Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
Tembok merah menjulang setinggi lebih dari 10 meter berdiri kokoh di tengah hiruk-pikuk ibu kota Tiongkok. Di baliknya tersimpan kisah para kaisar, intrik istana, hingga perjalanan panjang sebuah peradaban yang pernah menguasai sepertiga dunia.
Itulah Forbidden City, atau yang kini dikenal sebagai Palace Museum. Kompleks istana kuno yang berada tepat di jantung Kota Beijing itu menjadi salah satu destinasi paling ikonik di Tiongkok.
Bukan sekadar objek wisata, melainkan saksi bisu hampir lima abad perjalanan kekaisaran Negeri Tirai Bambu.
Selasa (9/6/2026) lalu, kami, para jurnalis peserta program China International Press Communication Center (CIPCC), mendapat kesempatan menapaki lorong-lorong sejarah tersebut.
Dari Renmin University of China (RUC), tempat kami tinggal selama mengikuti program di Beijing, jaraknya sebenarnya hanya sekitar 20 kilometer.
Namun, seperti kota-kota metropolitan lainnya, Beijing memiliki ritmenya sendiri. Kemacetan pada jam sibuk dan padatnya arus kendaraan di sekitar kawasan wisata membuat perjalanan yang seharusnya singkat berubah menjadi hampir 45 menit.
Begitu tiba, hamparan tembok merah raksasa langsung menyita perhatian. Sulit membayangkan bahwa di balik kompleks seluas 72 hektare itu pernah berpusat pemerintahan salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah dunia.
Forbidden City dibangun atas perintah Kaisar Yongle dari Dinasti Ming. Pembangunannya dimulai pada tahun 1406 dan rampung pada 1420.
Selama 492 tahun berikutnya, kompleks ini menjadi kediaman sekaligus pusat pemerintahan bagi 24 kaisar Tiongkok, terdiri atas 14 kaisar Dinasti Ming dan 10 kaisar Dinasti Qing.
Ketika era kekaisaran berakhir pada 1912, istana yang selama berabad-abad tertutup bagi rakyat biasa itu perlahan membuka diri.
Pada 1928, masyarakat umum akhirnya diperbolehkan masuk dan melihat langsung tempat yang sebelumnya hanya bisa dihuni kalangan istana.
Hari itu, perjalanan kami dipandu Lu Yuang Man, pemandu profesional yang akrab disapa Ice. Dengan bahasa Inggris yang fasih dan gaya bercerita yang santai, ia membawa rombongan jurnalis dari Asia Pasifik dan Eurasia menyelami setiap sudut kompleks istana.
Perjalanan dimulai dari Meridian Gate, gerbang utama di sisi selatan. Sebelum masuk, seluruh pengunjung wajib melewati pemeriksaan keamanan menggunakan mesin x-ray.
Petugas memeriksa barang bawaan dan melarang sejumlah benda masuk ke area istana, seperti drone, tongkat swafoto berukuran panjang, hingga korek api.
Larangan itu bukan tanpa alasan. Sebagian besar bangunan Forbidden City terbuat dari kayu.
Kebakaran kecil saja bisa menjadi ancaman serius bagi warisan budaya yang telah bertahan lebih dari enam abad.
Setelah lolos pemeriksaan, proses masuk berlangsung cepat. Tidak ada tiket kertas yang harus ditunjukkan.
Semua data pengunjung telah terintegrasi dengan paspor atau kartu identitas. Cukup memindai dokumen di gerbang elektronik, lalu pintu masuk terbuka otomatis dalam hitungan detik.
Meski terlihat sederhana, mendapatkan tiket masuk tidak selalu mudah.
“Harus melakukan pemesanan sekitar seminggu sebelumnya. Pengunjungnya sangat ramai. Saat musim kunjungan tinggi, jumlahnya bisa mencapai 80 ribu orang dalam sehari,” ujar Ice.
Pernyataan itu bukan sekadar angka. Saat kami berkunjung, lautan manusia memenuhi hampir seluruh area.
Di beberapa titik, pengunjung harus berjalan perlahan mengikuti arus kerumunan. Bahkan untuk melihat koleksi relik dan artefak bersejarah, antrean panjang menjadi pemandangan biasa.
Luas kawasan istana membuat perjalanan terasa seperti maraton sejarah. Dari Meridian Gate di sisi selatan menuju Gate of Divine Prowess di sisi utara saja, kami membutuhkan waktu lebih dari dua setengah jam berjalan kaki.
Namun rasa lelah itu terbayar oleh setiap detail yang tersaji.
Meridian Gate, misalnya, ternyata bukan sekadar pintu masuk. Gerbang ini memiliki lima akses berbeda yang masing-masing diperuntukkan bagi kelompok tertentu.
Pintu tengah hanya boleh dilalui kaisar. Pintu timur diperuntukkan bagi pejabat tinggi kerajaan. Pintu barat digunakan keluarga kekaisaran. Sementara dua pintu lainnya menjadi jalur para pelayan dan pekerja istana.
“Permaisuri tidak boleh melewati gerbang selatan karena itu khusus untuk kaisar. Setelah menjadi permaisuri, sebagian besar hidupnya berada di dalam area istana,” jelas Ice.
Simbol kekuasaan juga tampak dari warna bangunan. Hampir seluruh tembok dan tiang dicat merah, sementara atapnya berwarna kuning keemasan. Pada masa kekaisaran, kedua warna tersebut hanya boleh digunakan oleh keluarga kerajaan.
Kini aturan itu tinggal sejarah.
“Masyarakat umum sekarang bebas menggunakan warna tersebut,” kata Ice sambil tersenyum. Kebetulan hari itu ia mengenakan kaos polo berwarna kuning.
Kehebatan Forbidden City tidak hanya terlihat dari kemegahan arsitekturnya. Bangunan utama istana dibangun menggunakan teknik konstruksi kayu tradisional Tiongkok yang saling mengunci tanpa bantuan paku.
Teknologi kuno itu terbukti luar biasa. Selama ratusan tahun, bangunan tetap berdiri kokoh meski Beijing beberapa kali diguncang gempa.
Di balik fakta sejarah, tersimpan pula cerita-cerita yang berkembang menjadi legenda. Salah satunya mengenai jumlah ruangan di kompleks istana.
Konon, Forbidden City memiliki 9.999,5 ruangan.
“Kenapa ada setengah ruangan? Karena angka 10 ribu hanya boleh dimiliki istana para dewa di langit,” tutur Ice.
Keunikan arsitektur, nilai sejarah, dan tingkat pelestarian yang luar biasa membuat UNESCO menetapkan Forbidden City sebagai Warisan Budaya Dunia.
Hingga kini, kompleks tersebut masih tercatat sebagai bangunan kayu kuno terbesar dan paling terawat di dunia.
Upaya konservasi terus dilakukan. Saat kami berkunjung, salah satu bangunan penting, Palace of Earthly Tranquility, sedang ditutup untuk pemugaran.
Beberapa tangga batu yang menjadi jalur wisatawan juga dilapisi pelindung khusus agar material aslinya tidak cepat aus.
Dari balik tembok merah yang selama berabad-abad memisahkan kaisar dan rakyatnya, ada satu pelajaran yang terasa begitu kuat.
Tiongkok tidak hanya menyimpan sejarah dalam buku-buku atau museum. Negara itu merawat sejarah di tempat asalnya, menjaga setiap detail agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di Forbidden City, masa lalu tidak sekadar dipamerkan. Ia dijaga, dirawat, dan terus bercerita. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya