam teh di lahan yang memiliki ketinggian lebih dari 800 meter di atas permukaan laut. Proses penanaman dan budidaya juga harus dilakukan secara organik," jelasnya.
Standar tersebut diterapkan untuk menjaga karakter rasa dan kualitas daun teh yang dihasilkan.
Perjalanannya pun panjang. Mulai dari pengolahan tanah, perawatan tanaman, pemetikan daun, pengurangan kadar air, penggilingan, penjemuran, hingga pengemasan dilakukan melalui tahapan yang ketat.
Saat ini Xie Yuda memproduksi empat jenis teh utama, yakni Taiping Houkui, Keemun Black Tea, Lu’an Guapian, dan satu varietas teh khas lainnya yang populer di Tiongkok.
Di antara berbagai produk tersebut, Keemun Black Tea menjadi salah satu yang paling digemari konsumen.
Teh hitam ini melalui proses fermentasi yang menghasilkan rasa lebih lembut dan ringan. Karakter tersebut membuatnya lebih ramah bagi penikmat minuman hangat yang memiliki lambung sensitif.
Menariknya, meski memiliki reputasi internasional, sebagian besar produksi Xie Yuda masih diserap pasar domestik Tiongkok.
Pasar ekspor memang ada, terutama ke kawasan Timur Tengah dan Eropa. Namun volumenya relatif kecil dan mayoritas masih berupa bahan baku.
"Biasanya di negara tujuan akan diolah lagi. Karena orang di luar negeri tidak mengonsumsi teh seperti di Tiongkok. Ada yang suka aroma tambahan, dicampur susu, gula, dan sebagainya. Makanya kami hanya mengirimkan produk mentah," ujar Gui.
Kini tantangan terbesar bukan lagi soal produksi. Melainkan bagaimana menjaga teh tetap relevan di kalangan generasi muda yang hidup di era serba cepat.
Karena itu, selain mengembangkan produk baru, Xie Yuda juga aktif melakukan edukasi kepada anak-anak muda tentang budaya minum teh.
Sebuah upaya untuk memastikan bahwa warisan yang telah bertahan lebih dari satu setengah abad itu tidak hilang ditelan zaman.
Di lereng-lereng Huangshan, secangkir teh bukan hanya soal rasa. Ia adalah cerita panjang tentang tradisi, keluarga, dan identitas bangsa yang terus dijaga dari generasi ke generasi. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya