RadarBuleleng.id - Viral di media sosial, video pendek berdurasi 58 detik. Video itu memperlihatkan driver pariwisata yang terlibat cekcok.
Video muncul di platform media sosial Facebook. Video diketahui diunggah oleh pemilik akun dengan nama Dendi Aza Ya.
Video diunggah pemilik akun pada Rabu (5/3/2025), sekitar pukul 21.45 malam. Video dengan cepat viral.
Hingga Kamis (6/3/2025) sore, video itu sudah disaksikan hingga 203 ribu kali. Video dibagikan 190 kali, dan dikomentari oleh 925 pemilik akun facebook.
Dalam video terlihat seorang pengemudi yang mengendarai mobil Suzuki Ertiga, dihentikan di tepi jalan raya oleh tiga orang pria. Pengemudi itu diduga driver pariwisata di Bali.
Pengemudi dan tiga orang pria kemudian terlibat cekcok di pinggir jalan di wilayah Kecamatan Kintamani, Bangli. Kuat dugaan cekcok terkait dengan masalah penjemputan tamu.
Kuat dugaan terjadi salah paham. Para pria menduga jika pengemudi tersebut merupakan driver taksi online. Padahal driver yang dihentikan itu, sempat mengikuti aspirasi ke DPRD Bali terkait keberlangsungan nasib driver pariwisata.
Praktis, video tersebut menuai berbagai komentar dari para pengguna akun media sosial, khususnya Facebook.
Baca Juga: Dikeroyok Sesama Driver di Bali, Dua Pria Babak Belur dan Masuk Rumah Sakit
Salah satunya, pemilik akun Gusti Sumardayasa. “Tyang Punya juga pernah pengalaman begini. Tapi percayakan, tidak ada yang bisa menutup rezeki orang lain. Sabar semeton,” ungkapnya.
Pengguna Facebook lainnya, Ikomang Widiantara menganjurkan agar sesama driver pariwisata menjaga suasana kondusif Bali.
“Alon-alon mebaos semeton pade nyame Bali, pade ngalih gae pade dadi sopir . Pade-pade berjuang gasne di Renon Jani di jalan saling dengkik,” tulisnya.
Jika diartikan ke bahasa Indonesia, “pelan-pelan bicara semeton, sesama saudara di Bali. Sama-sama mencari pekerjaan jadi sopir. Waktu ini sama-sama berjuang di Renon, sekarang di jalan malah cekcok,” ungkapnya.
Pengguna akun lainnya, I Ketut Wintara khawatir bila masalah itu akan menjadi citra buruk bagi pariwisata di Bali.
“Inilah yang merusak citra wisata Bali. Wisatawan tidak bisa dibohongi. Jika tarif relevan, wisatawan mungkin mau menggunakan jasa mereka. Tentu wisatawan yang menyaksikan langsung kejadian ini akan trauma dan akan bercerita,” ungkapnya.
Akun facebook Cxhrash Jap juga mengungkapkan hal serupa. “Sampai kapan kita ini akan ribut dengan sesama pejuang nafkah untuk keluarganya. Apalagi di depan wisatawan. Reputasi terhadap pariwisata nanti akan berdampak pula. Pemerintah pun sulit mencari jalan tengah,” ujarnya.
Komentar lebih menusuk ditulis oleh pemilik akun Mink Chu. “Terus gen kene. Len be majogjag ajak nyame Bali. len tamu sube mulai sing nyaman ke Bali, ne tetap tenang bapak-bapak pembuat kebijakan,” tulisnya.
Jika diterjemahkan, maka berarti: “Terus saja seperti ini. Sudah ribut dengan sesama orang Bali. Sudah turis tidak nyaman ke Bali, yang tetap tenang bapak-bapak pembuat kebijakan,” ujarnya.
Sementara pemilik akun I Made Suarna, meminta semua pihak menahan diri. Ada baiknya, mulai menyesuaikan diri dengan perkembangan yang serba digital.
“Berpikir bijak jro, turu nyame Bali (sesama orang Bali) jangan terlalu keras pada ngalih (sama-sama mencari) makan. Jangankan sopir, hotel pun pakai sistem online,” ujarnya.
Sementara itu, pemilik akun Facebook dengan nama Citra sempat menjelaskan duduk perkara peristiwa tersebut.
Menurut Citra, peristiwa bermula saat pengemudi mobil Suzuki Ertiga, mengantarkan seorang wisatawan ke Kintamani.
Setelah dropping turis, tiba-tiba ada seorang turis yang langsung masuk ke dalam mobil dan minta diantar ke Canggu.
“Posisi bapak sopir nike (itu) lagi ngedrop, tiba-tiba ada tamu langsung masuk mobil minta ke Canggu tanpa tahu situasi (mungkin sebelumnya tdk cocok dengan harga warga lokal disana). Dijelaskan oleh bapak supir bahwa dia tidak ada online supaya tidak ada kesalahpahaman, tapi bapak-bapak di sana tidak terima dan teriak-teriak,” tulisnya.
Viralnya video tersebut, menunjukkan bahwa pemerintah perlu segera mengambil sikap untuk mengatur tata kelola transportasi pariwisata di Bali. Sehingga perselisihan serupa dapat dicegah. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya