RadarBuleleng.id – Kabupaten Buleleng menghadapi ancaman berlapis memasuki puncak musim kemarau. Selain kekeringan dan krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga mulai menghantui sejumlah wilayah.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali menunjukkan, Kecamatan Gerokgak menjadi salah satu wilayah dengan luasan kebakaran terbesar di Bali sepanjang periode 11 April hingga 11 Agustus 2026. Luasan lahan yang terbakar di wilayah tersebut mencapai 91,52 hektare.
Angka itu menjadi perhatian serius karena puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus.
Kondisi kemarau juga dipengaruhi fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai level sangat kuat.
Kepala BPBD Bali, I Gede Agung Teja Bhusana mengatakan, kemarau meningkatkan sejumlah risiko bencana sekaligus. Tidak hanya karhutla, tetapi juga kekeringan, krisis air bersih, hingga kebakaran bangunan dan permukiman.
"Kondisi kemarau meningkatkan potensi kekeringan, krisis air bersih, karhutla, serta kebakaran gedung dan permukiman," terang Teja.
Berdasarkan catatan BPBD Bali, sepanjang 11 April hingga 11 Agustus 2026, total luasan hutan dan lahan yang teridentifikasi terbakar mencapai 158,53 hektare dari luas hutan Bali sekitar 131.171,47 hektare.
Selain Gerokgak, kebakaran juga tercatat terjadi di Nusa Penida dengan luasan sekitar 15 hektare dan lahan pertanian di Karangasem seluas 2 hektare. Sementara di Jembrana, kebakaran menghanguskan sekitar 1,5 hektare lahan kosong di Desa Pekutatan.
Kebakaran juga masih terjadi ketika data tersebut diperbarui. Hingga Kamis (13/8/2026) pukul 06.00 WITA, terdapat tiga kejadian kebakaran baru di Bali. Salah satunya kembali terjadi di Buleleng.
Kebakaran tersebut melanda lahan jati di Banjar Dinas Serongga, Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt. Dua kejadian lainnya terjadi di Tabanan dan Denpasar.
BPBD Bali kini meningkatkan pemantauan terhadap kawasan yang memiliki potensi menjadi sumber api. Aktivitas masyarakat di sekitar hutan, lahan kering hingga kawasan tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi perhatian.
"Peningkatan kewaspadaan terhadap titik api dan respons sedini mungkin untuk mencegah kebakaran meluas," katanya.
Menurut Teja, ancaman kebakaran tidak hanya datang dari kawasan hutan dan lahan. TPA juga memiliki risiko tinggi terbakar ketika kondisi kering berlangsung panjang.
"Semua TPA berpotensi," tegasnya.
Di sisi lain, kemarau mulai memberikan tekanan terhadap ketersediaan air bersih di Buleleng.
Berdasarkan data BPBD Bali, krisis air selama periode 11 April hingga 11 Agustus 2026 telah berdampak pada 529 kepala keluarga (KK) di tiga kabupaten, yakni Buleleng, Jembrana, dan Karangasem.
Di Buleleng, wilayah yang terdampak berada di Desa Sinabun. Penurunan debit air SPAM dan sumber air menjadi salah satu persoalan yang dihadapi masyarakat.
Kondisi serupa juga terjadi di Jembrana, tepatnya di Kelurahan Pendem, Desa Asahduren, dan Desa Manistutu.
Sementara di Karangasem, krisis air tercatat di Desa Baturinggit. Penurunan debit sumber air, air gunung hingga sumur bor menjadi indikator semakin terbatasnya ketersediaan air.
BPBD Bali telah menyalurkan 305.000 liter air bersih ke wilayah terdampak. Buleleng mendapat distribusi terbesar, yakni 158.000 liter. Kemudian Jembrana sebanyak 137.000 liter dan Karangasem 10.000 liter.
Penanganan tidak berhenti pada distribusi air. BPBD juga memantau wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air, memetakan kebutuhan masyarakat, menyiapkan distribusi air bersih, serta memperkuat sarana pendukung sumber dan jaringan air, termasuk pompa dan pipanisasi.
Teja mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah rawan kekeringan, lebih bijak menggunakan air dan menyiapkan cadangan untuk kebutuhan sehari-hari.
Pada saat bersamaan, warga diminta tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan secara sembarangan. Puntung rokok juga diminta tidak dibuang di kawasan hutan, semak, atau lahan kering karena dapat menjadi pemicu kebakaran.
"Tidak membuang puntung rokok di kawasan hutan, semak, dan lahan kering. Segera melapor kepada perangkat desa/kelurahan atau BPBD setempat," sarannya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Bali