Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Dari Stan Kerajinan di Kunming, Perajin Perak dari Bali Menyasar Ceruk Pasar Raksasa Tiongkok

Eka Prasetya • Sabtu, 13 Juni 2026 | 21:04 WIB
PERAJIN PERAK: Dewi Tanu Wijaya (kanan) di stan kerajinan perak yang ia kelola. Ia menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia pada ajang China-South Asia Expo di Provinsi Yunnan, Tiongkok pada awal Juni lalu. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
PERAJIN PERAK: Dewi Tanu Wijaya (kanan) di stan kerajinan perak yang ia kelola. Ia menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia pada ajang China-South Asia Expo di Provinsi Yunnan, Tiongkok pada awal Juni lalu. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

ADA satu hal yang selalu menarik dari sebuah pameran dagang internasional. Bukan hanya angka investasi bernilai miliaran dolar yang diumumkan dari panggung utama. 

Bukan pula kemegahan gedung pameran yang dipenuhi ribuan peserta dari berbagai negara.

Yang sering kali lebih menarik justru cerita-cerita kecil di baliknya. Cerita tentang orang-orang yang datang membawa harapan, menempuh perjalanan ribuan kilometer, demi memperkenalkan karya mereka ke pasar yang lebih luas.

Cerita seperti itu saya temukan di Kota Kunming, Provinsi Yunnan, Tiongkok.

Perjalanan menuju kota ini cukup panjang. Setelah beberapa pekan sebelumnya mengunjungi Provinsi Anhui, Rabu (10/6/2026) saya bersama para jurnalis Asia Pasifik dalam program China International Press Communication Center (CIPCC) bertolak ke Yunnan.

Pesawat China Eastern yang kami tumpangi lepas landas dari Bandara Beijing Daxing sekitar pukul 12.30 waktu setempat. Hampir tiga jam kemudian, pesawat mendarat mulus di Bandara Kunming Changshui.

Yunnan berada di ujung selatan Tiongkok. Provinsi ini dikenal sebagai gerbang perdagangan yang menghubungkan Tiongkok dengan kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Tak heran jika berbagai agenda internasional rutin digelar di sana.

Kedatangan saya kali ini untuk menghadiri dua agenda besar, yakni China-South Asia Expo dan The 7th China-South Asia Cooperation Forum.

Tiongkok memang memiliki tradisi kuat dalam penyelenggaraan agenda Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE). 

Hampir setiap bulan ada pameran atau forum internasional yang mempertemukan pelaku usaha, investor, hingga pengambil kebijakan dari berbagai negara.

China-South Asia Expo menjadi salah satu yang terbesar.

Awalnya, pameran ini difokuskan untuk memperkuat hubungan ekonomi Tiongkok dengan negara-negara Asia Selatan seperti India, Pakistan, Bangladesh, Nepal, Sri Lanka, Bhutan, Afghanistan, dan Maladewa.

Namun seiring waktu, cakupannya terus meluas. Negara-negara ASEAN, Timur Tengah, Asia Timur, Eropa, hingga Amerika Latin kini ikut ambil bagian.

Selama sembilan tahun penyelenggaraannya, expo ini telah membukukan transaksi lebih dari USD 100 miliar serta menghasilkan lebih dari 2.000 kesepakatan kerja sama. 

Produk kopi dan buah-buahan tropis dari negara-negara ASEAN menjadi salah satu komoditas yang cukup diminati pasar Tiongkok.

Namun di tengah lalu-lalang delegasi internasional dan besarnya angka transaksi yang beredar, perhatian saya justru tertuju pada sebuah stan sederhana milik perempuan asal Bali.

Namanya Dewi Tanu Wijaya.

Di antara ratusan peserta pameran dari berbagai negara, Dewi tampak sibuk melayani pengunjung yang singgah ke stan miliknya. 

Di dalam etalase kaca tersusun rapi berbagai produk kerajinan perak, mulai dari anting, gelang, cincin, hingga aksesori khas Bali lainnya.

Perempuan asal Tabanan itu merupakan satu-satunya perwakilan Indonesia dalam pameran dagang terbesar di Yunnan tahun ini.

Kehadirannya bukan yang pertama.

Tahun 2026 menjadi kali keempat Dewi mengikuti China-South Asia Expo. Perjalanannya memasuki pasar Tiongkok dimulai sebelum pandemi Covid-19.

Saat itu ia mengikuti sebuah pameran di Jepang melalui fasilitasi Kementerian Koperasi. Dari sanalah ia mendengar tentang peluang pameran dagang di Tiongkok.

Rasa penasaran kemudian membawanya mencoba peruntungan di negeri dengan populasi terbesar di dunia tersebut.

"Akhirnya tertarik pameran ke Tiongkok. Alasannya sih karena market di Tiongkok itu besar sekali. Mereka punya penduduk terbesar di dunia. Kalau bisa dikelola dengan baik, kenapa tidak," kata Dewi.

Sebagai pelaku usaha kerajinan yang telah berkecimpung lebih dari dua dekade, Dewi memahami satu hal penting. Produk yang bagus tidak akan berkembang jika hanya berputar di pasar yang sama.

Karena itu, sejak mendirikan merk Saka Karya Bali pada 2015, ia terus mencari peluang untuk memperluas pasar ke luar negeri.

Usahanya perlahan membuahkan hasil.

Kini, selain dipasarkan di Indonesia, produk kerajinan perak buatannya juga telah memiliki pelanggan di Australia dan Tiongkok.

Namun membangun pasar di negara sebesar Tiongkok bukan perkara mudah.

Setiap tahun Dewi harus terbang tiga hingga empat kali untuk mengikuti berbagai pameran dagang. Sebagian besar biaya ditanggung secara mandiri.

Untuk mengikuti satu pameran seperti China-South Asia Expo saja, ia harus menyiapkan dana sedikitnya Rp 20 juta untuk biaya stan. 

Angka itu belum termasuk tiket pesawat, penginapan, pengiriman barang, hingga kebutuhan operasional lainnya.

Bagi pelaku usaha mikro dan menengah, biaya tersebut tentu bukan jumlah yang kecil.

"Memang harapannya sih bisa dibantu pemerintah. Karena kalau dihitung biayanya besar sekali untuk UMKM seperti saya. Tapi pameran ini kan bukan soal untung rugi saja. Lebih pada pengenalan produk dan branding," ujarnya.

Bagi Dewi, mengikuti pameran internasional adalah investasi jangka panjang.

Ia datang bukan sekadar mengejar transaksi. Yang lebih penting adalah memperkenalkan merek, membangun kepercayaan calon pembeli, dan membuka jaringan bisnis baru.

Strategi itu perlahan menunjukkan hasil.

Menurutnya, minat masyarakat Tiongkok terhadap kerajinan perak Bali terus meningkat. Namun ada satu hal yang membuat pasar Tiongkok berbeda dibandingkan negara lain.

Mereka tidak hanya membeli produk.

Mereka membeli cerita.

"Mereka lebih suka yang ada cerita dan latar belakangnya. Bukan cuma sekadar handmade. Selain itu mereka cukup responsif dengan harga, jadi memang agak tricky," tuturnya.

Karena itu, setiap anting, gelang, maupun cincin yang dipajang di stan miliknya tidak hanya menawarkan keindahan. 

Di baliknya tersimpan kisah tentang Bali, tentang tangan-tangan perajin yang mengerjakannya, dan tentang tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tentu saja tantangan tetap ada. Di pasar sebesar Tiongkok, risiko penjiplakan produk selalu terbuka.

Namun Dewi memilih fokus pada hal yang bisa ia kendalikan, yakni kreativitas dan kualitas karya.

Ia percaya produk yang lahir dari identitas budaya yang kuat akan selalu memiliki tempat di hati konsumen.

Di tengah gegap gempita China-South Asia Expo yang menghasilkan transaksi miliaran dolar setiap tahun, kisah Dewi mungkin hanya setitik cerita kecil.

Namun dari sebuah stan sederhana di Kota Kunming, terlihat bagaimana karya para perajin Bali terus berupaya menembus batas negara, mengetuk pintu salah satu pasar terbesar di dunia, dan membawa nama Indonesia ke panggung perdagangan internasional. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#beijing #bali #tiongkok #kerajinan #buleleng