Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Satu Kelas, Puluhan Negara: Jurnalis Dunia Belajar Lanskap Media Tiongkok dari Dekat

Eka Prasetya • Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:41 WIB
KELAS INTERNASIONAL: Suasana di ruang perkuliahan Lide Building, Renmin University of China. Puluhan jurnalis dari berbagai belahan dunia belajar mengenali lanskap media Tiongkok lewat perkuliahan. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
KELAS INTERNASIONAL: Suasana di ruang perkuliahan Lide Building, Renmin University of China. Puluhan jurnalis dari berbagai belahan dunia belajar mengenali lanskap media Tiongkok lewat perkuliahan. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

PAGI itu suasana di Lide Building, Renmin University of China (RUC), Beijing, terasa berbeda dari ruang kuliah pada umumnya. 

Di dalam kelas, puluhan jurnalis dari berbagai penjuru dunia duduk berdampingan. 

Ada yang datang dari Ghana, Nigeria, Maladewa, sejumlah negara Amerika Latin, hingga Eropa. Saya sendiri hadir sebagai peserta dari Indonesia.

Tak ada seragam mahasiswa. Tak ada pula tugas kuliah yang menumpuk. Namun, rasa ingin tahu memenuhi ruangan itu. 

Kami adalah peserta China International Press Communication Center (CIPCC), program yang setiap tahun mempertemukan jurnalis internasional untuk memahami Tiongkok dari dekat.

Di depan kelas berdiri Prof. Zhong Xin, Wakil Dekan Fakultas Jurnalistik dan Komunikasi RUC sekaligus Direktur Departemen Internasional School of Journalism and Communication. 

Selama hampir 30 tahun mengajar, ia telah menyaksikan bagaimana program ini berkembang dari sebuah forum kecil menjadi ruang perjumpaan jurnalis dunia.

"Tahun ini berbeda," kata Prof. Zhong membuka perkuliahan.

Perbedaan yang dimaksud bukan terletak pada materi atau jumlah peserta. Untuk pertama kalinya dalam sejarah program, para peserta CIPCC tinggal di lingkungan kampus Renmin University. 

Mereka menempati asrama mahasiswa dan menjalani kehidupan kampus layaknya mahasiswa internasional.

“Biasanya peserta tinggal di luar kampus. Tahun ini mereka tinggal di asrama sehingga bisa berinteraksi lebih dekat dengan mahasiswa Renmin University,” ujarnya.

Keputusan itu bukan tanpa alasan. CIPCC memang tidak hanya dirancang sebagai program akademik. Lebih dari itu, program ini menjadi ruang pertukaran budaya, gagasan, dan pengalaman antarbangsa.

Dalam pemaparannya, Prof. Zhong mengajak kami menelusuri perjalanan panjang CIPCC.

Awalnya, program tersebut lahir dalam bentuk China-Africa Press Centre (CAPC) yang hanya diikuti sekitar 10 jurnalis asal Afrika. 

Seiring meningkatnya minat peserta dari berbagai negara, program itu berkembang menjadi China International Press Communication Center (CIPCC) pada 2015 dengan cakupan yang jauh lebih luas.

Perjalanan itu terus berlanjut. Pada 2017, peserta dari Asia Selatan mulai bergabung. Kini CIPCC menjelma menjadi forum global yang mempertemukan jurnalis dari berbagai benua.

Tahun 2026 menjadi tonggak baru lainnya. Untuk pertama kalinya program dijalankan dalam lima bahasa sekaligus, yakni Inggris, Arab, Rusia, Spanyol, dan Prancis.

“Bahasa Inggris masih menjadi kelas terbesar tahun ini,” ujar Prof. Zhong.

Pandemi Covid-19 sempat menghentikan ritme program tersebut. Pada 2020 seluruh kegiatan dilakukan secara daring melalui video rekaman. 

Setahun kemudian perkuliahan berlangsung melalui Zoom. Barulah pada 2022 kegiatan kembali berjalan normal dengan pertemuan tatap muka.

Durasi program pun mengalami sejumlah penyesuaian. Jika sebelumnya berlangsung hingga 10 bulan, sejak 2023 dipersingkat menjadi empat bulan dan dilaksanakan dua kali setahun. Khusus tahun ini, program berlangsung selama tiga bulan.

Namun bagi Prof. Zhong, ukuran keberhasilan CIPCC bukanlah lamanya program berlangsung.

Yang lebih penting adalah dampak yang ditinggalkan setelah para peserta kembali ke negara masing-masing.

Hingga saat ini, CIPCC bersama Renmin University telah melahirkan sekitar 500 "China Experts" dari kalangan jurnalis internasional.

Sebagian melanjutkan studi magister dan doktoral di universitas-universitas bergengsi Tiongkok seperti Renmin University of China, Tsinghua University, dan Peking University.

Sebagian lainnya memilih berkarir di media-media Tiongkok atau menjadi koresponden yang secara khusus meliput isu-isu terkait negeri tersebut.

Ada pula yang mendirikan media sendiri dengan fokus hubungan ekonomi antara Tiongkok dan negaranya. Salah satu contohnya adalah Media Ikenna di Nigeria yang banyak mengangkat kerja sama ekonomi Afrika-Tiongkok.

“Banyak peserta mengatakan program ini mengubah karier dan hidup mereka,” ungkap Prof. Zhong.

Pada sesi kuliah bertajuk *Key Concepts and Practices in Media Transformation and Development of China*, Prof. Zhong kemudian menjelaskan bagaimana media Tiongkok beradaptasi menghadapi revolusi digital.

Ia memaparkan bahwa sistem media di negara itu terbagi dalam empat tingkatan, mulai dari media nasional seperti CCTV dan People's Daily, media tingkat provinsi, tingkat kota, hingga tingkat kabupaten.

Menurutnya, media arus utama di Tiongkok kini tidak lagi bergantung pada satu platform. Website, aplikasi seluler, media sosial, hingga konten video telah terintegrasi dalam satu ekosistem.

“Sekarang masyarakat lebih menyukai video daripada membaca. Ini bukan hanya tantangan di Tiongkok, tetapi juga fenomena global,” jelasnya.

Transformasi tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak awal 1990-an. People's Daily hadir di internet pada 1996, kemudian diikuti CCTV, Xinhua News Agency, dan berbagai media besar lainnya.

Kebijakan konvergensi media yang diterapkan pemerintah semakin mempercepat proses digitalisasi tersebut. 

Salah satu fokus utamanya adalah memperkuat media di tingkat kabupaten agar mampu menyampaikan informasi yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.

“Tiongkok memiliki 2.844 county atau kabupaten. Karena itu penguatan media lokal menjadi sangat penting,” katanya.

Meski membahas topik serius seputar masa depan media, suasana kelas tidak selalu kaku.

Di tengah sesi kuliah, seorang peserta asal Ghana tiba-tiba mengangkat bendera kecil negaranya. Momen sederhana itu justru mengalihkan pembahasan ke topik yang sama sekali berbeda: sepak bola.

Diskusi pun mengalir membahas Piala Dunia, termasuk perjalanan tim nasional Tiongkok yang baru satu kali tampil di putaran final, yakni pada 2002.

Tawa sesekali pecah di dalam kelas. Ada peserta yang berseloroh bahwa meski jarang tampil di Piala Dunia, Tiongkok selalu hadir melalui berbagai produk dan pernak-pernik yang digunakan selama turnamen berlangsung.

Obrolan ringan itu membuat suasana menjadi cair.

Di ruang kuliah tersebut, kami memang belajar tentang media, transformasi digital, dan perkembangan Tiongkok. Namun lebih dari itu, kami belajar memahami satu sama lain.

Karena pada akhirnya, inti dari CIPCC bukan sekadar mengenal Tiongkok. Melainkan mempertemukan berbagai perspektif dunia dalam satu ruang, satu kelas, dan satu percakapan. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#beijing #tiongkok #media #buleleng #jurnalis