SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Proses survei seismik pemetaan potensi minyak dan gas (migas) di perairan Kabupaten Buleleng, sempat membuat nelayan berhenti melaut.
Penyebabnya rumpon-rumpon milik nelayan yang terpasang di tengah laut, terpaksa harus dibersihkan dan ditarik ke darat.
Alasannya rumpon tersebut mengganggu alur pelayaran kapal yang hendak melakukan survei pemetaan minyak di Buleleng.
Setelah survei tuntas, nelayan berharap mereka bisa memasang rumpon lagi di laut.
Salah seorang nelayan, Gede Sumertadana mengatakan, selama rumpon ditarik ke darat nelayan bisa dibilang kehilangan mata pencaharian.
Sebagian nelayan memilih banting haluan sebagai buruh bangunan sampai survei seismik tuntas.
Sementara nelayan yang bertahan, harus putar otak lebih keras agar bisa mendapatkan ikan.
“Kalau bisa dibilang selama ini nelayan nganggur,” katanya.
Sumertadana mengatakan, nelayan yang masih bertahan terpaksa keliling mencari ikan. Karena tidak punya fishing ground.
Dulunya saat melaut, nelayan langsung menuju rumpon mereka. Lalu memancing atau menjaring di sana.
Kini para nelayan terpaksa berkeliling mengikuti pergerakan lumba-lumba, atau mencari batang kayu yang hanyut.
“Biayanya jadi lebih mahal. Itu juga hanya bisa memancing. Kalau dulu masih ada rumpon, bisa sekalian menjaring,” imbuhnya.
Ia pun berharap nelayan bisa segera memasang rumpon. Apalagi sejumlah kelompok nelayan sudah mulai merakit rumpon.
“Ada yang sudah mulai merakit. Yang belum bisa dibeli itu kan tali dan beton untuk jangkar. Itu yang biayanya besar. Jadi kami menunggu kompensasi cair dulu,” ujarnya.
Sementara itu Pj. Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana meminta agar nelayan segera diizinkan memasang rumpon.
Dia juga meminta kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Bali tidak mempersulit nelayan dalam urusan pemasangan rumpon.
“Sekarang survei seismik sudah selesai. Jadi boleh dong, pada kawasan tertentu nelayan bisa pasang rumpon. Sehingga bisa beraktivitas lagi,” ujar Lihadnyana. (*)
Editor : Eka Prasetya