SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Meningkatnya kasus gigitan hewan penular rabies di Kabupaten Buleleng mulai memunculkan kekhawatiran baru.
Komisi IV DPRD Buleleng menyoroti minimnya jumlah dokter hewan di daerah tersebut yang dinilai belum sebanding dengan luas wilayah dan tingginya populasi hewan peliharaan.
Kondisi itu disebut membuat penanganan rabies di tingkat kecamatan belum berjalan optimal.
Persoalan tersebut mencuat saat Komisi IV DPRD Buleleng melakukan kunjungan kerja ke Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Distankan) Buleleng, belum lama ini.
Sekretaris Komisi IV DPRD Buleleng, Nyoman Dhukajaya, mengatakan saat ini jumlah dokter hewan di Buleleng masih jauh dari kebutuhan ideal.
Padahal, ancaman rabies dan kasus gigitan anjing di sejumlah wilayah terus meningkat.
“Sekarang dokter hewan yang ada hanya 21 orang. Itu tentu belum cukup untuk menjangkau seluruh kecamatan di Buleleng,” ujarnya.
Dari total tersebut, sebanyak 18 dokter hewan bertugas di puskeswan, sementara tiga lainnya berada di dinas terkait.
Jumlah itu dinilai belum mampu melayani kesehatan hewan di sembilan kecamatan yang ada di Buleleng.
Menurut Dhukajaya, idealnya setiap kecamatan memiliki sedikitnya empat hingga lima orang dokter hewan lapangan agar penanganan kasus rabies maupun pelayanan kesehatan hewan bisa dilakukan lebih cepat.
“Kalau dihitung kebutuhan ideal, Buleleng setidaknya membutuhkan sekitar 36 dokter hewan lapangan,” tegas politisi Golkar asal Buleleng itu.
Kekurangan tenaga dokter hewan disebut semakin terasa setelah muncul kasus gigitan anjing di Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng, yang menyebabkan 19 warga menjadi korban.
Selain menangani rabies, dokter hewan di lapangan juga harus menjalankan berbagai program lain.
Mulai dari vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK), pemeriksaan kesehatan ternak, hingga edukasi kepada masyarakat terkait kesehatan hewan.
“Kondisi ini membuat beban kerja dokter hewan cukup berat karena harus menangani banyak program sekaligus,” katanya.
Karena itu, Komisi IV DPRD Buleleng mendesak pemerintah daerah segera mengusulkan tambahan formasi dokter hewan ke pemerintah pusat agar pelayanan kesehatan hewan di masing-masing kecamatan dapat diperkuat.
Menurut Dhukajaya, kehadiran dokter hewan di tingkat kecamatan menjadi sangat penting untuk mempercepat penanganan kasus gigitan hewan penular rabies sebelum menyebar lebih luas.
“Penanganan rabies harus cepat. Kalau tenaga terbatas tentu akan mempengaruhi pelayanan di lapangan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Distankan Buleleng, Gede Melandrat, mengakui keterbatasan jumlah dokter hewan masih menjadi tantangan dalam pengendalian rabies di Buleleng.
Saat ini populasi anjing di Buleleng diperkirakan mencapai lebih dari 68 ribu ekor. Jumlah tersebut membutuhkan pengawasan serta vaksinasi rutin secara berkelanjutan.
Melandrat juga mengungkapkan pihaknya masih melakukan pencarian terhadap anjing yang menggigit 19 warga di Kelurahan Banyuning beberapa waktu lalu. Meski demikian, seluruh korban dipastikan telah mendapatkan vaksin anti rabies (VAR).
“Sampai sekarang anjingnya masih dicari. Tetapi korban sudah mendapat penanganan awal melalui vaksin anti rabies,” jelasnya.
Untuk memperkuat pengendalian rabies, Distankan Buleleng bersama Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia akan kembali menggelar vaksinasi massal rabies di sejumlah titik.
Vaksinasi akan menyasar seluruh wilayah di Kabupaten Buleleng. Bahkan petugas disiapkan turun langsung dari rumah ke rumah apabila warga tidak membawa hewan peliharaannya ke pos vaksinasi.
“Kalau warga tidak datang ke pos, petugas akan melakukan door to door. Itu yang sekarang kami lakukan untuk memperluas cakupan vaksinasi,” tandas Melandrat. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya