SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Setelah keluhan warga terkait kebisingan dan getaran dari operasional Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Pemaron mencuat ke publik, PLN Indonesia Power UBP Bali mulai merealisasikan program pemberdayaan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pembangkit.
Sejak Jumat (12/6.2026), perusahaan menyalurkan bantuan penguatan ekonomi kepada warga yang berada di sekitar PLTD Pemaron.
Perusahaan mengklaim program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih baik dengan masyarakat sekaligus memberikan manfaat berkelanjutan bagi warga terdampak.
PLN Indonesia Power juga menggelar pemeriksaan kesehatan gratis dan edukasi kesehatan yang diikuti sekitar 125 warga di lingkungan sekitar pembangkit.
Manajer Unit Gilimanuk Pemaron PLN Indonesia Power UBP Bali, Yusna Prambudi, mengatakan bantuan tersebut diharapkan mampu mendorong tumbuhnya usaha produktif masyarakat sehingga dapat meningkatkan pendapatan keluarga secara berkelanjutan.
“Bantuan yang diberikan diharapkan dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengembangkan usaha produktif, meningkatkan pendapatan keluarga, serta membuka peluang ekonomi yang lebih luas, nyata, dan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar PLTD Pemaron,” ujarnya, Minggu (14/6/2026).
Yusna menegaskan, PLN Indonesia Power tidak hanya berfokus pada penyediaan pasokan listrik, tetapi juga berupaya berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai program sosial dan pemberdayaan ekonomi.
Dalam program tersebut, empat warga juga menerima bantuan pakan ternak untuk mendukung pengembangan usaha mereka.
Bantuan diberikan kepada warga yang berada dalam radius 0 hingga 300 meter dari lokasi PLTD Pemaron yang dibagi dalam kategori ring 1, ring 2, dan ring 3.
Salah satu penerima bantuan, Gelgel Adiantara, mengaku bantuan tersebut akan dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan usahanya.
“Bantuan ini akan kami gunakan untuk jalankan usaha,” ungkap warga yang rumahnya berada di kawasan ring 1 PLTD Pemaron.
Sementara itu, Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna menilai penyaluran bantuan tersebut merupakan langkah positif di tengah proses komunikasi yang masih berlangsung antara warga dan pihak PLN Indonesia Power.
Menurutnya, pemerintah daerah mengambil posisi sebagai fasilitator yang menjembatani komunikasi kedua belah pihak tanpa memihak salah satu pihak.
Penyerahan bantuan penguatan ekonomi dinilai menjadi salah satu bentuk kemajuan karena sebagian warga terdampak telah mencapai kesepahaman dengan perusahaan, meskipun masih terdapat beberapa warga yang belum menemukan titik temu.
“Kami tidak mau intervensi kedua belah pihak. Karena pemerintah bertugas sebagai fasilitator. Yang penting masyarakat paham kondisi yang ada, PLN juga tetap pada kesepakatan dalam waktu operasional PLTD,” tegas Supriatna.
Ia juga mengingatkan bahwa Bali saat ini masih membutuhkan tambahan pasokan listrik untuk mengimbangi tingginya kebutuhan energi. Saat ini beban puncak listrik di Bali telah mencapai lebih dari 1.200 megawatt (MW).
Dalam sistem kelistrikan Bali, PLTD Pemaron berkontribusi memasok sekitar 110 MW listrik, sedangkan PLTG Pemaron menyumbang sekitar 80 MW.
Sebelumnya, sejumlah warga Desa Pemaron mendatangi area pembangkit pada akhir Mei lalu untuk menyampaikan keluhan terkait kebisingan dan getaran yang disebut telah berlangsung sejak dua tahun belakangan.
Warga mengaku suara mesin dan getaran yang muncul saat pembangkit beroperasi tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan rumah.
PLTD Pemaron sendiri diketahui berada di sisi timur lahan milik PLTGU Pemaron. Adapun PLTD tersebut berbeda dengan PLTGU yang telah beroperasi sejak 2004 silam. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya