Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
AROMA rendang langsung memenuhi ruangan sesaat tutup saji dibuka. Wanginya bercampur dengan gurih nasi uduk, pedas ikan balado, hangatnya sayur sop, serta renyah kerupuk yang tersusun rapi di meja makan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing, kawasan Chaoyang, Rabu (25/6/2026) malam.
Di ujung lain meja, ada onde-onde, lumpia, hingga kue mutiara ikut melengkapi jamuan. Bagi sebagian tamu, deretan hidangan itu mungkin sekadar menu makan malam. Namun bagi saya dan Nadia Ayu Soraya, jurnalis Metro TV yang sama-sama mengikuti program China International Press Communication Center (CIPCC), santapan itu menghadirkan sesuatu yang jauh lebih berharga: rasa rumah.
Sudah satu setengah bulan kami berada di Tiongkok sejak tiba pada pertengahan Mei. Selama itu pula lidah terbiasa dengan cita rasa Negeri Tirai Bambu. Maka ketika suapan pertama nasi uduk berpadu sambal dan rendang masuk ke mulut, rasa rindu kepada Indonesia seolah luruh seketika.
*"Kangen makanan Indonesia akhirnya terobati. Ketemu rasa yang benar-benar pas dengan masakan di Indonesia," ujar Nadia sembari menambahkan sambal ke piringnya.
Malam itu menjadi kunjungan pertama kami ke KBRI Beijing. Undangan datang langsung dari Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia, Djauhari Oratmangun.
Begitu melangkah memasuki kompleks KBRI, nuansa Indonesia langsung terasa. Batik dikenakan hampir seluruh tamu. Wayang menghiasi beberapa sudut ruangan. Di tengah Kota Beijing yang berjarak lebih dari 5.000 kilometer dari Jakarta, suasana itu menghadirkan rasa yang sulit dijelaskan—seolah pulang, meski hanya untuk beberapa jam.
Djauhari Oratmangun, yang akrab disapa Pak Jo, menyambut tamu satu per satu dengan senyum hangat. Keramahan serupa juga ditunjukkan sang istri, Wiwik Oratmangun. Tak hanya diplomat dan pejabat, malam itu hadir pula puluhan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di berbagai universitas di Tiongkok.
Suasana semakin akrab ketika para tamu bersama-sama menyanyikan lagu-lagu nasional. "Tanah Airku", "Rayuan Pulau Kelapa", hingga "Sio Mama" bergema memenuhi ruangan. Beberapa tamu ikut bernyanyi lirih, sementara yang lain mengabadikan momen dengan telepon genggam. Jauh dari kampung halaman, lagu-lagu itu terdengar lebih emosional dibanding biasanya.
Jamuan tersebut digelar untuk menyambut Ketua Badan Legislasi DPR RI, Bob Hasan; Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Febrian Alphyanto Ruddyard, serta rombongan Komite III DPD RI yang dipimpin Wakil Ketua Komite III DPD RI, H. Jelita Donal.
Di balik suasana hangat penuh kekeluargaan, malam itu juga menjadi ruang diskusi mengenai hubungan Indonesia dan Tiongkok yang terus berkembang dalam berbagai sektor.
Dalam sambutannya, Dubes Djauhari memaparkan pesatnya peningkatan kerja sama kedua negara sejak hubungan bilateral ditingkatkan menjadi kemitraan strategis komprehensif pada 2013.
Nilai perdagangan yang pada 2017 masih berada di kisaran USD 70 miliar, kini melonjak menjadi sekitar USD 168 miliar pada 2025. Bahkan dalam empat tahun terakhir, Indonesia terus mencatat surplus perdagangan dengan Tiongkok.
"Ketika kami mulai bertugas di sini, investasi Tiongkok ke Indonesia masih sekitar USD 1,2 miliar. Sekarang sudah mencapai sekitar USD 40 miliar," ungkapnya.
Sebagai gambaran, nilai perdagangan Indonesia dengan seluruh negara Uni Eropa berada di kisaran USD 29 miliar. Sementara dengan Australia sekitar USD 10 miliar dan Amerika Serikat sekitar USD 49 miliar.
Tak hanya sektor ekonomi, hubungan politik kedua negara juga semakin erat. Presiden Joko Widodo tercatat tiga kali berkunjung ke Tiongkok selama masa pemerintahannya. Presiden Prabowo Subianto pun telah tiga kali melakukan kunjungan ke Negeri Tirai Bambu. Sebaliknya, Presiden Xi Jinping, Perdana Menteri Tiongkok, hingga sejumlah pimpinan tinggi negara tersebut juga beberapa kali melakukan kunjungan resmi ke Indonesia.
Djauhari juga menaruh harapan besar kepada lebih dari 20 ribu mahasiswa Indonesia yang saat ini menempuh pendidikan di Tiongkok. Menurutnya, mereka akan menjadi jembatan penting dalam memperkuat hubungan kedua negara pada masa mendatang.
Sementara itu, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Febrian Alphyanto Ruddyard menjelaskan tiga agenda utama kunjungan delegasi Indonesia ke Tiongkok.
Agenda pertama adalah menghadiri pameran rantai pasok (supply chain) yang kini menjadi isu strategis dalam perdagangan global. Menurutnya, konsep rantai pasok modern tidak lagi hanya berbicara soal distribusi barang, tetapi juga mencakup keberlanjutan lingkungan, keamanan ekonomi, hingga ketahanan industri nasional.
"Sudah tidak ada lagi negara yang bisa hanya membuat barang murah sendirian," ujarnya.
Agenda berikutnya adalah mengunjungi Beijing University of Chinese Medicine untuk mempelajari sistem pengobatan tradisional yang telah terintegrasi dengan layanan kesehatan nasional Tiongkok.
Febrian menilai Indonesia memiliki kekayaan tanaman herbal yang sangat besar, tetapi pemanfaatannya belum optimal. Berbeda dengan Tiongkok yang telah menempatkan pengobatan tradisional sejajar dengan layanan medis modern, bahkan masuk dalam skema asuransi kesehatan.
"Kalau pendekatan promotif dan preventif bisa diperkuat, biaya kuratif bisa ditekan," jelasnya.
Selain itu, delegasi Indonesia juga mempelajari tata kelola data nasional Tiongkok yang dinilai berhasil mengintegrasikan data lintas sektor. Menurut Febrian, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan data. Tantangan terbesar justru terletak pada integrasi antar instansi yang masih berjalan sendiri-sendiri. Karena itu, pemerintah tengah memperkuat implementasi kebijakan Satu Data Indonesia dengan mempelajari pengalaman Tiongkok.
Malam semakin larut. Para tamu mulai berpamitan satu per satu. Di luar kompleks KBRI, Beijing tetap bergerak dalam ritme kota metropolitan yang nyaris tak pernah berhenti.
Namun di dalam kompleks kecil yang dipenuhi aroma masakan Nusantara, batik, lagu-lagu Indonesia, dan canda sesama anak bangsa itu, saya merasa telah pulang sejenak ke rumah. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya