Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Ketika Dua Sungai Tiongkok Membawa Ingatan ke Peradaban Lampau di Bali

Eka Prasetya • Senin, 13 Juli 2026 | 20:29 WIB
BICARA PERADABAN: Suasana dialog bertajuk "Common Ground: Where Civilization Meet" yang diproduksi China Global Television Network (CGTN). (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
BICARA PERADABAN: Suasana dialog bertajuk "Common Ground: Where Civilization Meet" yang diproduksi China Global Television Network (CGTN). (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

JARUM jam baru menunjuk pukul 09.00 ketika Ballroom Beijing Continental Grand Hotel perlahan berubah menjadi sebuah studio televisi. Lampu sorot mulai menyala satu per satu. 

Kamera mengarah ke panggung. Kru berlalu-lalang memastikan audio bekerja sempurna. Di sisi lain ruangan, para akademisi dari berbagai negara bergantian duduk di kursi narasumber sambil membuka catatan terakhir mereka.

Sekilas, semua tampak seperti rutinitas produksi sebuah program televisi. Namun, bagi saya yang menjadi salah satu jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC), Minggu (12/7/2026), suasana itu terasa jauh lebih besar. 

Saya seperti sedang menyaksikan lahirnya sebuah ruang percakapan yang mempertemukan peradaban-peradaban dunia.

Program bertajuk "Common Ground: Where Civilization Meet" produksi China Global Television Network (CGTN) itu memang bukan sekadar acara diskusi. Ia menjadi panggung tempat sejarah, budaya, pengalaman, hingga cara pandang berbagai bangsa saling bertemu.

Di atas panggung hadir nama-nama akademisi yang selama ini banyak mengkaji hubungan antar peradaban. Ada Prof. Xu Baofeng, Dean of the College of Sinology and Chinese Studies Beijing Language and Culture University; Prof. Daniel Alan Fried dari University of Alberta, Kanada; Prof. Huang Yue dari Beijing University of Posts and Telecommunications; hingga penerjemah dan sinolog asal Irak, Abbas Jawad Kdaimy.

Diskusi juga menghadirkan Joseph Oliver Mendo'o, Kepala Delegasi Pemuda Afrika ke Tiongkok; Marcus de Freitas, pakar hubungan Tiongkok-Brasil; serta Hector Villagran Cepeda, pakar asing di Beijing Language and Culture University.

Latar belakang mereka berbeda. Disiplin ilmunya pun beragam. Namun, seluruh pembicaraan bermuara pada satu gagasan yang sama: peradaban tidak pernah tumbuh sendirian. Ia berkembang karena saling belajar, saling memengaruhi, dan terus berdialog.

Di antara seluruh sesi yang berlangsung hampir sepanjang pagi, satu paparan paling membekas dalam ingatan saya.

Marcus de Freitas berdiri di atas panggung. Saya sempat menduga ia akan memulai presentasi dengan statistik perdagangan atau grafik pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Dugaan itu meleset.

Ia justru mengajak seluruh peserta berbicara tentang sungai.

Sebagai warga Brasil, Marcus bercerita bahwa dirinya tumbuh dengan penghormatan mendalam terhadap Sungai Amazon. 

Bagi masyarakat Brasil, Amazon bukan sekadar sungai terbesar di dunia berdasarkan debit air. Sungai itu adalah bagian dari identitas bangsa, simbol kehidupan, sekaligus penyangga peradaban.

Namun, pemahaman terdalamnya tentang Tiongkok justru lahir setelah ia hidup cukup lama di negeri itu.

Bukan dari gedung-gedung pencakar langit Shanghai. Bukan pula dari kawasan industri Shenzhen.

Melainkan dari dua sungai yang selama ribuan tahun menjadi urat nadi Tiongkok: Sungai Yangtze dan Sungai Kuning.

Marcus bercerita tentang perjalanannya ke Chongqing. Dari tepian Sungai Yangtze, ia melihat kapal-kapal barang hilir mudik tanpa henti menuju salah satu pusat ekonomi paling dinamis di dunia.

Baginya, Yangtze adalah gambaran Tiongkok masa kini. Sungai itu berbicara tentang modernisasi, perdagangan, inovasi, dan kemakmuran.

Namun dua pekan berselang, ia berdiri di tepian Sungai Kuning atau Yellow River di Lanzhou. Di sana, cerita yang ia temukan sama sekali berbeda.

Sungai Kuning dikenal sebagai tempat lahirnya peradaban Tiongkok. Tetapi sungai yang sama juga berulang kali meluap, mengubah alirannya, menghancurkan permukiman, hingga merenggut jutaan nyawa sepanjang sejarah. Tak heran bila ia pernah dijuluki China's Sorrow.

"Dari sanalah saya memahami Tiongkok. Yangtze menjelaskan kesuksesan Tiongkok hari ini, sementara Sungai Kuning menjelaskan bagaimana kesuksesan itu dibangun," tutur Marcus.

Marcus menjelaskan, modernisasi Tiongkok tidak pernah lahir dalam semalam. Reformasi ekonomi memang menjadi titik balik penting, tetapi fondasinya dibangun jauh sebelumnya melalui budaya berpikir jangka panjang, tradisi bekerja bersama, dan kesediaan membangun sesuatu yang manfaatnya baru dirasakan generasi berikutnya.

Saya tiba-tiba teringat kampung halaman. Pikiran saya melayang ribuan kilometer ke Bali, tepatnya ke Tukad Pakerisan di Tampaksiring, Gianyar.

Di sepanjang aliran sungai itu berdiri Situs Gunung Kawi, kompleks candi padas peninggalan Kerajaan Bali Kuno pada masa Raja Udayana dari Dinasti Warmadewa.

Sama seperti Sungai Kuning bagi Tiongkok, Tukad Pakerisan bukan sekadar mengalirkan air. Ia mengalirkan sejarah.

Di sekitarnya tumbuh permukiman, berkembang sistem subak, berlangsung kehidupan spiritual, hingga lahir pusat-pusat pemerintahan Bali kuno.

Saat itulah saya menyadari, hampir semua peradaban besar di dunia memiliki "sungainya" masing-masing.

Ada yang benar-benar berupa aliran air. Ada pula yang menjelma menjadi ingatan, tradisi, dan nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#beijing #tiongkok #china #buleleng