Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Melihat "Pis Bolong" di Beijing, Jejak Dagang Tiongkok yang Bertahan Ribuan Tahun

Eka Prasetya • Selasa, 23 Juni 2026 | 19:37 WIB
KOLEKSI KERAMIK: Suasana di Museum of Foreign Economic and Trade Relations di lingkungan University of International Business and Economics (UIBE), Beijing. Keramik yang dipajang merupakan salah satu komoditas dalam perdagangan lewat jalur sutra yang dilakukan Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
KOLEKSI KERAMIK: Suasana di Museum of Foreign Economic and Trade Relations di lingkungan University of International Business and Economics (UIBE), Beijing. Keramik yang dipajang merupakan salah satu komoditas dalam perdagangan lewat jalur sutra yang dilakukan Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

SEKILAS, benda itu tampak biasa saja. Sebuah koin kuno berlubang di tengahnya tersimpan di balik etalase kaca. Warnanya telah berubah kehijauan dimakan usia. Namun dari benda kecil itulah tersimpan jejak panjang perjalanan perdagangan Tiongkok yang membentang selama berabad-abad.

Kisah tersebut saya temukan saat berkunjung ke Museum of Foreign Economic and Trade Relations di lingkungan University of International Business and Economics (UIBE), Beijing, Senin (22/6/2026). 

Bersama puluhan jurnalis dari kawasan Asia Pasifik dan Karibia yang mengikuti program China International Press Communication Center (CIPCC), saya diajak menyusuri sejarah hubungan dagang Tiongkok dengan dunia luar sejak masa Jalur Sutra hingga era perdagangan global modern.

Museum ini memiliki posisi penting di Tiongkok. Ia menjadi museum profesional pertama yang secara khusus mendokumentasikan sejarah perdagangan luar negeri dan kerja sama ekonomi negara tersebut. Lebih dari seribu artefak dan dokumen sejarah tersimpan di dalamnya.

Memasuki ruang pameran, pengunjung langsung diajak menengok masa lampau. Berbagai mata uang kuno, dokumen perdagangan, hingga barang-barang peninggalan dinasti terdahulu tertata rapi di balik kaca.

Salah satu koleksi yang paling menarik perhatian adalah uang bolong dari Dinasti Song yang berkuasa pada tahun 960 hingga 1279. Pada masa itu, ribuan keping uang dirangkai menjadi satu untuk memudahkan transaksi perdagangan.

Museum bahkan memamerkan satu rangkaian yang terdiri atas seribu keping uang. Menurut penjelasan yang saya terima, rangkaian tersebut dahulu kerap digunakan kalangan kaya dan bahkan dikenakan layaknya sabuk.

Saat melihatnya dari dekat, saya langsung teringat Bali. Bentuk, ukuran, hingga karakter huruf pada uang tersebut sangat mirip dengan pis bolong atau uang kepeng yang hingga kini masih digunakan masyarakat Bali sebagai sarana upacara keagamaan.

Kesamaan itu menjadi pengingat bahwa jalur perdagangan kuno tidak hanya memindahkan barang, tetapi juga budaya dan pengaruh antardaerah yang berjauhan.

Di bagian lain museum, tersimpan sebuah gelas perak dari Dinasti Tang yang berkuasa pada tahun 618 hingga 907. Benda tersebut diyakini digunakan sebagai wadah minum anggur pada zamannya.

Berbagai artefak yang dipamerkan menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan internasional telah berlangsung jauh sebelum era modern. Pedagang Tiongkok kala itu membawa sutra, keramik, dan berbagai produk lainnya ke berbagai wilayah dunia. 

Sebagai imbalannya, mereka membawa pulang rempah-rempah, logam, dan komoditas bernilai tinggi dari negeri-negeri yang mereka singgahi.

Menariknya, perdagangan juga mempertemukan beragam budaya. Sebuah benda yang memiliki fungsi tertentu di Tiongkok bisa dimanfaatkan secara berbeda di negara lain. Salah satu contohnya adalah guci yang di Tiongkok digunakan sebagai lampu minyak, tetapi di Eropa justru dimanfaatkan sebagai vas bunga.

Namun museum ini tidak hanya bercerita tentang barang dagangan. Ada pula kisah tentang manusia dan bagaimana keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan menjadi bagian dari perjalanan modernisasi Tiongkok.

Salah satu dokumentasi memperlihatkan foto sekelompok pelajar Tiongkok yang berangkat ke Amerika Serikat pada tahun 1872. Mereka masih berusia antara 12 hingga 15 tahun.

Kala itu, sebanyak 30 pelajar diberangkatkan dari Shanghai untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Program tersebut kemudian berkembang hingga mengirim total 120 pelajar secara bertahap.

Foto-foto hitam putih yang terpajang di museum menjadi bukti bahwa Tiongkok telah membuka diri terhadap transfer ilmu pengetahuan dari luar negeri sejak lebih dari satu abad lalu.

Perjalanan sejarah kemudian berlanjut ke era yang lebih dekat. Pengunjung diajak melihat bagaimana Tiongkok membangun hubungan perdagangan internasional pada dekade 1950-an.

Saat itu, kerja sama ekonomi negara tersebut banyak dilakukan dengan Uni Soviet, negara-negara Eropa Timur, serta sejumlah negara berkembang di Afrika. Berbagai dokumen perdagangan, stempel resmi, hingga perlengkapan administrasi diplomasi ekonomi masih tersimpan dengan baik.

Namun perhatian saya tertuju pada sebuah benda sederhana yang dipajang di bagian akhir museum.

Sebuah pulpen.

Tidak mewah. Tidak berlapis emas. Bentuknya bahkan terlihat biasa dibandingkan koleksi lain yang ada di ruangan itu.

Tetapi pulpen tersebut memiliki nilai sejarah yang luar biasa. Benda itu digunakan saat penandatanganan bergabungnya Tiongkok ke Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO pada 11 November 2001 di Doha, Qatar.

Pulpen itu digunakan langsung oleh Shi Guangsheng, Menteri Ekonomi dan Perdagangan Luar Negeri Tiongkok saat itu.

Liu, penerjemah sekaligus pemandu museum yang mendampingi rombongan CIPCC, menjelaskan bahwa pulpen tersebut termasuk benda bersejarah yang sangat langka.

“Hanya ada empat. Satu disimpan di museum ini, satu di kementerian, satu di museum nasional, dan satu lagi disimpan oleh asisten pribadi beliau,” jelasnya.

Di depan etalase itu, perjalanan panjang perdagangan Tiongkok terasa tergambar utuh. Dari uang bolong yang digunakan para pedagang di masa Dinasti Song, kapal-kapal yang melintasi Jalur Sutra, pertukaran barang dan budaya dengan berbagai bangsa, hingga sebuah pena yang menandai masuknya Tiongkok ke sistem perdagangan global modern. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#beijing #museum #tiongkok #china #buleleng