Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Waspada! Kebanyakan Shift Malam, Risiko Serangan Jantung Makin Tinggi

Admin • Sabtu, 3 Mei 2025 | 01:15 WIB

 

Ilustrasi serangan jantung
Ilustrasi serangan jantung

Opini oleh: Prima Trisna Aji*

HARI Buruh diperingati setiap tanggal 1 Mei. Pemerintah menetapkan tanggal tersebut sebagai hari libur nasional untuk menghargai profesi para Buruh. Kita ketahui bahwa buruh merupakan profesi berat. Setiap manusia harus mempersiapkan jiwa dan raga dengan baik untuk menjalaninya.

Buruh merupakan profesi yang mengharuskan seseorang untuk menjalani tiga shift pekerjaan. Ada shift pagi, shift siang, atau shift malam. Jam kerja atau shift, biasanya ditetapkan oleh manajemen perusahaan.

Mengacu pada peraturan Pemerintah Indonesia tentang Buruh bahwa berdasarkan Pasal 81 angka 23 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 77 ayat 1 Undang-Undang Ketenagakerjaan, setiap pengusaha harus memenuhi 8 jam kerja setiap hari, 40 jam kerja seminggu, dan 5 hari kerja seminggu.  

Secara spesifik, ada tiga shift yang diatur. Yakni shift 1 dimulai dari pukul 07.00 pagi hingga pukul 15.00 sore, shift 2 dimulai dari pukul 23.00 malam hingga pukul 07.00 pagi, dan shift 3 dimulai dari pukul 15.00 sore hingga pukul 23.00 malam.

Bagi buruh yang menjalani shift malam, mereka harus terjaga semalaman. Terkadang buruh memilih berdiri agar tidak mudah tertidur. Hal ini bisa memicu gangguan serius pada kesehatan. Ketika buruh pabrik menjalani shift malam, maka siklus tidur mereka terganggu. Sehingga sel tubuh tidak mendapat kesempatan untuk memperbaiki diri. Hal ini tentunya bisa menyebabkan masalah kesehatan organ apabila berlangsung secara terus menerus.

Penelitian terbaru The State of Sleep in tahun 2025 menunjukkan, tidak tidur semalaman atau kurang tidur, dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Termasuk masalah fisik dan mental. 

Beberapa masalah yang dapat terjadi yakni penurunan daya tahan tubuh, peningkatan risiko penyakit jantung dan diabetes, masalah mental seperti stres dan kecemasan, serta gangguan pada fungsi otak dan memori. Masalah kesehatan lain yang tak kalah serius adalah kesehatan jantung.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Eka Hospital menunjukkan bahwa tidur kurang dari 6 jam per malam, dapat meningkatkan risiko terkena serangan jantung. Selain itu, kurang tidur dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung secara keseluruhan, seperti tekanan darah tinggi, peradangan, dan aterosklerosis. 

Penelitian Eka Hospital menemukan bahwa orang yang tidur kurang dari 6 jam setiap hari memiliki risiko 20 persen lebih tinggi terkena serangan jantung. Selain itu, kurang tidur, baik secara individu maupun bersamaan, meningkatkan risiko penyakit jantung hingga 141 persen. Data ini juga didukung Studi dari National Institutes of Health (NIH) menunjukkan bahwa tidur kurang dari 5 jam atau lebih dari 9 jam dapat meningkatkan risiko serangan jantung.

Pada tahun 2025, Kementerian Kesehatan juga melaporkan bahwa orang dewasa berusia 18 hingga 40 tahun membutuhkan waktu istirahat tidur selama tujuh hingga delapan jam setiap hari. Begitu pula dengan para lansia memerlukan waktu istirahat tidur setidaknya selama 8 jam.

Tekanan darah tinggi, gangguan metabolisme, dan peradangan pada tubuh adalah semua faktor yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung bagi seseorang yang mengalami kurang tidur. Selain itu, kurang tidur juga dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk memperbaiki kerusakan pada pembuluh darah dan jantung, sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung secara keseluruhan. 

Oleh karena itu, serangan jantung disebut sebagai "The Sillent Killer". Karena penyakit ini adalah pembunuh yang diam-diam. Membunuh seseorang secara tiba-tiba meskipun mereka tidak menunjukkan gejala apa pun. Bahkan apabila tidak segera dilakukan pertolongan secara cepat bisa mengancam nyawa.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa buruh pabrik memiliki risiko tinggi terkena serangan jantung. Risiko penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung, meningkat pesat dengan pekerjaan yang melelahkan, kurang aktivitas fisik, dan pekerjaan yang menimbulkan stres. Selain itu kurangnya skrining Kesehatan secara rutin membuat resiko penyakit jantung tidak terdeteksi sedini mungkin.

Solusi untuk mengatasi permasalahan diatas adalah melakukan kolaborasi dengan perusahaan untuk secara rutin mengadakan check up kesehatan setiap 3 bulan sekali pada pekerjanya. Terutama pada pekerja yang beresiko mengalami serangan jantung seperti usia lansia, obesitas, mempunyai riwayat tekanan darah tinggi dan mempunyai riwayat keluarga yang mempunyai penyakit jantung. 

Selain itu, perusahaan bisa mengatur jadwal bagi para pekerjanya supaya bisa mengatur shift malam secara selang seling. Sehingga shift malam secara terus menerus berturut – turut bisa dihindarkan. Ini dilakukan untuk memberi sel tubuh waktu yang cukup untuk memperbaiki diri setelah semalaman tidak tidur.

Pihak perusahaan juga bisa memantau status nutrisi para pekerja pabrik untuk suplai pemberian makanan bergizi yang memiliki antioksidan yang tinggi seperti kombinasi buah  apel, jeruk, pisang dan lainnya. Menurut penelitian, makan buah apel secara teratur dapat membantu orang menghindari serangan jantung dan penyakit jantung koroner. Mengingat apel mengandung antioksidan, serat, dan flavonoid yang dapat menurunkan kolesterol LDL, meningkatkan kolesterol HDL, dan membantu menjaga tekanan darah stabil.

Para pekerja juga bisa mempersiapkan diri ketika akan melakukan shift malam. Supaya pada siang hari bisa melakukan tidur siang yang cukup. Hal ini bertujuan untuk mencegah kelelahan pada malam hari ketika tidak tidur seharian karena harus menjalani shift malam. Meskipun tidur siang tidak bisa menggantikan tidur malam, tetapi hal ini bisa mengurangi terjadinya permasalahan yang lebih serius.

Sedangkan pemangku kebijakan bagi pemerintah terutama pada Kementerian Tenaga Kerja bisa menyusun regulasi yang lebih berpihak bagi kondisi kesehatan para buruh. Kementerian Tenaga Kerja dan Kementerian Kesehatan bisa bekerjasama untuk melakukan pemeriksaan kesehatan berkala. Kementerian Tenaga Kerja juga harus memastikan bahwa buruh tidak mengalami jam kerja yang berlebih sehingga mengakibatkan kelelahan berkepanjangan.

Guna meningkatkan kesehatan buruh bagi Kementerian Tenaga Kerja bisa fokus pada beberapa hal. Pertama, promosi gizi seimbang dan pola makan sehat. Kedua, pentingnya melakukan aktivita secara rutin serta melakukan olahraga secara teratur. Ketiga, memastikan lingkungan kerja bebas dari asap rokok dan menyediakan ruang laktasi. Keempat, memberikan sosialisasi tentang pentingnya menjaga tingkat tidur yang cukup dan mengelola stres. 

Terakhir, memastikan Gerakan Pekerja Sehat (GPS) yang digalakkan Kementerian Tenaga Kerja bisa berjalan dengan baik dan optimal. Terlebih program GPS memiliki fokus yang positif. Seperti deteksi dini penyakit pada pekerja, tempat kerja tanpa asap rokok, aktivitas fisik/olahraga, penyediaan ruang laktasi, perilaku hidup bersih dan sehat, penggunaan APD, tindakan P3K, dan promosi gizi seimbang bagi tenaga kerja. (*)

 

*) Penulis adalah dosen pada Prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#serangan jantung #libur #kesehatan #buruh #profesi #perusahaan #tidur #shift #darah tinggi #jantung #Shift malam