Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
HUJAN baru saja reda ketika kami menapaki jalan-jalan batu di Kota Tua Heshun, Kota Tengchong, Provinsi Yunnan, Tiongkok, Jumat (12/6/2026).
Permukaan jalan masih basah. Genangan air kecil tampak mengisi sela-sela batu yang telah berusia ratusan tahun.
Namun, cuaca tak menghentikan denyut kehidupan di kota tua itu.
Toko-toko tetap buka. Pedagang kaki lima tetap melayani pembeli di bawah tenda sederhana.
Di satu sudut, seorang warga sibuk menata biji kopi hasil panen lokal. Tak jauh dari sana, pedagang lain menawarkan jamur segar.
Ada pula warga yang menyewakan payung bagi wisatawan yang tak siap menghadapi hujan pegunungan yang datang tanpa aba-aba.
Sementara itu, aroma jagung rebus perlahan menyeruak dari sebuah gerobak sederhana di tepi jalan.
Sekilas, suasana tersebut terlihat biasa. Namun di balik aktivitas sehari-hari itu tersimpan kisah panjang sebuah kota yang selama lebih dari enam abad menjadi rumah bagi para perantau Tionghoa yang menyebar ke berbagai penjuru Asia Tenggara.
Terletak di bagian barat daya Kota Tengchong, Heshun bukan sekadar destinasi wisata sejarah. Kota tua ini merupakan salah satu kawasan paling penting dalam sejarah migrasi masyarakat Tiongkok bagian selatan.
Saat ini sekitar 7.000 orang masih tinggal di Heshun. Namun jumlah warga yang berasal dari kota kecil tersebut dan menetap di luar negeri justru hampir tiga kali lipat lebih banyak.
Lebih dari 20 ribu diaspora Heshun tersebar di berbagai negara Asia Tenggara, mulai Myanmar, Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura, Kamboja hingga Indonesia.
Jejak para perantau itu masih terasa kuat hingga sekarang.
Rumah-rumah tua yang berdiri di sepanjang jalan sempit tetap dipertahankan dalam bentuk aslinya. Dinding-dinding batu kokoh berdiri tanpa campuran semen modern. Balok-balok kayu saling mengunci tanpa bantuan paku.
Teknik konstruksi tradisional itu diwariskan turun-temurun dan terbukti mampu bertahan menghadapi goncangan gempa maupun perubahan zaman.
Tak heran jika berjalan di Heshun terasa seperti menelusuri lorong waktu.
Salah satu bangunan yang menjadi simbol kebanggaan kota ini adalah Perpustakaan Heshun.
Berdiri sejak 1928, perpustakaan tersebut dikenal sebagai perpustakaan pedesaan terbesar dan terlengkap di Tiongkok.
Rak-rak kayu tua masih tersusun rapi di dalamnya. Ribuan buku memenuhi setiap sudut ruangan.
“Perpustakaan ini menyimpan ratusan ribu koleksi buku dan puluhan ribu manuskrip. Tapi tidak semuanya bisa kami buka ke publik. Ada manuskrip-manuskrip yang harus kami rawat dengan baik, karena sudah rapuh,” ujar Li Yan, Anggota Komite Tetap Komite Partai Komunis China Kota Tengchong sekaligus Wakil Wali Kota Tengchong.
Bersebelahan dengan perpustakaan, berdiri Wenchang Palace atau Istana Wenchang.
Bagi masyarakat setempat, bangunan itu bukan sekadar situs bersejarah. Istana tersebut menjadi tempat pemujaan Wenchang Dijun, dewa kesusastraan dan kehormatan akademik dalam ajaran Taoisme.
Kompleks yang dibangun pada masa Kaisar Daoguang dari Dinasti Qing itu menyimpan jejak panjang tradisi pendidikan masyarakat Heshun.
Di sejumlah prasasti batu yang masih terawat, tercatat nama 809 warga Heshun yang berhasil meraih gelar akademik dan jabatan resmi pada masa Dinasti Ming dan Qing.
Prestasi itu bukan kebetulan.
Di lokasi yang sama, sekolah dasar pertama didirikan pada 1909. Kemudian sekolah menengah berdiri pada 1940.
Menariknya, pembangunan fasilitas pendidikan tersebut sebagian besar didanai oleh diaspora Heshun yang sukses di negeri rantau lalu pulang membangun kampung halaman.
“Sejarah itu menjadikan kota tua ini memiliki jejak akademik sampai saat ini,” kata Li Yan.
Kini, Heshun memasuki babak baru.
Jika dahulu roda ekonomi kota bergantung pada kiriman uang para perantau, kini sektor pariwisata menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.
Dengan tiket masuk seharga 55 yuan atau sekitar Rp 137 ribu, wisatawan dapat keluar-masuk kawasan kota tua selama tujuh hari penuh.
“Pengunjung bisa bolak-balik selama tujuh hari. Tinggal menunjukkan tiket yang sudah dibeli saja,” jelas Li Yan.
Kebijakan itu terbukti efektif menarik wisatawan.
Di sepanjang jalan kota tua, berbagai usaha tumbuh subur. Ada kedai kopi, toko cinderamata, jasa fotografi, penginapan keluarga, hingga lapak-lapak kecil yang menjual hasil pertanian lokal.
Lebih dari 80 persen warga kini menggantungkan hidup dari sektor pariwisata.
“Ada yang membuka toko, menjadikan rumahnya sebagai penginapan, pemandu wisata, maupun pedagang-pedagang kecil,” tambahnya.
Meski demikian, Heshun tak sepenuhnya meninggalkan akar agrarisnya.
Kota tua ini dikelilingi pegunungan vulkanik yang telah lama tidak aktif. Tanah subur di sekitarnya masih dimanfaatkan warga untuk bertani dan menghasilkan berbagai komoditas pertanian yang menjadi sumber pendapatan tambahan.
Di tengah ramainya wisatawan, Heshun juga menyimpan warna budaya yang unik.
Letaknya yang hanya sekitar 70 kilometer dari perbatasan Myanmar membuat pengaruh budaya negeri tetangga itu terasa cukup kuat.
Bunga-bunga yang tumbuh di halaman rumah, aneka kuliner yang dijajakan warga, hingga suasana kampungnya menghadirkan nuansa yang mengingatkan banyak orang pada pedesaan Myanmar.
Kesan itu pula yang dirasakan That Wei San, jurnalis asal Myanmar yang ikut dalam kunjungan tersebut.
“Bunga-bunga di sini, makanan, dan suasananya mirip dengan Myanmar. Ini membuat saya merasa di rumah,” ujarnya.
Mungkin di situlah letak pesona terbesar Heshun.
Bukan semata karena usianya yang telah melampaui enam abad. Bukan pula karena bangunan-bangunan tua yang masih berdiri kokoh.
Melainkan karena kemampuannya merawat ingatan masa lalu tanpa menolak masa depan.
Sebuah kota kecil yang lahir dari mimpi para perantau, tumbuh dari semangat pendidikan, dan kini hidup dari pariwisata.
Namun, di balik semua perubahan itu, Heshun tetap menjadi satu hal yang paling penting: rumah bagi siapapun yang ingin kembali pulang. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya