
RadarBuleleng.id – Ancaman wabah rabies di Kabupaten Jembrana, Bali, kian mengkhawatirkan dengan pola penularan yang makin meluas.
Hingga akhir Oktober 2026, akumulasi kasus positif rabies di Pulau Dewata bagian barat tersebut resmi menembus angka 84 kasus.
Menariknya, kasus positif paling gres bukan ditemukan pada populasi anjing, melainkan seekor pedet atau anak sapi yang berusia sekitar tiga bulan di wilayah Kecamatan Pekutatan.
Kepastian mamalia besar tersebut terjangkit virus mematikan diperoleh usai Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar mengeluarkan hasil uji laboratorium terhadap sampel jaringan hewan tersebut.
Anak sapi tersebut diduga kuat tertular rabies usai digigit anjing liar di sekitar perkebunan warga.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, membenarkan temuan kasus tak biasa tersebut.
Laporan awal diterima dari pemilik sapi sekitar empat hari sebelum hasil uji laboratorium terbit.
”Awalnya pemilik melaporkan sapinya sakit dan meminta petugas datang melakukan penyuntikan. Namun, saat tim medik veteriner turun ke lokasi, ditemukan sejumlah gejala klinis yang mencurigakan,” ungkap Sugiarta, Minggu (1/11/2026).
Sugiarta mengungkapkan, anak sapi tersebut menunjukkan gejala khas rabies pada stadium lanjut, seperti mengeluarkan air liur berlebihan serta perubahan perilaku yang drastis menjadi sangat agresif dan kerap menyerang saat didekati warga.
Kondisi kesehatan sapi terus memburuk hingga puncaknya hewan ternak tersebut mengamuk tak terkendali dan nekat melompat terjun ke dalam aliran sungai. Setelah berhasil dievakuasi oleh warga dan petugas, sapi tersebut akhirnya mati.



