Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rencana PLTG : Babak Baru Kecemasan Warga Celukan Bawang

Eka Prasetya
Penulis: Eka Prasetya❯


Advertisement

PLTU Celukan Bawang di Desa Celukan Bawang. Pengelola PLTU Celukan Bawang, memastikan bahwa pembangkit listrik mereka bukanlah penyebab blackout yang melumpuhkan seluruh Bali, Jumat sore kemarin.
PLTU Celukan Bawang di Desa Celukan Bawang. Pengelola PLTU Celukan Bawang, memastikan bahwa pembangkit listrik mereka bukanlah penyebab blackout yang melumpuhkan seluruh Bali, Jumat sore kemarin.

 

Advertisement

Isu pembangunan pembangkit listrik kembali menghampiri warga di Desa Celukan Bawang, Kabupaten Buleleng, Bali. Bayangkan, 15 tahun yang lalu, pemerintah  mendatangkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan segala masalah yang belum selesai. Kali ini pemerintah bakal mendatangkan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG). Lagi-lagi, warga dibuat cemas dengan segala masalah hingga ancaman kerusakan lingkungan.

SUPRIYADI menatap nanar dermaga kapal di sisi utara PLTU Celukan Bawang – pembangkit listrik batu bara terbesar di Bali. “Biasanya itu di dermaga itu tempat kami yang menangkap ikan. Menjaring kami di sana,” ungkap pria 52 tahun itu seraya menunjuk ke arah barat.

Saban hari, Supriyadi tinggal di tepi Pantai Berongbong, yang lokasinya terletak di sisi timur PLTU Celukan Bawang. Dermaga itu dibangun pada tahun 2013, untuk melayani operasional bongkar muat batu bara di pembangkit listrik yang berjarak 101 kilometer arah utara Kota Denpasar.

Advertisement

Sejak saat itu pula laut yang dulu menjadi ruang hidup bagi para nelayan di Dusun Berongbong, Celukan Bawang, berubah fungsi menjadi dermaga batu bara yang menyuplai pasokan ke PLTU Celukan Bawang. Hampir saban pekan, kapal tongkang pembawa batu bara bersandar dan menurunkan muatannya.

Tatkala pembangkit mulai beroperasi tahun 2015, ritme hidup masyarakat pesisir pun berubah. Perlahan, ruang gerak nelayan menyempit. Nelayan yang tadinya terbiasa menjaring di perairan Berongbong kini terpaksa menyingkir lebih jauh ke utara. Bersamaan dengan itu, penghasilan ikut tergerus.

Dulu sebelum pembangkit listrik eksis, nelayan bisa membawa pulang sekitar 50 kilogram ikan sekali melaut. Bila dirupiahkan sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 750 ribu per hari. Kini nelayan hanya bisa menjaring ikan sekitar 10 kilogram, yang dirupiahkan berkisar pada angka Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu per hari.

Supriyadi, Ketua Kelompok Nelayan Bakti Kosgoro, mengingat masa-masa ketika laut seperti halaman belakang rumah. Dulu, untuk mendapatkan ikan, ia tak perlu melaut terlalu jauh. Lima liter bensin cukup untuk pergi dan pulang. Hanya perlu 30 menit perjalanan menggunakan sampan ke tengah laut untuk menjaring ikan.

Advertisement

Artikel Terkait

Harga Rumah di Bali Naik, Dipicu Peningkatan Harga Bahan Bangunan

Harga Rumah di Bali Naik, Dipicu Peningkatan Harga Bahan Bangunan

Harga properti residensial Bali naik 1,02 persen pada triwulan II 2026. Rumah menengah mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,52 persen secara tahunan.

Koster Sebut Buleleng Punya ‘Rezeki’ Sendiri, Gerokgak Disiapkan Jadi Kawasan Ekonomi Pariwisata

Koster Sebut Buleleng Punya ‘Rezeki’ Sendiri, Gerokgak Disiapkan Jadi Kawasan Ekonomi Pariwisata

Gubernur Bali Wayan Koster menyebut Buleleng punya potensi berbeda dari barat hingga timur. Gerokgak disiapkan sebagai kawasan ekonomi pariwisata.

Seorang Pria di Bali Diduga Kerap Lecehkan Pengendara Perempuan. Polisi Ungkap Sudah 10 Kali Beraksi

Seorang Pria di Bali Diduga Kerap Lecehkan Pengendara Perempuan. Polisi Ungkap Sudah 10 Kali Beraksi

Pria berinisial IWCA, 25, diamankan warga di Abiansemal setelah diduga melecehkan pengendara perempuan. Polisi mendalami pengakuannya yang disebut pernah beraksi 10 kali.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer