Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Masuk ke Balik Layar Peking Opera, Menemukan Sejarah yang Masih Bernapas

Eka Prasetya • Rabu, 15 Juli 2026 | 23:24 WIB
PEKING OPERA: Suasana pertunjukan Peking Opera di Peking Opera Illuminates, Distrik Chaoyang, Beijing. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
PEKING OPERA: Suasana pertunjukan Peking Opera di Peking Opera Illuminates, Distrik Chaoyang, Beijing. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

DERETAN jubah berwarna merah menyala, kuning keemasan, biru tua, hingga hitam pekat menyambut setiap langkah kami. Sulaman benang emas berkilau di bawah cahaya lampu. Ada busana kaisar, kostum jenderal, pakaian permaisuri, hingga gaun para dayang istana yang tertata rapi seperti sedang menunggu pemiliknya kembali.

Itulah kesan pertama yang saya rasakan saat memasuki Peking Opera Illuminates, Distrik Chaoyang, Beijing, Senin (13/7/2026) lalu. 

Sore itu, puluhan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) mengira hanya akan menyaksikan salah satu seni pertunjukan paling tua di Tiongkok.

Ternyata kami diajak melakukan sesuatu yang jauh lebih menarik: masuk ke dalam dunia Peking Opera, bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari pertunjukan.

Perjalanan dimulai dari ruang pamer kostum. Dari jarak dekat, saya baru menyadari bahwa setiap pakaian dibuat dengan detail yang luar biasa. Bordiran naga, burung phoenix, bunga peony, hingga motif awan memenuhi hampir seluruh permukaan kain. Semuanya dikerjakan dengan ketelitian tinggi.

Tak jauh dari sana, para perias mulai memperlihatkan proses lain yang tak kalah memukau.

Perlahan, wajah para aktor berubah menjadi karakter yang akan mereka perankan malam itu. Kuas bergerak pelan membentuk garis-garis tegas. 

Warna merah melambangkan keberanian dan kesetiaan. Putih identik dengan kelicikan. Hitam menggambarkan ketegasan dan kejujuran, sementara biru merepresentasikan karakter yang keras dan bebas.

Saat itu saya baru memahami bahwa riasan wajah dalam Peking Opera bukan sekadar kosmetik. Setiap warna adalah bahasa yang membantu penonton mengenali sifat tokoh, bahkan sebelum satu dialog pun diucapkan.

Namun, kejutan terbesar justru datang beberapa menit kemudian. Panitia mempersilakan seluruh peserta mengenakan kostum asli Peking Opera.

Panggung yang semula tenang langsung berubah riuh. Kamera telepon genggam bekerja tanpa henti. Semua orang berebut mengabadikan momen.

Setelah pengalaman singkat itu, tirai pertunjukan benar-benar dibuka. Malam itu, tiga lakon klasik dipentaskan.

Lakon pertama, The Crossroad, berkisah tentang Jiao Zan, seorang jenderal Dinasti Song yang diasingkan setelah membunuh pejabat korup. Dalam perjalanan menuju tempat pembuangan, sebuah kesalahpahaman di penginapan memicu duel sengit dua pendekar yang sebenarnya berada di pihak yang sama.

Menariknya, adegan pertarungan berlangsung dalam kondisi gelap. Padahal panggung tetap terang benderang.

Para aktor berhasil membuat penonton percaya bahwa mereka sedang bertarung tanpa cahaya hanya melalui gerak tubuh, langkah kaki, ekspresi, dan ritme permainan. Tidak ada efek visual modern. Tidak ada teknologi digital. Hanya kemampuan akting yang nyaris sempurna.

Lakon kedua, The Goddess of Heaven Scatters Flowers, menghadirkan suasana yang sama sekali berbeda.

Nuansa Buddhisme Mahayana terasa begitu kuat ketika seorang dewi turun dari kahyangan menebarkan bunga sebagai simbol penghormatan terhadap ajaran kebijaksanaan Vimalakirti. Gerak tubuh yang lembut berpadu dengan iringan musik tradisional menciptakan suasana yang tenang sekaligus sakral.

Pementasan ditutup melalui The Great Immortal Herb Robbery, kisah yang diadaptasi dari legenda terkenal The Tale of the White Snake.

Cerita mengikuti perjuangan Bai Suzhen yang mempertaruhkan nyawanya demi mencuri tanaman obat dari gunung para dewa untuk menyelamatkan sang suami, Xu Xian.

Inilah bagian yang paling memacu adrenalin. Lompatan akrobatik, pertarungan bersenjata, gerakan kungfu, hingga permainan properti dilakukan nyaris tanpa cela. Tepuk tangan penonton beberapa kali memecah suasana sebelum adegan benar-benar selesai.

Kekaguman bukan hanya saya rasakan. Davone Manyvanh, jurnalis asal Laos, mengaku menikmati seluruh pertunjukan. "Sangat menyenangkan bisa menyaksikan langsung," ujarnya.

Sementara itu, jurnalis Malaysia, Siti Zanariah bin Noor, mengaku paling menikmati dua lakon terakhir.

"Lakon pertama mungkin cukup sulit dipahami. Tapi lakon kedua dan ketiga benar-benar luar biasa," katanya.

Di balik pertunjukan itu tersimpan proses panjang yang jarang diketahui penonton.

Manajer Panggung Opera, Gafar Porazar, menjelaskan bahwa hingga kini terdapat lebih dari 300 lakon Peking Opera yang masih dipentaskan.

Namun menurutnya, kekuatan terbesar seni ini bukan terletak pada ceritanya. Melainkan pada para aktornya.

"Mereka bukan hanya bisa bernyanyi, berakting, memakai kostum, dan merias wajah. Mereka juga seniman bela diri dan akrobat," katanya.

Untuk mencapai kemampuan tersebut, para aktor menjalani latihan fisik sedikitnya delapan jam setiap hari. Kungfu, akrobat, tari, vokal, hingga seni peran menjadi menu latihan harian yang tak bisa dipisahkan.

Dalam filosofi Peking Opera, seorang aktor bahkan tidak hanya dituntut memerankan manusia. Ia juga harus mampu menghadirkan angin, bulan, matahari, hujan, bahkan kekuatan alam melalui gerak tubuh dan ekspresi.

"Itulah yang membuat Peking Opera begitu kuat. Saya belum menemukan bentuk teater lain di dunia yang mampu memadukan keindahan, fisikalitas, musik, sejarah, dan disiplin tubuh secara begitu utuh selama ribuan tahun," ungkapnya.

Malam itu saya pulang dengan satu kesimpulan sederhana. Saya datang untuk menonton sebuah pertunjukan. Namun yang saya temukan adalah sebuah peradaban. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
beijing operasi tiongkok china buleleng