Mengunjungi Pelabuhan Peti Kemas di Tiongkok. Tanpa Pengemudi, Tanpa Operator Crane


Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
SUNYI. Itulah kesan pertama yang saya rasakan saat berdiri di bibir Pelabuhan Teluk Beibu, Kota Qinzhou, Provinsi Guangxi, Tiongkok.
Tak terdengar teriakan mandor yang mengatur bongkar muat. Tak ada deru truk kontainer yang saling bersahutan. Bahkan, operator crane yang biasanya bertengger di kabin derek raksasa pun tak terlihat.
Padahal, di hadapan saya, ratusan peti kemas terus berpindah dari kapal ke daratan. Aktivitas pelabuhan berjalan seperti biasa. Nyaris tanpa campur tangan manusia.
Pemandangan itulah yang menyambut rombongan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik saat mengunjungi Smart Port Innovation Center di Pelabuhan Teluk Beibu beberapa waktu lalu.
Dari ruang observasi yang menghadap langsung ke terminal kontainer, kami menyaksikan sebuah orkestrasi teknologi yang bekerja nyaris sempurna.
Crane raksasa bergerak sendiri, kendaraan pengangkut kontainer melaju tanpa sopir, sementara seluruh aktivitas dikendalikan oleh sistem digital dari balik layar komputer.
"Semua peralatan berwarna biru yang terlihat di terminal ini merupakan sistem yang sepenuhnya otomatis," jelas Tian Qiyu, penerjemah sekaligus perwakilan Guangxi Qinzhou Free Trade Port Area Honggang Terminal Co., Ltd.
Saya kemudian mengalihkan pandangan ke bawah gedung observasi. Dua kendaraan pintar tanpa pengemudi melintas beriringan membawa peti kemas. Jalurnya berdekatan, tetapi keduanya bergerak presisi. Tak saling bersenggolan, apalagi bertabrakan.



