Dari Kota Sapi hingga Lembah Teknologi, Wajah Baru Anhui di Selatan Beijing


Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
PEKAN ini saya “dipaksa” meninggalkan hiruk pikuk Beijing. Setelah hampir dua pekan berkutat di ibu kota Tiongkok dalam program China International Press Communication Center (CIPCC), kini perjalanan berlanjut ke daerah yang jaraknya cukup jauh dari pusat pemerintahan negeri Tirai Bambu itu.
Tujuannya adalah Provinsi Anhui, wilayah di sisi timur Tiongkok yang selama ini dikenal sebagai daerah agraris dan salah satu pusat sejarah peradaban Tiongkok.
Dari 16 orang wartawan kawasan Asia Pasifik peserta CIPCC, hanya 12 orang yang mendapat kesempatan berkunjung ke Anhui. Saya termasuk salah satunya.
Perjalanan dimulai Senin pagi (25/5/2026). Tepat pukul 10.00 WITA, bus yang kami tumpangi meninggalkan Renmin University of China menuju Bandara Beijing Capital.
Dari sana, kami terbang menuju Kota Fuyang, salah satu kota utama di Provinsi Anhui.
Awalnya penerbangan terasa biasa saja. Namun 20 menit setelah lepas landas, suasana di kabin mendadak menegangkan. Pesawat Air China yang kami tumpangi berkali-kali bergetar akibat turbulensi cukup kuat.
Beberapa penumpang terlihat saling pandang. Ada yang mulai menggenggam sandaran kursi lebih erat. Maklum, cuaca di Beijing siang itu memang kurang bersahabat.
Setelah sekitar dua jam penerbangan, kami akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Fuyang.



