RadarBuleleng.id – Rencana pengembangan energi berbasis gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) di kawasan Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, menuai kritik tajam dari kalangan pegiat lingkungan.
Program yang digadang-gadang mendukung kemandirian energi bersih Bali ini dinilai masih menyimpan risiko emisi hingga dampak keselamatan warga.
Isu tersebut mengemuka dalam diskusi dan pemutaran film dokumenter “Celukan Bawang: Zona Pengorbanan Energi Bali” serta “Mencemari Janji Bersih” di Kubu Kopi, Denpasar, Sabtu (10/10/2026).
Pegiat Don't Gas Indonesia, Roberto Hutabarat, mengkritik klaim LNG sebagai energi bersih.
Menurutnya, proses penyediaan hingga pemanfaatan gas alam cair tetap menimbulkan dampak lingkungan.
”Bali sering digaungkan menggunakan energi bersih. Namun pada kenyataannya, LNG belum sepenuhnya bebas emisi kotor. Pengalaman di daerah lain seperti Cilamaya, Karawang, menunjukkan adanya peningkatan suhu panas dan bau tidak sedap di sekitar fasilitas,” kata Roberto dalam diskusi yang diinisiasi Rhizoma Indonesia bersama LBH Bali.
Perwakilan Rhizoma Indonesia, Amanda Paramerta, menyoroti aspek keselamatan masyarakat pesisir Celukan Bawang.
Menurutnya, potensi kebocoran gas hingga risiko insiden kebakaran perlu dikaji secara matang.
”Masyarakat di sekitar kawasan industri tentu mencemaskan potensi kebocoran yang memicu risiko ledakan. Keterbukaan informasi mengenai sistem pengamanan fasilitas sangat diperlukan,” ujar Amanda.
Senada dengan itu, Wahyu Widianto dari Rhizoma Indonesia menegaskan pentingnya edukasi dan transparansi dari pihak terkait kepada warga lokal sebelum proyek berjalan.
”Potensi dampak lingkungan dan mitigasi risikonya wajib dibuka secara utuh kepada masyarakat,” tegas Wahyu.
Sutradara film dokumenter, Rai Astrawan, mengungkapkan bahwa karya audio-visual ini mengabadikan kehidupan nelayan dan masyarakat pesisir Celukan Bawang sejak 2016.
Film ini merekam dinamika ruang hidup warga yang sebelumnya berdampingan dengan PLTU dan kini dihadapkan pada rencana proyek LNG.
”Proses dokumentasi ini mengumpulkan lebih dari 500 giga byte data lapangan sejak dekade lalu. Harapannya, karya ini menjadi wadah edukasi sekaligus ruang diskusi publik terkait arah pembangunan energi di Bali,” ujar Rai. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng