Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus. Berikut catatan perjalanannya.
Dinding tinggi itu seolah menyimpan suara dari masa lalu. Puluhan figur manusia berwarna merah memenuhi permukaannya.
Ada yang berdiri tegak dengan kedua tangan terangkat ke langit, ada pula sosok berukuran lebih kecil yang mengelilingi figur utama di tengah.
Di bawahnya tergambar beberapa hewan. Sementara di atas kepala sejumlah figur manusia, terdapat bentuk lingkaran yang menyerupai gendang.
Sekilas, gambar itu tampak sederhana. Hanya goresan merah di atas permukaan batu. Namun siapa sangka, jejak tersebut telah bertahan lebih dari dua ribu tahun dan menjadi salah satu petunjuk penting untuk memahami kehidupan leluhur etnis Zhuang, salah satu kelompok etnis minoritas dengan populasi terbanyak di Tiongkok.
Replika seni cadas tersebut menjadi salah satu koleksi yang paling mencuri perhatian ketika rombongan jurnalis Asia Pasifik peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) mengunjungi Museum Etnis Zhuang di Kota Chongzuo, Provinsi Guangxi, Tiongkok, beberapa waktu lalu.
Museum itu bukan sekadar ruang penyimpanan benda kuno. Tempat tersebut menjadi panggung untuk merekam perjalanan panjang masyarakat Zhuang—mulai dari asal-usul, kebudayaan, kehidupan sosial, hingga perubahan mereka dari masa ke masa.
Chongzuo sendiri memiliki arti penting bagi etnis Zhuang. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu kawasan dengan populasi Zhuang terbesar di Tiongkok. Karena itu, keberadaan museum menjadi bagian penting dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat setempat.
Namun dari seluruh koleksi yang tersaji, satu objek hampir selalu menjadi pusat perhatian pengunjung di Lanskap Budaya Seni Cadas Zuojiang Huashan.
Situs aslinya berada di kawasan tebing karst yang menjulang di sepanjang Sungai Mingjiang dan Sungai Zuojiang, tidak jauh dari perbatasan Tiongkok dan Vietnam.
Karena kondisi lokasi yang sulit dijangkau serta perlindungan ketat terhadap situs asli, museum menghadirkan replika berukuran besar agar pengunjung dapat melihat lebih dekat detail lukisan kuno tersebut.
Bagi masyarakat Guangxi, Huashan bukan hanya peninggalan arkeologi. Lukisan-lukisan itu menjadi jendela untuk menelusuri kehidupan masyarakat Luo Yue, kelompok kuno yang diyakini sebagai leluhur langsung etnis Zhuang masa kini.
Para peneliti memperkirakan seni cadas tersebut dibuat dalam rentang abad ke-5 sebelum Masehi hingga abad ke-2 Masehi. Nilai sejarah dan budayanya yang luar biasa membuat kawasan ini ditetapkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada 2016.
Data yang ditampilkan museum menyebutkan sedikitnya terdapat 38 lokasi seni cadas yang tersebar di sepanjang aliran Sungai Mingjiang, Zuojiang, dan Lijiang.
Ribuan gambar yang ditemukan memperlihatkan pola yang hampir serupa. Figur manusia menjadi motif paling dominan. Tercatat ada 3.315 gambar manusia, dengan 1.152 figur menghadap ke depan dan 2.163 figur terlihat dari samping.
Ukuran gambar tersebut juga tidak kecil. Rata-rata tinggi figur manusia mencapai 1,8 meter, bahkan beberapa di antaranya mencapai 3,58 meter.
Sebagian besar figur digambarkan dengan posisi tangan terangkat dan lutut sedikit ditekuk. Di bawahnya sering muncul gambar hewan, sedangkan bagian atas kepala kerap dihiasi motif gendang perunggu.
Gendang perunggu menjadi salah satu simbol penting dalam budaya masyarakat kuno Zhuang. Benda itu bukan sekadar alat musik, tetapi dipercaya memiliki kaitan dengan kekuasaan, kemakmuran, serta berbagai ritual kepercayaan.
Museum mencatat terdapat sedikitnya 368 motif gendang perunggu dalam keseluruhan kawasan seni cadas Huashan. Selain itu, ditemukan pula 174 gambar pedang yang tersebar di berbagai lokasi.
Sementara motif hewan jumlahnya jauh lebih sedikit. Dari 113 gambar hewan yang ditemukan, sebagian besar diduga menyerupai anjing dan hanya satu yang diperkirakan berbentuk burung.
Meski telah diteliti selama puluhan tahun, Huashan masih menyimpan banyak teka-teki. Salah satu pertanyaan terbesar adalah bagaimana masyarakat Luo Yue mampu membuat lukisan di tebing-tebing tinggi yang menjulang puluhan meter di atas permukaan sungai.
Para ahli menduga mereka menggunakan tangga atau perancah berbahan bambu untuk mencapai permukaan batu. Selain itu, pemilihan lokasi diyakini tidak dilakukan secara sembarangan.
Masyarakat kuno tersebut tampaknya mempertimbangkan banyak faktor, mulai dari keberadaan sungai, ketinggian tebing, hingga karakter permukaan batu agar lukisan dapat bertahan dalam waktu yang sangat panjang.
Tujuan pembuatan lukisan juga masih menjadi misteri. Sejumlah penelitian menduga seni cadas Huashan berkaitan dengan ritual penghormatan kepada dewa bumi dan dewa sungai, permohonan kesuburan, hingga perayaan kemenangan dalam peperangan.
Yang mengagumkan, warna merah pada lukisan masih terlihat jelas meski telah melewati ribuan musim. Para peneliti menemukan pigmen tersebut dibuat dari campuran batu oker merah, bahan organik, serta unsur alami yang memiliki daya tahan tinggi terhadap perubahan lingkungan.
Bagi masyarakat Zhuang saat ini, Huashan bukan sekadar peninggalan masa lampau. Situs tersebut menjadi jembatan yang menghubungkan generasi sekarang dengan leluhur mereka.
"Sejak ditemukan, pemerintah Tiongkok dan Partai Komunis Tiongkok terus melakukan konservasi dan perlindungan terhadap lokasi tersebut. Penelitian juga terus berjalan. Masyarakat desa di sekitar kawasan turut terlibat menjaga situs ini," kata Huang Xuanyu, penerjemah yang mendampingi kunjungan.
Selain seni cadas Huashan, Museum Etnis Zhuang juga menyimpan beragam koleksi yang menggambarkan kehidupan masyarakat Zhuang. Mulai pakaian tradisional, kain tenun brokat dengan motif geometris khas, peralatan pertanian, rumah panggung tradisional, hingga alat musik rakyat.
Menariknya, sebagian alat musik tersebut dibuat dari bahan-bahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat pedesaan, seperti bambu, labu, tempurung kelapa, hingga tanduk hewan.
Di tengah modernisasi yang terus bergerak, museum itu menjadi pengingat bahwa sebuah peradaban tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung megah. Kadang, jejak paling kuat justru tertinggal dalam goresan sederhana di dinding batu—menunggu ribuan tahun untuk kembali bercerita. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng