Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

SLF 2026 Angkat Peran Perempuan dalam Peradaban Bali, Hadirkan Sederet Sastrawan Nasional di Gedong Kirtya

Francelino Junior • Selasa, 23 Juni 2026 | 09:45 WIB
JELASKAN FESTIVAL: Direktur Singeraja Literary Festival, Kadek Sonia Piscayanti (kanan) dan Pendiri Singaraja Literary Festival, Made Adnyana Ole (kiri). (Francelino Junior/Radar Buleleng)
JELASKAN FESTIVAL: Direktur Singeraja Literary Festival, Kadek Sonia Piscayanti (kanan) dan Pendiri Singaraja Literary Festival, Made Adnyana Ole (kiri). (Francelino Junior/Radar Buleleng)

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Perempuan bukan sekadar pelengkap dalam kehidupan. Di Bali, perempuan justru menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan semesta, merawat peradaban, hingga meneruskan pengetahuan lintas generasi. 

Gagasan itulah yang akan menjadi ruh utama dalam Singaraja Literary Festival (SLF) 2026.

Festival sastra tahunan yang memasuki tahun keempat penyelenggaraannya itu akan digelar di kawasan Gedong Kirtya, Singaraja, mulai 3 hingga 5 Juli mendatang. 

Sejumlah tokoh sastra, budayawan, akademisi, hingga penulis muda dari berbagai daerah dipastikan ambil bagian dalam perhelatan tersebut.

Nama-nama seperti Filolog Sugi Lanus, sastrawan Oka Rusmini, Romo A. Setyo Wibowo, Ratih Kumala, JS Khairen, Sasti Gotama, Prof. I Nyoman Darma Putra, hingga I Ketut Eriadi Ariana dijadwalkan hadir dalam berbagai sesi diskusi dan pertemuan sastra.

Tahun ini, SLF mengusung tema "Stri Sasana: Energi Keseimbangan Semesta". Tema tersebut diambil dari naskah lontar Stri Sasana yang tersimpan di Gedong Kirtya Singaraja, Buleleng. 

Naskah itu diwariskan dalam bentuk tutur maupun geguritan dan memuat berbagai nilai kehidupan yang berkaitan dengan perempuan.

Direktur SLF, Kadek Sonia Piscayanti, menjelaskan bahwa kata stri dalam bahasa Jawa Kuno berarti perempuan, sedangkan sasana berarti ajaran, etika, aturan, dan landasan moral. 

Karena itu, Stri Sasana dapat dimaknai sebagai ajaran tentang perempuan yang memuat nilai-nilai moral dan tata kehidupan.

Namun menurut Sonia, pemaknaan naskah tersebut tidak boleh dibaca secara sempit sebagai upaya menempatkan perempuan sebagai objek dalam sistem patriarki.

"Stri Sasana justru mengandung nilai agar perempuan tangguh menghadapi tantangan, mampu memainkan berbagai peran, bijak, dan bermartabat sesuai kedudukannya di masyarakat," ujarnya, Senin (22/6/2026).

Ia menambahkan, naskah tersebut menunjukkan bahwa perempuan sejak lama telah menjadi bagian penting dalam bangunan pengetahuan Bali. 

Karena itu, keberadaan perempuan tidak bisa dipisahkan dari perjalanan sejarah, budaya, dan perkembangan intelektual masyarakat Bali.

Dalam kosmologi Bali, perempuan dipandang sebagai energi penciptaan, pemeliharaan, sekaligus keberlanjutan kehidupan. Energi feminin menjadi salah satu unsur yang menjaga harmoni alam semesta.

Karena itu, SLF 2026 ingin menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan nilai-nilai tradisi dengan pemikiran kontemporer. 

Festival ini juga ingin menunjukkan bahwa gagasan kesetaraan dan penghormatan terhadap perempuan sesungguhnya telah hidup dalam khazanah pengetahuan lokal Bali.

"Ini menunjukkan bahwa kedudukan perempuan menjadi bagian yang sejajar dalam peradaban pengetahuan Bali," lanjut Sonia.

Lebih jauh, tema yang diangkat tahun ini diharapkan mampu membuka ruang percakapan antara masa lalu dan masa kini. 

Melalui pembacaan ulang naskah kuno, masyarakat diajak memahami bagaimana leluhur memandang perempuan sekaligus menafsirkan kembali nilai-nilai tersebut agar tetap relevan dengan kehidupan modern.

Pemilihan Gedong Kirtya sebagai pusat kegiatan juga bukan tanpa alasan. Singaraja selama ini dikenal sebagai salah satu pusat intelektual penting di Bali. 

Gedong Kirtya sendiri merupakan perpustakaan lontar tertua di Bali yang menyimpan ribuan manuskrip kuno berisi berbagai pengetahuan tentang sastra, sejarah, pengobatan tradisional, hukum adat, etika, hingga kosmologi.

Namun, di tengah arus modernisasi dan perubahan pola literasi masyarakat, berbagai manuskrip tersebut perlahan semakin jauh dari kehidupan publik. 

Banyak naskah tersimpan dengan baik, tetapi belum sepenuhnya menjadi bagian dari percakapan masyarakat masa kini.

Karena itu, SLF hadir sebagai jembatan yang menghubungkan kembali pengetahuan masa lalu dengan generasi sekarang melalui berbagai forum diskusi, pembacaan karya sastra, lokakarya, hingga pertunjukan budaya.

Pendiri SLF, Made Adnyana Ole, menambahkan bahwa festival ini tidak hanya bertujuan menghidupkan tradisi literasi dan sastra di Buleleng. Lebih dari itu, SLF juga menjadi sarana promosi Kota Singaraja kepada publik nasional.

"Kegiatan ini juga mempromosikan potensi sastra dan Kota Singaraja. Kami berharap bisa memberikan dampak ekonomi, meningkatkan tingkat hunian hotel, sekaligus menarik lebih banyak pengunjung dari luar Bali datang ke Singaraja," ujarnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#bali #gedong kirtya #perempuan #Singaraja Literary Festival #buleleng