Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
DEBUM genderang memecah udara pagi di Grand Canal, Distrik Tongzhou, sisi timur Beijing. Suaranya keras, berirama, dan terus bertambah cepat. Ribuan orang yang memadati tepian kanal pun seolah tersedot menuju sumber bunyi itu.
Beberapa saat kemudian, perahu-perahu panjang berhias kepala naga meluncur kencang membelah permukaan air. Sepuluh pendayung mengayunkan dayung secara serempak mengikuti aba-aba penabuh genderang yang duduk di bagian depan perahu. Setiap hentakan dayung disambut sorak penonton yang memenuhi kedua sisi kanal.
Ketika dua perahu melaju berdampingan menuju garis finis, riuh tepuk tangan dan teriakan dukungan semakin membahana.
Suasana itu menjadi bagian dari kemeriahan Dragon Boat Festival atau Duanwu Jie, salah satu perayaan budaya paling penting di Tiongkok yang tahun ini berlangsung pada Jumat (19/6/2026) hingga Minggu (21/6/2026).
Tahun ini saya mendapat kesempatan istimewa untuk melihat langsung tradisi tersebut. Saya pun mendatangi salah satu titik pelaksanaan festival di Kota Beijing, pada Sabtu (20/6/2026).
Dari kampus Renmin University of China (RUC) di Distrik Haidian, perjalanan menuju lokasi ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Dengan subway Beijing, saya hanya perlu menuju Stasiun Beiyunhe Xi. Sekitar satu jam perjalanan, lalu berjalan kaki beberapa menit, Grand Canal sudah terlihat di depan mata.
Bahkan sebelum tiba di lokasi utama, nuansa festival sudah terasa kuat. Arus manusia bergerak menuju tepian kanal. Food truck berjajar di sepanjang pedestrian. Petugas kepolisian berjaga di berbagai titik untuk mengatur lalu lintas pengunjung dan memastikan area tetap aman.
Keluarga, pasangan muda, anak-anak hingga wisatawan asing berbaur menikmati akhir pekan musim panas yang cerah. Semuanya mengarah ke satu titik yang sama: perlombaan perahu naga.
Di atas air, setiap perahu diisi 12 orang. Sepuluh pendayung menjadi motor utama perahu. Seorang penabuh genderang bertugas menjaga ritme, sementara satu orang lainnya berdiri di bagian belakang sebagai pengemudi.
Sekilas, perlombaan ini tampak mengandalkan kekuatan fisik. Namun semakin lama memperhatikan, saya menyadari bahwa faktor terpenting justru kekompakan. Sedikit saja ada kayuhan yang terlambat, ritme langsung terganggu dan kecepatan perahu menurun.
Karena itu, setiap tim bergerak seperti satu tubuh. Dayung terangkat bersamaan, menghantam air secara serempak, lalu kembali terangkat dalam ritme yang nyaris sempurna.
Sesekali penonton berteriak lebih keras saat dua perahu bersaing ketat dengan selisih hanya beberapa meter. Momen-momen seperti itu membuat suasana festival terasa hidup dan penuh energi.
Namun kemeriahan Dragon Boat Festival tidak berhenti pada perlombaan. Di sela-sela kompetisi, sejumlah perahu naga tradisional berlayar menyusuri kanal. Warnanya mencolok dengan panji-panji berwarna-warni yang berkibar diterpa angin musim panas. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa festival ini bukan sekadar ajang olahraga, melainkan perayaan budaya yang telah hidup selama ribuan tahun.
Melihat pemandangan tersebut, pikiran saya tiba-tiba melayang ke Indonesia.
Ada nuansa yang terasa begitu akrab. Deretan perahu panjang, antusiasme penonton, hingga semangat kompetisi yang menyatukan ribuan orang mengingatkan saya pada Festival Pacu Jalur di Riau yang sempat menjadi perhatian dunia beberapa waktu lalu.
Meski lahir dari latar budaya berbeda, keduanya memiliki kesamaan yang kuat. Tradisi tidak hanya disimpan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus dirawat, diwariskan, dan dirayakan oleh generasi berikutnya.
Bagi masyarakat Tiongkok, Dragon Boat Festival memang memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada perlombaan perahu. Festival ini dirayakan setiap hari kelima bulan kelima dalam kalender lunar dan telah menjadi bagian penting dari identitas budaya bangsa tersebut selama berabad-abad.
Pada masa lampau, datangnya musim panas sering dikaitkan dengan meningkatnya penyakit dan berbagai ancaman kesehatan. Karena itu, festival ini juga menjadi momentum ritual perlindungan diri.
Masyarakat menggantung daun mugwort dan calamus di depan rumah untuk mengusir serangga serta energi negatif. Anak-anak mengenakan kantong kecil berisi ramuan herbal yang dipercaya membawa keberuntungan sekaligus menjaga kesehatan.
Ada pula tradisi menyantap zongzi, makanan berbahan dasar ketan yang dibungkus daun bambu dan diisi beragam bahan, mulai dari daging hingga kacang-kacangan. Di masa lalu, sebagian zongzi bahkan dilempar ke sungai sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Tak heran jika pada 2009 Dragon Boat Festival resmi diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Pengakuan itu menjadikannya festival tradisional Tiongkok pertama yang masuk dalam daftar bergengsi tersebut.
Kemeriahan festival pagi itu juga dirasakan para jurnalis internasional peserta China International Press Communication Center (CIPCC).
Saurabh Kumar, jurnalis asal India, mengaku beruntung bisa berada di Tiongkok saat festival berlangsung.
“Sangat menyenangkan bisa melihat langsung Dragon Boat Festival. Kami hanya punya waktu tiga bulan di Tiongkok, lalu tepat saat kami berada di sini ada festival ini. Kenapa tidak menyempatkan waktu untuk menyaksikannya? Sangat menarik mengetahui budaya dan tradisi dari negara lain,” ujarnya.
Kesan serupa disampaikan Maneenat Onpanna dari Thailand. Meski telah beberapa kali mengunjungi Tiongkok, baru kali ini ia menyaksikan Dragon Boat Festival secara langsung.
“Sangat menyenangkan. Saya sudah beberapa kali datang ke Tiongkok, tetapi ini pertama kali melihat Dragon Boat Festival secara langsung. Biasanya saya hanya menonton dari ponsel, sekarang saya melihatnya sendiri. Energinya benar-benar terasa,” katanya.
Menjelang siang, perlombaan demi perlombaan terus berlangsung. Genderang masih ditabuh tanpa henti. Dayung terus menghantam air. Sorak penonton tetap menggema dari kedua sisi Grand Canal.
Di tengah Beijing yang modern dengan gedung-gedung tinggi dan jaringan transportasi yang serba cepat, saya melihat satu hal yang menarik. Tradisi tidak sedang bertahan hidup. Tradisi justru hidup, berkembang, dan dirayakan dengan penuh kebanggaan. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya