Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
ROBOT anjing berwarna putih itu melangkah perlahan di antara deretan peralatan pembangkit listrik. Sesekali ia berhenti, mengarahkan sensor ke panel-panel kelistrikan, lalu mengirimkan data hasil pemeriksaan ke pusat kendali.
Tak jauh dari sana, sebuah video menampilkan robot bawah air yang menyelam menelusuri struktur bendungan. Tugasnya bukan sekadar berenang. Robot itu mampu mendeteksi retakan yang bahkan sulit ditemukan mata manusia.
Di langit, drone cerdas bersiap melakukan patroli. Dari ketinggian, perangkat itu memetakan kondisi bendungan dan fasilitas energi secara real time.
Pemandangan tersebut terasa lebih cocok ditemukan dalam film fiksi ilmiah dibandingkan kompleks pembangkit listrik.
Namun itulah yang disaksikan puluhan jurnalis dari kawasan Asia Pasifik peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) saat mengunjungi China Datang Gaojing Integrated Energy Base di Beijing, Selasa (23/6/2026).
Kunjungan itu membuka satu fakta menarik. Transisi energi yang sedang dijalankan Tiongkok ternyata tidak hanya berbicara soal mengganti batu bara dengan energi terbarukan. Di baliknya, ada investasi besar pada teknologi, digitalisasi, kecerdasan buatan (AI), hingga robotika.
* * *
China Datang International Power Generation Co., Ltd. merupakan salah satu raksasa energi milik negara di Tiongkok. Perusahaan yang berdiri pada 29 Desember 2002 itu memiliki modal terdaftar mencapai 37 miliar yuan atau sekitar Rp 84 triliun lebih.
Bisnisnya membentang dari pembangkit listrik, pertambangan batu bara, energi baru dan terbarukan, penyimpanan energi, hidrogen, hingga teknologi digital.
Hingga akhir 2025, kapasitas pembangkit yang dikelola grup tersebut mencapai 214 gigawatt. Yang menarik, lebih dari separuh kapasitas itu kini berasal dari energi bersih.
Angka itu menjadi bukti bagaimana transformasi energi di Tiongkok berlangsung sangat cepat.
Perubahan tersebut mulai dipacu sejak 2014 ketika China Datang mempercepat langkah meninggalkan ketergantungan pada energi berbasis batubara dan memperluas investasi pada energi ramah lingkungan.
Jejak transformasi itu terlihat jelas saat rombongan memasuki Gaojing Research and Development Office milik China Datang Science and Technology General Research Institute.
Fasilitas yang mulai beroperasi pada 2023 tersebut menjadi pusat pengembangan teknologi energi cerdas yang menopang sistem energi masa depan Tiongkok.
* * *
Di salah satu ruang penelitian, para ilmuwan memperkenalkan sistem kontrol utama turbin angin bernama Zhouxi.
Teknologi yang dikembangkan secara mandiri tersebut memungkinkan turbin angin beroperasi tanpa bergantung pada teknologi impor.
Saat ini sistem tersebut telah digunakan pada hampir 300 turbin angin yang tersebar di tujuh provinsi di Tiongkok.
Namun perhatian para jurnalis justru lebih banyak tersita oleh deretan robot yang dipamerkan.
Robot bawah air menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian. Perangkat ini mampu melakukan inspeksi bendungan pembangkit listrik tenaga air, mendeteksi retakan, kerusakan struktur, hingga titik-titik yang sulit dijangkau penyelam manusia.
Sementara itu, robot anjing berkaki empat tampak berpatroli secara mandiri.
Dengan dukungan AI, robot tersebut mampu memeriksa instalasi listrik, mengidentifikasi anomali peralatan, hingga membantu proses pemeliharaan fasilitas pembangkit.
Tak kalah menarik, drone inspeksi dapat terbang otomatis menyisir area pembangkit dan bendungan untuk mengumpulkan data kondisi fasilitas secara cepat dan akurat.
Ada pula "Zhijian No. 1", robot pemanjat pertama di Tiongkok yang dirancang khusus untuk memeriksa sambungan las pada menara turbin angin.
Jika sebelumnya pekerjaan tersebut harus dilakukan pekerja di ketinggian puluhan meter dengan risiko tinggi, kini proses inspeksi dapat dilakukan secara otomatis dan jauh lebih aman.
Semua perangkat itu saling terhubung melalui jaringan digital dan teknologi komunikasi 5G yang memungkinkan pemantauan dilakukan dari satu pusat kendali.
* * *
Transformasi digital juga tampak di pusat data energi milik China Datang.
Di sana, perusahaan mengembangkan sistem prediksi produksi listrik berbasis kecerdasan buatan.
AI digunakan untuk mengolah data cuaca, kondisi peralatan, serta riwayat produksi listrik dari pembangkit tenaga surya dan angin. Hasilnya, pasokan energi terbarukan dapat diprediksi dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi.
Kemampuan tersebut menjadi sangat penting karena energi hijau memiliki karakter yang bergantung pada kondisi alam.
Semakin besar porsi energi terbarukan dalam sistem kelistrikan, semakin besar pula kebutuhan terhadap teknologi yang mampu menjaga stabilitas pasokan listrik.
Setelah mengunjungi pusat riset, rombongan kemudian diajak melihat command center pembangkit listrik termal berkapasitas 718,12 megawatt.
Dari ruangan yang dipenuhi layar raksasa itu, operator dapat memantau seluruh aktivitas pembangkit secara real time.
Meski masih mengoperasikan pembangkit termal, arah pengembangan perusahaan kini semakin jelas: menuju sistem energi rendah karbon.
* * *
Optimisme terhadap masa depan energi hijau juga dibawa China Datang ke luar negeri, termasuk Indonesia.
Director of Digital and Intelligence Department China Datang, Mr. Li, mengungkapkan bahwa perusahaannya saat ini tengah menjajaki sejumlah peluang kerja sama pengembangan energi baru dan terbarukan di Indonesia.
"Kami memiliki beberapa proyek kerja sama dengan Indonesia. Setidaknya ada empat provinsi yang sedang kami jajaki. Ada departemen lain di perusahaan kami yang juga sedang mengeksplorasi peluang pengembangan energi baru dan terbarukan di Indonesia," ujarnya.
Menurut Li, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pemain penting dalam pengembangan energi hijau di kawasan.
"Kami sangat optimistis terhadap pengembangan green energy di Indonesia. Sebelumnya kami juga telah memberikan dukungan teknis untuk sejumlah proyek di Indonesia," katanya.
Kunjungan ke Gaojing Integrated Energy Base menunjukkan bahwa masa depan energi tidak hanya dibangun melalui panel surya atau turbin angin.
Di balik transisi energi, terdapat investasi besar pada riset, kecerdasan buatan, digitalisasi, dan robotika yang bekerja secara bersamaan.
Pelajaran itu relevan bagi Indonesia, termasuk Bali yang tengah berambisi menjadi pelopor energi bersih nasional. Sebab, transisi energi bukan hanya soal membangun pembangkit hijau, tetapi juga membangun ekosistem teknologi yang mampu menopangnya dalam jangka panjang. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya