Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Mengintip Dapur CGTN, Indonesia Ternyata Masuk 10 Besar Penonton

Eka Prasetya • Sabtu, 11 Juli 2026 | 18:57 WIB
DAPUR REDAKSI: Suasana di Ruang Redaksi CGTN. Pemirsa Indonesia masuk dalam top 10 penonton channel televisi yang berpusat di Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
DAPUR REDAKSI: Suasana di Ruang Redaksi CGTN. Pemirsa Indonesia masuk dalam top 10 penonton channel televisi yang berpusat di Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

GEDUNG-GEDUNG pencakar langit berjejer rapat di sepanjang Guanghua Road, Beijing. Namun, mata saya justru terpaku pada satu bangunan yang tampil paling mencolok di antara semuanya.

Dua menara raksasa berdiri terpisah, lalu bertaut di bagian atas hingga membentuk struktur menyerupai gerbang raksasa yang membingkai langit ibu kota Tiongkok. Dari kejauhan, bangunan itu seolah menantang hukum gravitasi.

Itulah China Media Group (CMG) Office Block, markas salah satu kelompok media terbesar di Tiongkok sekaligus pusat produksi berbagai saluran televisi, radio, dan media digital yang menjangkau pemirsa di seluruh dunia.

Bagi sebagian besar orang, bangunan ikonik tersebut hanya bisa dinikmati dari luar. Tidak semua orang memiliki kesempatan menembus area kerjanya karena akses ke dalam gedung dibatasi hanya bagi pegawai dan tamu dengan undangan resmi.

Kesempatan langka itu saya rasakan bersama puluhan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC). Berbekal undangan resmi, kami akhirnya memasuki salah satu pusat industri media paling berpengaruh di Tiongkok.

Begitu melangkah ke lobi, nuansa modern langsung terasa. Sistem keamanan diberlakukan sangat ketat. Setiap tamu wajib melewati serangkaian pemeriksaan sebelum diizinkan memasuki area kerja.

Namun, pengalaman yang paling berkesan justru dimulai ketika rombongan diajak mengintip dapur redaksi China Global Television Network (CGTN), saluran televisi internasional yang berada di bawah naungan China Media Group.

Selama ini jutaan orang di berbagai negara hanya menikmati hasil akhirnya melalui layar televisi maupun platform digital. Di balik tayangan tersebut, terdapat proses kerja yang tertata rapi dan berjalan dengan koordinasi yang sangat sistematis.

Kami diperlihatkan bagaimana sebuah isu dipilih, direncanakan, dikembangkan menjadi liputan, hingga akhirnya mengudara ke berbagai belahan dunia.

Yang menarik, CGTN ternyata tidak hanya mengoperasikan satu kanal internasional. Media ini mengelola sejumlah saluran dengan berbagai bahasa, mulai bahasa Inggris, Spanyol, Prancis, Arab, Rusia, hingga kanal dokumenter. Masing-masing memiliki tim redaksi yang bekerja sesuai karakter dan kebutuhan audiensnya.

Di salah satu ruang presentasi, perhatian saya tertuju pada layar besar yang menampilkan beragam data perilaku penonton dari seluruh dunia.

Bagi CGTN, pekerjaan redaksi ternyata tidak berhenti ketika berita selesai ditayangkan. Setiap program terus dianalisis melalui berbagai indikator, mulai dari jumlah penonton, asal negara audiens, hingga jenis konten yang paling banyak menarik perhatian.

Seluruh data tersebut menjadi bahan evaluasi sekaligus dasar penyusunan strategi pemberitaan berikutnya.

"Data ini sangat penting bagi kami untuk mempelajari siapa audiens kami," ungkap Cheng Guang dari CGTN.

Ada satu fakta yang cukup mengejutkan saya. Indonesia ternyata masuk dalam daftar 10 negara dengan jumlah penonton CGTN terbanyak di dunia.

Artinya, setiap keputusan editorial yang diambil di ruang redaksi Beijing berpotensi menjangkau jutaan pemirsa di Indonesia.

Kunjungan ke CMG membuka perspektif baru tentang wajah industri media modern. Jika dulu naluri jurnalistik menjadi penentu utama arah pemberitaan, kini keputusan redaksi juga ditopang oleh analisis data yang sangat rinci.

Redaksi tidak lagi hanya bertanya apa yang layak diberitakan, tetapi juga berupaya memahami siapa yang membaca, bagaimana mereka mengakses informasi, dan jenis konten apa yang paling relevan bagi audiens di berbagai penjuru dunia. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#beijing #tiongkok #china #buleleng