Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus. Berikut catatan perjalanannya.
ADA pengalaman yang sama sekali tidak masuk dalam bayangan saya ketika mengikuti rangkaian kunjungan China International Press Communication Center (CIPCC) di Distrik Pinggu, Beijing, awal Agustus lalu.
Bukan melihat laboratorium pertanian dengan teknologi canggih. Bukan pula menyaksikan mesin-mesin modern bekerja di tengah hamparan ladang.
Melainkan memetik buah persik. Lalu memakannya langsung dari pohonnya.
Bagi sebagian orang, barangkali itu pengalaman biasa. Namun bagi saya yang usia sudah mendekati kepala empat, ada satu fakta sederhana yang membuat momen tersebut terasa istimewa: itulah kali pertama saya mencicipi buah persik. Bukan dari rak supermarket, melainkan beberapa detik setelah dipetik dari pohonnya.
Sore itu, bus rombongan perlahan meninggalkan kawasan perkotaan Beijing dan memasuki pinggiran Distrik Pinggu. Pemandangan di balik kaca jendela seketika berubah.
Kebun-kebun persik bermunculan di kanan-kiri jalan. Pohon-pohonnya tidak terlalu tinggi. Namun nyaris setiap dahan dipenuhi buah berwarna merah muda kekuningan.
Sebagian bersembunyi di balik rimbunnya daun. Sebagian lainnya menggantung terang, seolah sengaja memamerkan kematangannya.
Beberapa menit kemudian, bus berhenti di sebuah kebun.
Sejumlah petani sudah menunggu. Senyum ramah mereka menyambut rombongan jurnalis dari Asia Pasifik, Afrika, Karibia, hingga Eropa.
Tak banyak seremoni. Seorang penerjemah kemudian menjelaskan bahwa setiap peserta mendapat kantong plastik untuk membawa buah persik hasil petikan sendiri.
Dan yang menarik, tidak ada batasan jumlah.
Mau dimakan di kebun boleh. Mau dibawa pulang juga silahkan.
Para jurnalis pun langsung menyebar di antara pepohonan. Ada yang sibuk memilih buah paling ranum. Ada yang membandingkan ukuran satu buah dengan lainnya.
Kantong plastik mulai terisi. Satu-dua kilogram menjadi hal biasa. Bahkan ada peserta yang membawa pulang hampir sepuluh kilogram.
Saya memilih cara berbeda.
Tidak mengambil kantong.
Cukup satu buah.
Saya berjalan pelan di antara pepohonan, memperhatikan buah-buah yang bergelantungan. Sampai akhirnya mata berhenti pada satu persik yang tampak matang. Tangan meraih. Buah itu dipetik.
Sederhana.
Namun justru di situlah pengalaman pertama itu terasa.
Permukaan kulitnya lembut, diselimuti bulu-bulu halus yang menjadi ciri khas buah persik.
Gigitan pertama menghadirkan rasa manis dengan sedikit sentuhan asam. Daging buahnya lembut dan berair.
Sekilas, rasanya mengingatkan pada apel. Hanya saja ada sensasi sedikit sepat yang tertinggal di ujung lidah.
Apakah itu buah paling enak yang pernah saya makan?
Mungkin tidak.
Tetapi buah yang baru beberapa detik lalu masih menggantung di pohon tentu menawarkan cerita yang berbeda. Ada pengalaman yang tidak bisa dibeli bersama buah yang tersusun rapi di rak supermarket.
Suasana kebun pun semakin ramai.
Tawa para peserta bersahutan. Ada yang saling menunjukkan buah hasil petikannya. Ada yang sibuk berfoto.
Sebagian lainnya merekam video, seolah ingin memastikan pengalaman sederhana itu tidak berhenti di kebun Pinggu.
Siti Zanariah binti Noor, jurnalis asal Malaysia, menjadi salah satu peserta yang menikmati pengalaman tersebut.
“Menyenangkan bisa petik langsung dan makan buah di perkebunannya. Apalagi proses tanamnya organik, jadi tidak perlu khawatir bahan kimia,” ujarnya.
Bagi Olivia Hutchinson, jurnalis asal Jamaika, pengalaman itu bahkan terasa lebih istimewa. Sebab, persik bukan buah yang mudah ditemukan di negaranya.
“Senang bisa memakan buah ini secara langsung di tempatnya tumbuh. Di Jamaika, ini tergolong buah premium. Tapi di sini bisa menjadi buah yang dikonsumsi sehari-hari,” katanya.
Namun, kejutan belum selesai.
Sebelum meninggalkan kebun, masing-masing peserta mendapat satu kotak buah persik kualitas premium. Isinya enam hingga tujuh buah berukuran besar dengan bobot sekitar dua kilogram.
Kotak demi kotak kemudian memenuhi bagasi bus.
Perjalanan pulang pun terasa berbeda. Aroma manis buah persik yang baru dipanen perlahan memenuhi kabin.
Dan justru dalam perjalanan itulah saya mulai memahami sesuatu.
Persik di Pinggu rupanya bukan sekadar buah.
Sepanjang perjalanan menuju pusat kota, hampir di setiap sisi jalan terlihat pedagang menjajakannya.
Ada yang membuka kios sederhana. Ada yang menggelar dagangan di tepi jalan. Tumpukan buah persik menjadi pemandangan yang begitu lazim.
Persik hadir di mana-mana.
Dari kebun, pasar, hingga pinggir jalan.
Bagi Pinggu, buah itu tampaknya bukan sekadar hasil panen yang menunggu dijual. Persik telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus salah satu denyut ekonomi distrik tersebut. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng