Mengintip Newsroom Xinhua, Saat AI Bukan Lagi Ancaman bagi Jurnalis

Eka Prasetya • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 19:44 WIB
BICARA JURNALISME: Suasana kunjungan jurnalis peserta program CIPCC ke Xinhua News Agency di Beijing, Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
BICARA JURNALISME: Suasana kunjungan jurnalis peserta program CIPCC ke Xinhua News Agency di Beijing, Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

BEIJING tidak hanya membangun gedung-gedung pencakar langit dan jaringan kereta cepat yang menghubungkan kota demi kota. Tiongkok juga sedang membangun "jembatan" lain lewat narasi.

Hal itulah yang kami pelajari ketika rombongan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah berkunjung ke Xinhua News Agency di Beijing, pada Rabu (22/7/2026). Xinhua merupakan kantor berita nasional Tiongkok yang menjadi salah satu mesin utama penyebaran informasi negara tersebut ke dunia.

Di balik megahnya kantor berita yang telah berdiri sejak 1931 itu, saya tidak hanya melihat ruang redaksi yang sibuk. Saya justru menemukan bagaimana media kini tidak lagi sekadar berlomba menjadi yang tercepat memberitakan sebuah peristiwa. Mereka juga berlomba menghadirkan cerita yang mampu membuat dunia ingin mengenal Tiongkok lebih dekat.

Kunjungan kami diawali dengan sesi pemaparan dari Liu Hong, Deputy Editor-in-Chief Xinhua News Agency.

Di hadapan puluhan jurnalis dari berbagai negara, Liu menjelaskan bahwa salah satu strategi utama Xinhua dalam menjangkau audiens internasional adalah melalui cerita-cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Alih-alih hanya menyajikan berita politik atau ekonomi, Xinhua justru banyak mengangkat pariwisata, budaya, hingga pengalaman warga asing yang tinggal di Tiongkok.

"Pariwisata menjadi salah satu jembatan paling efektif untuk memperkenalkan Tiongkok kepada dunia," begitu inti pemaparan Liu yang saya tangkap pagi itu.

Strategi tersebut diwujudkan dalam sejumlah program kreatif. Salah satunya “Tracking China”, sebuah program yang mengikuti kehidupan para ekspatriat maupun warga negara asing yang sedang belajar atau bekerja di Tiongkok.

Melalui sudut pandang orang asing, audiens global diajak melihat Tiongkok dari perspektif yang lebih personal. Bukan dari angka pertumbuhan ekonomi atau pembangunan infrastruktur, melainkan dari pengalaman hidup sehari-hari.

Ada pula program “Chinese Lifestyle”. Lewat tayangan ini, Xinhua mengajak masyarakat internasional memahami bagaimana orang-orang Tiongkok menjalani kehidupannya. Mulai dari kebiasaan makan, gaya hidup, tradisi, hingga budaya yang mungkin belum banyak diketahui publik dunia.

Yang paling menarik perhatian saya adalah program “Chinese Relics Talks”. Di sinilah kecerdasan buatan atau **Artificial Intelligence (AI)** mulai memainkan peran besar.

Relik-relik kuno yang selama ini hanya dipajang di museum "dihidupkan" melalui video pendek berbasis AI. Artefak-artefak tersebut seolah dapat bercerita sendiri kepada penonton mengenai sejarah dan nilai budaya yang mereka simpan selama ribuan tahun.

Pendekatan semacam ini membuat sejarah terasa lebih dekat, terutama bagi generasi muda yang terbiasa mengonsumsi konten visual berdurasi singkat.

Jika sesi pagi berbicara tentang strategi editorial, maka sesi siang membawa kami masuk lebih dalam ke ruang produksi berita Xinhua. Di newsroom, kami diperlihatkan bagaimana AI kini telah menjadi bagian dari proses kerja sehari-hari.

Teknologi itu tidak digunakan untuk menggantikan jurnalis. Sebaliknya, AI dimanfaatkan untuk membantu mempercepat proses produksi, mulai dari penyuntingan, pembuatan variasi konten dalam berbagai format, hingga distribusi atau amplifikasi berita agar menjangkau audiens yang lebih luas di berbagai platform digital.

Di tengah derasnya arus informasi, kecepatan tidak lagi cukup. Konten juga harus mampu hadir dalam format yang sesuai dengan karakter setiap platform. Di sinilah AI mengambil peran sebagai alat bantu.

Salah satu hal baru yang saya temukan dalam kunjungan itu adalah RedNote, platform media sosial yang di Tiongkok dikenal dengan nama Xiaohongshu.

Aplikasi ini sering disebut sebagai salah satu pesaing TikTok. Namun karakter keduanya cukup berbeda.

RedNote kini memiliki sekitar 300 juta pengguna di Tiongkok dan lebih banyak digunakan untuk berbagi rekomendasi gaya hidup, mulai dari fesyen, kecantikan, kuliner, destinasi wisata, hingga pengalaman berbelanja.

Yang membuatnya menarik, platform tersebut telah terintegrasi langsung dengan layanan e-commerce. Pengguna tidak hanya bisa melihat ulasan sebuah produk, tetapi juga langsung membelinya dalam aplikasi yang sama.

Bagi industri media, ekosistem seperti itu membuka peluang baru. Konten tidak lagi berhenti pada konsumsi informasi, tetapi dapat langsung terhubung dengan aktivitas ekonomi digital.

Keluar dari gedung Xinhua sore itu, saya membawa satu kesan yang sulit diabaikan. Di era kecerdasan buatan, kekuatan media ternyata tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang paling cepat menyampaikan berita.

Yang lebih penting adalah siapa yang mampu bercerita dengan cara paling relevan, paling manusiawi, dan paling mudah diterima oleh audiens global. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
beijing tiongkok china buleleng ai