Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Cerita tentang Desa Etnik Simola di Tiongkok: Menjaga Tradisi untuk Mengubah Nasib Warga

Eka Prasetya • Rabu, 17 Juni 2026 | 10:11 WIB
DESA ETNIK: Zhao Jiaqing, anggota etnis Wa yang kini menjabat Wakil Wali Kota Qingshui meniup terompet yang terbuat dari tanduk kerbau. Hal itu menjadi salah satu daya tarik di Simola Wa Ethnic Village, Provinsi Yunnan, Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
DESA ETNIK: Zhao Jiaqing, anggota etnis Wa yang kini menjabat Wakil Wali Kota Qingshui meniup terompet yang terbuat dari tanduk kerbau. Hal itu menjadi salah satu daya tarik di Simola Wa Ethnic Village, Provinsi Yunnan, Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

Suara tonggeret bersahut-sahutan memecah keheningan hutan pinus di lereng perbukitan Tengchong, Provinsi Yunnan, Tiongkok. 

Irama alam itu terdengar seperti konser dadakan yang mengiringi perjalanan kami menuju sebuah desa kecil yang kini menjadi buah bibir banyak kalangan.

“Ini suara orkestra berkualitas tinggi,” celetuk Saurabh Sures Kumar, jurnalis asal India yang duduk di samping saya.

Saya hanya tersenyum. Tak bisa membantahnya.

Siang itu, mobil shuttle bertenaga listrik yang kami tumpangi melaju perlahan menembus rimbunnya pepohonan menuju Simola Wa Ethnic Village - sebuah desa etnik di Tiongkok. 

Dari kejauhan, atap-atap rumah tradisional mulai muncul di sela hutan. Pemandangan sederhana itu menjadi pembuka kisah tentang sebuah desa yang berhasil keluar dari jerat kemiskinan tanpa harus menanggalkan identitas budayanya.

Simola berada di Zhongzhai, Kecamatan Qingshui, sekitar 13 kilometer dari pusat Kota Tengchong. Desa ini tidak besar. Penduduknya hanya sekitar 300 jiwa yang tersebar dalam 73 kepala keluarga.

Namun, di balik ukurannya yang kecil, Simola menyimpan cerita besar.

Dalam bahasa Wa, Simola berarti “tempat yang penuh kebahagiaan”. Nama yang terdengar indah itu ternyata tidak lahir dari kehidupan yang selalu mudah.

Bertahun-tahun silam, Simola dikenal sebagai salah satu desa miskin di Yunnan. Sebagian besar warga menggantungkan hidup pada pertanian tradisional yang sangat bergantung pada cuaca. 

Ketika musim tidak bersahabat, hasil panen merosot. Saat panen menurun, pendapatan warga ikut terjun bebas.

Kemiskinan kala itu bukan sekadar data statistik. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa.

Perubahan mulai muncul ketika pemerintah menawarkan program pengentasan kemiskinan. Namun menariknya, arah pembangunan tidak ditentukan sepihak dari atas.

Warga justru diberi kesempatan untuk menentukan sendiri masa depan mereka.

Para tokoh masyarakat dan tetua adat kemudian berkumpul. Mereka berdiskusi panjang tentang potensi yang dimiliki Simola. 

Hingga akhirnya muncul satu kesepakatan: menjadikan pariwisata sebagai jalan keluar dari kemiskinan.

Pilihan itu bukan tanpa alasan. Simola memiliki kekayaan yang tidak dimiliki banyak desa lain, yakni budaya etnis Wa yang masih terjaga kuat selama ratusan tahun.

Suku Wa merupakan salah satu kelompok etnis minoritas di Tiongkok dengan sejarah lebih dari lima abad. 

Saat ini, jumlah masyarakat Wa diperkirakan mencapai 380 ribu orang dan sebagian besar bermukim di Provinsi Yunnan.

Jejak budaya mereka masih terlihat jelas hingga sekarang. Mulai dari bentuk rumah, tradisi, kesenian, hingga simbol-simbol kehidupan yang diwariskan turun-temurun.

Begitu memasuki kawasan desa, identitas itu langsung terasa.

Di berbagai sudut kampung berdiri kepala-kepala kerbau yang dipajang di gerbang, bangunan, hingga area pertemuan warga.

Bagi masyarakat Wa, kerbau bukan sekadar hewan ternak.

Kerbau merupakan simbol kehidupan yang melambangkan kerja keras, kekuatan, kesederhanaan, kebaikan, dan kemakmuran.

“Kami adalah masyarakat agraris. Dalam tradisi tertentu, kerbau dikorbankan dan kepalanya dipajang sebagai bagian dari budaya kami,” ujar Zhao Jiaqing, anggota etnis Wa yang kini menjabat Wakil Wali Kota Qingshui.

Di jantung desa berdiri sebuah bangunan utama yang menjadi pusat aktivitas budaya masyarakat.

 Di sana tersimpan alat musik tradisional berupa genderang raksasa yang bentuknya menyerupai lesung padi.

Dahulu alat tersebut digunakan untuk memanggil warga berkumpul, menyampaikan informasi penting, bahkan menjadi penanda saat peperangan.

“Kalau mau berperang juga ada suara terompet dari tanduk kerbau. Tapi sekarang semuanya digunakan untuk hiburan dan pelestarian budaya,” kata Zhao sambil tersenyum.

Transformasi Simola dimulai pada 2012.

Warga dan pemerintah berbagi peran. Masyarakat fokus membenahi desa dari dalam, mulai menjaga kebersihan lingkungan hingga meningkatkan kualitas sumber daya manusia. 

Sementara pemerintah membangun infrastruktur, memperbaiki akses jalan, serta mempromosikan desa kepada wisatawan.

Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam.

Butuh waktu sekitar lima tahun hingga sektor pariwisata benar-benar tumbuh dan mulai menjadi sumber penghasilan baru bagi masyarakat.

Momentum terbesar datang pada 19 Januari 2020.

Saat itu Presiden Tiongkok Xi Jinping mengunjungi Simola. Kunjungan tersebut menjadi titik balik yang membuat nama desa ini semakin dikenal luas.

Arus wisatawan pun melonjak drastis.

“Tahun lalu saja kami menerima lebih dari 650 ribu pengunjung. Tahun ini kami prediksi jumlahnya terus meningkat,” ujar Zhao.

Ledakan kunjungan wisatawan membawa perubahan nyata.

Rumah-rumah warga mulai disulap menjadi penginapan. Bermunculan toko souvenir, warung makan, hingga berbagai layanan wisata yang dikelola masyarakat setempat.

Salah seorang warga, Luo Aiyan, merasakan langsung dampak perubahan tersebut.

“Dulu semua bergantung pada pertanian. Hasilnya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sekarang pariwisata memberikan dampak ekonomi yang sangat baik bagi kami,” katanya.

Meski pariwisata berkembang pesat, Simola tidak sepenuhnya meninggalkan sektor pertanian.

Sekitar seperempat penduduk masih bekerja sebagai petani. Kontribusinya terhadap ekonomi desa memang hanya sekitar 10 persen, tetapi sektor ini tetap dipertahankan sebagai fondasi kehidupan masyarakat.

Bahkan, pertanian kini ikut menopang industri wisata dengan memasok kebutuhan pangan bagi restoran dan usaha kuliner yang berkembang di desa.

Bedanya, cara bertani masyarakat sudah berubah.

Bila dulunya manual, petani Simola kini menggunakan traktor untuk membajak sawah, drone untuk menyebarkan pupuk, serta mesin modern untuk mempercepat panen. 

Teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas tanpa menghilangkan akar kehidupan yang selama ini menjadi identitas mereka.

Di Simola, pembangunan tidak diwujudkan dengan menghapus masa lalu dan menggantinya dengan sesuatu yang serba baru.

Di desa kecil yang namanya berarti kebahagiaan itu, saya melihat satu pelajaran sederhana: kemiskinan bisa dikalahkan tanpa harus kehilangan jati diri. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#beijing #tiongkok #desa #buleleng