Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Nyakan Diwang, Tradisi Hangat Warga Buleleng Sambut Ngembak Geni

Eka Prasetya • Jumat, 20 Maret 2026 | 08:46 WIB

TRADISI: Tradisi Nyakan Diwang di Desa Banjar, Buleleng.
TRADISI: Tradisi Nyakan Diwang di Desa Banjar, Buleleng.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Beragam tradisi khas mewarnai usai perayaan Hari Raya Nyepi di Kabupaten Buleleng, Bali. 

Salah satu yang tetap lestari hingga kini adalah tradisi nyakan diwang, yang masih dijalankan masyarakat di sejumlah desa di Kecamatan Banjar.

Tradisi ini umumnya digelar saat ngembak geni, tepatnya menjelang berakhirnya rangkaian Nyepi. Tahun ini, Nyepi jatuh pada Rabu (19/3/2026).

Sejak Kamis (20/3/2026) dini hari, sekitar pukul 03.00 WITA, warga sudah mulai keluar rumah untuk mempersiapkan kegiatan tersebut.

Mereka kemudian membuat tungku sederhana dari batu bata atau batako di depan rumah, tepat di tepi jalan. Dari tungku itulah berbagai hidangan dimasak bersama, mulai dari nasi, sate, ayam suwir, saur, hingga aneka sayur-mayur.

Suasana hangat pun muncul saat warga menikmati hidangan bersama keluarga di pinggir jalan. Tak jarang, mereka juga saling bertukar makanan atau sekadar mencicipi masakan tetangga, mempererat kebersamaan di momen spesial tersebut.

Salah satu warga Desa Banjar, Ida Putu Wedanajati, menyebut nyakan diwang sebagai tradisi turun-temurun yang sudah ia kenal sejak kecil. Hingga kini, tradisi tersebut tetap dijaga, bahkan setelah dirinya pensiun dari instansi kepolisian.

“Ini tradisi leluhur kami. Sudah sangat lama sekali. Jadi ini bentuk kami mempertahankan tradisi yang diwariskan oleh orang tua kami,” ujarnya.

Menurut Wedanajati, nyakan diwang tidak hanya soal memasak di luar rumah, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi sekaligus menjaga keajegan budaya Bali.

“Sekalian silaturahmi dengan tetangga. Mereka yang pulang kampung saat hari raya. Sama-sama menjaga keajegan Bali, mempertahankan tradisi,” tegasnya.

Hal senada disampaikan warga lainnya, Ida Ketut Arcana. Ia menilai nyakan diwang menjadi momen yang dinanti setelah sehari penuh menjalani Catur Brata Penyepian.

“Ini momen yang dinanti. Karena seharian kita menyepi di rumah, selanjutnya kita langsung bergembira, bertegur sapa, dan bersilaturahmi dengan keluarga dan tetangga dekat,” ujarnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#nyakan diwang #bali #pensiun #ngembak geni #hari raya #tungku #keluarga #Banjar #desa #tradisi #nyepi #buleleng