Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Titik Nol Singaraja Jadi Spot Nongkrong Baru, Ramai Diburu Pemburu Senja dan Konten Media Sosial

Francelino Junior • Jumat, 19 Juni 2026 | 09:10 WIB
TITIK NOL: Suasana sore di Titik Nol Kota Singaraja. Lokasi ini diramaikan warga untuk nongkrong, membuat foto, maupun konten medsos. Lokasi sudah dibuka untuk masyarakat, meski belum sepenuhnya selesai. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
TITIK NOL: Suasana sore di Titik Nol Kota Singaraja. Lokasi ini diramaikan warga untuk nongkrong, membuat foto, maupun konten medsos. Lokasi sudah dibuka untuk masyarakat, meski belum sepenuhnya selesai. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Meski belum sepenuhnya rampung, wajah baru Kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai mencuri perhatian masyarakat. 

Dalam sepekan terakhir, kawasan yang berada di pusat Kota Singaraja itu ramai didatangi warga, terutama kalangan muda yang berburu foto, membuat konten media sosial, hingga menikmati suasana senja dengan latar bangunan-bangunan bersejarah.

Pantauan di lokasi menunjukkan aktivitas pengunjung mulai meningkat pada pagi dan sore hari. 

Area pedestrian yang telah tertata rapi menjadi daya tarik tersendiri. 

Banyak warga memanfaatkan kawasan tersebut untuk bersantai, berolahraga ringan, hingga mengabadikan momen dengan latar Tugu Singa Ambara Raja dan deretan bangunan heritage yang menjadi saksi perjalanan panjang Kota Singaraja.

Salah seorang pengunjung, Marselina Putri, warga Desa Kalibukbuk, mengaku sengaja datang bersama teman-temannya setelah melihat ramainya unggahan tentang kawasan tersebut di media sosial.

“Iya ini sama teman-teman sudah janjian dari kemarin. Penasaran aja sih karena lihat di medsos lagi ramai katanya mirip seperti di Jogja, kok kayak estetik banget apalagi pas matahari mau tenggelam, dapet banget vibes senjanya,” ujarnya.

Fenomena ramainya pengunjung bahkan terjadi sebelum proyek penataan kawasan selesai sepenuhnya. 

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengatakan, revitalisasi Titik Nol bukan sekadar mempercantik wajah kota, melainkan bagian dari upaya menghidupkan kembali identitas sejarah Singaraja sebagai kota pusaka.

“Ini upaya mengembalikan kawasan bersejarah perjalanan panjang Kota Singaraja. Bukan meniru Yogyakarta, tetapi karena sama-sama memiliki banyak bangunan tua yang masih dilestarikan. Singaraja juga memiliki kantor bupati, Rumah Soenda Ketjil, Museum Soenda Ketjil, Gedong Kirtya, hingga Puri Kanginan yang menjadi bagian dari kawasan heritage,” jelasnya.

Menurut Sutjidra, konsep penataan kawasan berfokus pada pelestarian bangunan bersejarah yang masih bertahan di pusat kota. 

Ke depan, kawasan Titik Nol akan terhubung dengan sejumlah titik heritage lainnya, seperti Pelabuhan Buleleng, Gedung Mr I Gusti Ketut Pudja, kawasan Jalan Diponegoro hingga kawasan Pabean.

“Kita ingin mengingat kembali perjalanan panjang Kota Singaraja sejak zaman kolonial. Wajah kota harus mencerminkan bahwa Singaraja memiliki sejarah yang panjang dan kaya,” katanya.

Ia mengungkapkan, gagasan revitalisasi kawasan heritage sebenarnya sudah lama dirancang dan menjadi salah satu program prioritas saat masa kampanye. 

Kondisi sejumlah bangunan bersejarah yang mulai mengalami kerusakan menjadi alasan penting percepatan penataan kawasan tersebut.

Setelah proyek rampung pada pertengahan Juli mendatang, pemerintah juga akan membahas penetapan nama resmi kawasan yang kini populer dengan sebutan Titik Nol Singaraja.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Kawasan Permukiman (PU-Perkim) Buleleng, I Putu Adiptha Eka Putra, menyebut progres pembangunan saat ini telah mencapai sekitar 80 persen. 

Sejumlah pekerjaan yang tersisa sebagian besar merupakan tahap penyelesaian akhir.

“Yang masih dikerjakan pemasangan bangku trotoar, pembersihan kawasan, pemasangan lampu, pengaspalan sisi jalan dan beberapa pekerjaan beton. Puluhan bangku akan dipasang agar masyarakat bisa bersantai menikmati suasana kawasan,” terangnya.

Selain penataan ruang publik, pemerintah juga melakukan restorasi pada sejumlah bagian Kantor Bupati Buleleng. 

Area lobi dikembalikan mendekati bentuk aslinya berdasarkan dokumentasi lama. Beberapa pilar dan elemen arsitektur bersejarah turut diperbaiki guna memperkuat karakter heritage kawasan.

Adiptha menegaskan, konsep yang diusung bukan sekadar mempercantik kawasan perkotaan, melainkan merestorasi kawasan bersejarah dengan tetap mempertahankan identitas aslinya. 

Karena itu, meski sekilas disebut mirip Malioboro Yogyakarta, kawasan Titik Nol Singaraja memiliki karakter berbeda yang ditandai keberadaan Tugu Singa Ambara Raja serta penggunaan batu paras Sangsit sebagai elemen utama penataan.

“Kalau di Yogyakarta pagar kawasan pemerintah cenderung tinggi. Di sini pagar rumah jabatan dan kantor bupati dibuat lebih rendah agar terasa lebih terbuka dan ramah bagi masyarakat,” ujarnya.

Ramainya warga yang mulai menikmati kawasan sebelum proyek selesai pun mendapat sambutan positif dari pemerintah. 

Meski demikian, masyarakat tetap diminta menjaga kebersihan dan berhati-hati saat berada di area yang masih dalam proses pengerjaan.

“Silakan menikmati kawasan ini selama tidak mengganggu pekerjaan proyek. Justru kami senang karena masyarakat sudah mulai datang dan menikmati suasana. Yang penting tetap menjaga kebersihan dan mengikuti kondisi di lapangan,” pungkas Adiptha. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#kota singaraja #konten #titik nol #buleleng #media sosial