Melihat Seni Lukis Thangka di Tibet. Ada Kesabaran dan Doa Dalam Goresan Kuas

Eka Prasetya • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 10:37 WIB
WARISAN BUDAYA: Seorang seniman menuntaskan thangka, kesenian lukisan khas Tibet. Satu lukisan bisa bernilai hingga Rp 2 miliar. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
WARISAN BUDAYA: Seorang seniman menuntaskan thangka, kesenian lukisan khas Tibet. Satu lukisan bisa bernilai hingga Rp 2 miliar. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

UJUNG kuas itu nyaris tak terlihat. Hanya beberapa helai bulu yang disatukan, lalu menari perlahan di atas selembar kain putih yang terbentang pada bingkai kayu. Dalam sekali sapuan, muncul garis emas setipis benang. Lurus. Rapi. Hampir mustahil menemukan cacat.

Tak ada suara percakapan di ruangan itu. Yang terdengar hanya gesekan halus kuas dengan kain, sesekali diselingi derit pelan kursi kayu ketika para pelukis mengubah posisi duduk. Mereka bekerja dengan kepala tertunduk, seolah waktu berhenti di dalam studio.

Saya bersama rombongan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik hanya bisa berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Tak seorang pun berani mengganggu. Suasana yang begitu hening membuat kami spontan ikut menahan napas.

Di galeri seni Thangka di Kota Lhasa, Provinsi Xizang (Tibet), Tiongkok, saya akhirnya memahami satu hal. Melukis Thangka ternyata jauh melampaui aktivitas seni. Ia adalah laku spiritual yang menuntut kesabaran, disiplin, dan penghormatan terhadap tradisi.

Di salah satu sudut ruangan, seorang pelukis muda tengah menyempurnakan wajah Buddha. Tangannya bergerak perlahan, nyaris tanpa getaran. Beberapa kali kuas berhenti di udara selama beberapa detik sebelum kembali menyentuh permukaan kain.

Di sisi lain, seorang seniman lain mengisi kelopak demi kelopak bunga dengan warna hijau, merah muda, dan emas. Setiap sapuan dilakukan hati-hati, seakan setiap warna memiliki nyawa yang tak boleh disia-siakan.

Tak ada yang terburu-buru. Tak ada yang mengejar tenggat. Yang ada hanyalah ketekunan yang sulit dibayangkan di era serba cepat seperti sekarang.

Semakin lama mengamati, semakin terlihat bahwa setiap pelukis memiliki tugas berbeda. Ada yang hanya membuat sketsa. Ada yang khusus memberi warna. Ada pula yang sepanjang hari hanya mengerjakan garis-garis emas menggunakan kuas yang bahkan terdiri dari beberapa helai bulu saja.

Bagi masyarakat Tibet, Thangka bukan sekadar lukisan yang dipajang di dinding. Karya ini merupakan media spiritual yang diwariskan turun-temurun selama lebih dari seribu tahun.

Thangka dipercaya mulai berkembang pada abad ke-7, seiring masuknya agama Buddha ke Tibet. Dalam bahasa Tibet, thangka berarti sesuatu yang dapat dipamerkan atau digulung.

Lukisan dibuat di atas kain katun atau sutra, lalu dibingkai dengan kain brokat sehingga mudah digulung dan dibawa dari satu tempat ke tempat lain.

Namun fungsi utamanya bukan sebagai hiasan. Thangka menjadi sarana meditasi, media pembelajaran ajaran Buddha Mahayana dan Vajrayana, sekaligus bagian dari praktik keagamaan masyarakat Tibet.

Karena itu, hampir tak ada ruang untuk kebebasan berimajinasi. Setiap figur memiliki ukuran baku. Posisi tangan, arah pandangan mata, hingga komposisi tubuh telah diatur dalam naskah-naskah spiritual yang diwariskan lintas generasi.

"Kami tidak boleh menggambar sesuka hati," ujar Jongjue Jie, master Thangka yang telah menekuni seni tersebut selama 32 tahun.

Menurutnya, bagian tersulit justru bukan proses pewarnaan, melainkan membuat sketsa awal. Terutama ketika menggambar mata.

"Yang paling sulit adalah membuat mata agar terlihat hidup," katanya.

Pernyataan itu langsung terasa masuk akal ketika saya menyaksikan sendiri prosesnya. Satu mata bisa dikerjakan berulang kali menggunakan kuas berukuran sangat kecil. Sedikit saja meleset, ekspresi seluruh lukisan akan berubah.

Tak heran bila seorang pelukis membutuhkan waktu bertahun-tahun hanya untuk menguasai teknik dasar tersebut.

Perjalanan sebuah Thangka dimulai jauh sebelum warna pertama dituangkan. Kain katun direntangkan pada bingkai kayu, kemudian dilapisi campuran lem alami dan bubuk kapur. Setelah mengering, permukaannya digosok hingga benar-benar halus. Barulah garis-garis proporsi dibuat sebagai panduan menggambar.

Pewarna yang digunakan pun bukan cat biasa. Biru diperoleh dari batu lapis lazuli, hijau berasal dari malachite, merah dihasilkan dari cinnabar, sedangkan sentuhan akhir menggunakan serbuk emas murni 24 karat.

Bahan-bahan alami itulah yang membuat warna Thangka mampu bertahan selama ratusan tahun.

Namun bahkan setelah lukisan selesai, prosesnya belum dianggap berakhir. Karya tersebut masih harus dibawa ke biara.

Di sana, seorang biksu akan menuliskan mantra pada bagian belakang lukisan dan memanjatkan doa pemberkatan. Setelah ritual itu dilakukan, barulah sebuah Thangka dianggap memiliki makna spiritual yang utuh.

Untuk menyelesaikan satu karya berukuran kecil dibutuhkan waktu sekitar satu hingga dua bulan. Sedangkan karya besar dengan detail rumit dapat memakan waktu hingga satu tahun.

"Kalau ingin benar-benar menguasai Thangka, minimal tujuh tahun belajar," kata Jongjue Jie.

Kesadaran bahwa tradisi ini harus tetap hidup mendorong Jongjue Jie mendirikan sekolah Thangka pada 2011.

Kini sekitar 70 siswa belajar di sana. Seluruhnya memperoleh pendidikan tanpa dipungut biaya. Tempat tinggal dan kebutuhan makan juga disediakan oleh sekolah dengan dukungan pemerintah.

"Tujuan kami agar budaya ini terus diwariskan dari generasi ke generasi," ujarnya.

Menurut Jie, menjaga Thangka sama pentingnya dengan menjaga identitas budaya Tibet. Apalagi, karya tersebut juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Harga satu Thangka berkisar mulai 20 ribu RMB atau sekitar Rp 52 juta. Untuk karya dengan tingkat kerumitan tinggi, nilainya dapat mencapai 900 ribu RMB, setara sekitar Rp 2,35 miliar.

Di antara para murid itu, saya bertemu Tashi Tundu. Pemuda itu berasal dari keluarga sederhana. Sejak kecil ia dibesarkan oleh ibu dan neneknya setelah kehilangan sang ayah.

Kecintaannya pada Thangka lahir ketika masih anak-anak. Saat berkunjung ke Sera Monastery, ia terpaku melihat sebuah Thangka yang tergantung di aula biara.

"Saat itu saya langsung ingin belajar melukis seperti itu," kenangnya.

Impian tersebut akhirnya terwujud ketika diterima sebagai siswa di sekolah milik Jongjue Jie. Kini ia tak lagi memikirkan biaya pendidikan. Semua kebutuhan hidupnya selama belajar ditanggung sekolah dan pemerintah.

Cita-citanya sederhana. Ia ingin menjadi master Thangka. Lalu membuka jalan bagi generasi berikutnya.

"Saya ingin menjadi guru dan punya murid sendiri," katanya sambil tersenyum.

Baginya, menjadi pelukis Thangka bukan hanya pekerjaan. "Thangka sangat menjanjikan," ujarnya.

Saat meninggalkan galeri itu, saya memahami mengapa harga sebuah Thangka bisa mencapai miliaran rupiah. 

Yang dibeli para kolektor bukan semata lukisan. Mereka membawa pulang waktu yang dicurahkan selama berbulan-bulan, keterampilan yang ditempa bertahun-tahun, dan sebuah warisan spiritual yang terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
beijing tibet tiongkok china buleleng