SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden RI, Prabowo Subianto, membawa dua sisi bagi lingkungan sekolah.
Di satu sisi, siswa dan orang tua merasa terbantu karena kebutuhan makan anak di sekolah terpenuhi. Namun di sisi lain, keberadaan MBG memunculkan tantangan baru bagi kantin sekolah.
Selama ini, kantin menjadi tumpuan siswa untuk membeli makan dan minum, terutama saat jam istirahat.
Aktivitas jual beli di lingkungan sekolah pun menjadi sumber penghidupan bagi para pengelola dan pedagang kantin. Tak heran, berjualan di sekolah selama ini dianggap cukup menjanjikan.
Namun sejak MBG mulai diterapkan pada 2025, pola konsumsi siswa di sekolah perlahan berubah.
Pada jam istirahat pertama, siswa sudah mendapatkan makanan bergizi yang disajikan di atas ompreng. Makanan tersebut disediakan oleh Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG), bukan dari kantin sekolah.
“Dampaknya cuma harus ganti menu nasi yang dijual, menjadi snack lain. Karena sebelumnya, kantin jualan nasi. Tapi setelah ada MBG ya kantin tidak jualan nasi,” ujar Amanda, salah satu pengelola kantin di SDN 3 Penarukan.
Menurut Amanda, di tingkat sekolah dasar dampak MBG terhadap kantin tidak terlalu signifikan.
Sebab setelah istirahat pertama, masih ada jam istirahat kedua yang tetap dimanfaatkan siswa untuk berbelanja ke kantin.
Tak jarang pula, siswa yang sudah menghabiskan porsi MBG masih kembali ke kantin untuk sekadar membeli cemilan. Dengan demikian, aktivitas kantin tetap berjalan, meski terasa ada perubahan dibandingkan sebelumnya.
“Untuk penurunan ada, tapi tidak terlalu signifikan. Cuma berpengaruh lah mungkin sekitar sepuluh persen ya di bagian penjualan nasi,” lanjutnya.
Kehadiran MBG membuat pedagang kantin harus memutar otak agar dagangannya tidak mubazir. Pola penjualan pun berubah. Jika sebelumnya fokus pada makanan berat seperti nasi, kini bergeser ke jajanan ringan.
Jajanan kering dan produk pabrikan dinilai lebih aman karena daya tahannya lebih lama. Sementara jajanan basah atau makanan buatan rumahan harus diperhitungkan dengan cermat agar tidak berakhir rugi.
Perubahan strategi ini dilakukan agar target penjualan lebih jelas. Ada pergeseran prioritas dari makanan berat ke cemilan.
Walaupun masih menjual makanan berat, porsinya dibuat lebih terbatas demi menghindari kerugian.
“Awal berdagang, jualan nasi. Namun ada MBG, akhirnya tidak jualan nasi lagi,” kata Agus Arimbawa, salah satu pedagang kantin di SMAN 1 Sukasada.
Berbeda dengan sekolah dasar, dampak MBG di tingkat sekolah menengah atas dirasakan lebih besar.
Sejumlah pedagang mengaku mengalami penurunan penjualan sejak program tersebut berjalan, meski enggan membeberkan angka pastinya.
Meski MBG disebut mampu menggerakkan ekonomi daerah melalui penyerapan bahan baku, pembukaan lapangan kerja, serta penguatan ketahanan pangan lokal, di sisi lain muncul kekhawatiran program ini berimbas pada roda ekonomi kecil di lingkungan sekolah, seperti kantin.
Akibatnya, pedagang kini lebih selektif menentukan jenis dagangan. “Sekarang jual cemilan saja. Masih jual bakso dan soto, tapi tidak berani banyak-banyak,” tambah Ketut Seriada, pedagang lainnya.
Di balik kilap ompreng MBG yang setiap hari tersaji, ada piring-piring kantin yang terancam jarang terpakai. Di balik anggaran triliunan rupiah program MBG, ada pendapatan pedagang di kantin sekolah yang tergerus dan bersiasat agar tetap bertahan. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya