Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Saat Tiongkok Membangun Pelabuhan di Pegunungan, Terusan Rp 190 Triliun Ini Siap Ubah Jalur Dagang ASEAN

Eka Prasetya • Jumat, 19 Juni 2026 | 09:55 WIB
PINGLU CANAL: Proyek Pinglu Canal di Provinsi Guangxi, Tiongkok. Lokasi ini akan menjadi salah satu titik pelabuhan di pegunungan. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
PINGLU CANAL: Proyek Pinglu Canal di Provinsi Guangxi, Tiongkok. Lokasi ini akan menjadi salah satu titik pelabuhan di pegunungan. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

AWALNYA, proyek ini terlihat seperti proyek infrastruktur besar pada umumnya. Namun pandangan itu berubah begitu saya berdiri di Madao Hub, salah satu titik utama dalam pembangunan Terusan Pinglu di Kota Administratif Qinzhou, Provinsi Guangxi, Tiongkok.

Di hadapan saya terbentang kawasan pegunungan yang tengah disulap menjadi jalur pelayaran raksasa. 

Yang membuat proyek ini terasa tidak biasa adalah lokasinya. Di tempat yang jauh dari garis pantai itu, Tiongkok justru membangun fasilitas yang kelak berfungsi layaknya pelabuhan.

Sekilas, pemandangan tersebut terasa bertentangan dengan logika umum. Selama ini pelabuhan identik dengan kawasan pesisir dan laut. 

Namun di Guangxi, kapal-kapal kargo nantinya akan singgah, transit, bahkan menunggu giliran melintas di kawasan yang sebelumnya merupakan bentang pegunungan.

“Ini benar-benar menakjubkan. Mereka bisa membangun pelabuhan di pegunungan,” ujar Ali Yoosuf, jurnalis asal Maldives yang ikut dalam kunjungan bersama peserta program China International Press Communication Center (CIPCC), Sabtu (13/6/2026) lalu.

Terusan Pinglu merupakan salah satu proyek infrastruktur terbesar yang saat ini dibangun Tiongkok. 

Jalur sepanjang 134,2 kilometer itu dirancang menghubungkan kawasan pedalaman Guangxi dengan Teluk Beibu, sehingga kapal-kapal kargo dapat langsung mengakses laut tanpa harus memutar melalui jalur yang lebih panjang.

Proyek ini juga mencatat sejarah tersendiri. Pinglu menjadi terusan pertama yang menghubungkan sungai dan laut sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok.

Saat beroperasi penuh pada September mendatang, jalur tersebut akan menjadi akses pelayaran tercepat bagi wilayah barat daya Tiongkok menuju laut. 

Dampaknya tidak hanya dirasakan Tiongkok, tetapi juga negara-negara ASEAN yang memiliki hubungan perdagangan erat dengan negeri tersebut.

Wakil General Manager sekaligus Kepala Teknisi Guangxi Pinglu Canal Construction Co. Ltd, Pan Jian, mengungkapkan progres pembangunan saat ini telah mencapai 96 persen. Seluruh konstruksi utama sudah selesai dan kini memasuki tahap pengujian.

“Pekerjaan konstruksi utama, termasuk hub navigasi, rekayasa saluran, dan jembatan yang melintasi terusan sudah selesai dikerjakan. Saat ini kami sedang melakukan pengaliran air untuk uji coba, pengujian, serta kalibrasi fasilitas navigasi dan infrastruktur pendukung lainnya. Targetnya bisa beroperasi penuh bulan September nanti,” jelasnya.

Nilai investasi proyek ini mencapai 72,7 miliar yuan atau sekitar Rp 190,83 triliun. Jalurnya membentang dari Muara Pingtang di Hengzhou, Nanning, melewati wilayah Lingshan di Qinzhou, hingga bermuara di Teluk Beibu.

Setelah beroperasi, Terusan Pinglu diperkirakan mampu menghemat biaya logistik lebih dari 50 miliar yuan setiap tahun. 

Jalur baru ini juga memangkas jarak transportasi sungai pedalaman antara Guangxi dan kawasan ASEAN hingga lebih dari 560 kilometer dibandingkan rute yang selama ini melalui Pelabuhan Guangzhou.

Kemampuan angkutnya pun tidak main-main. Terusan tersebut diproyeksikan dapat melayani arus kargo hingga 80 juta ton per tahun. 

Kapal-kapal berkapasitas 5.000 hingga 10.000 ton akan menjadi pengguna utama jalur pelayaran baru tersebut.

Selain mengejar efisiensi ekonomi, Tiongkok juga mencoba meminimalkan dampak lingkungan dari proyek raksasa ini. Di sejumlah titik, dibangun jalur khusus yang memungkinkan satwa liar tetap bermigrasi dengan aman. 

Pemerintah setempat juga memasang sistem pemantauan berbasis kecerdasan buatan (AI) dan sonar untuk memantau pergerakan ikan serta menjaga habitat mereka dari aktivitas pelayaran.

Bagi Indonesia, kehadiran Terusan Pinglu berpotensi membuka jalur distribusi yang lebih efisien menuju kawasan industri di pedalaman Tiongkok. 

Selama ini Indonesia menjadi salah satu pemasok utama bahan baku penting seperti batu bara, nikel, dan minyak kelapa sawit.

Ketika terusan mulai beroperasi, kapal-kapal pengangkut komoditas dari Indonesia yang bersandar di Guangxi dapat membongkar muatan yang kemudian langsung didistribusikan ke kawasan industri di pedalaman Tiongkok. 

Proses distribusi menjadi lebih singkat karena tidak lagi harus melalui jalur transit yang lebih panjang di Guangzhou.

Jika target operasional September tercapai, Terusan Pinglu bukan hanya menjadi proyek teknik yang mengubah bentang alam Guangxi. Jalur ini juga berpotensi mengubah peta perdagangan antara Tiongkok dan ASEAN dalam beberapa dekade mendatang. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#beijing #pelayaran #tiongkok #pelabuhan #buleleng