Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Protes Kebisingan Pembangkit Listrik, Warga Perum Nirwana Kembali Geruduk PLTGU Pemaron

Eka Prasetya • Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:58 WIB

 

DIPROTES WARGA: Suasana di depan PLTGU Pemaron. Aktivitas pembangkit listrik itu diprotes warga gara-gara memicu kebisingan.
DIPROTES WARGA: Suasana di depan PLTGU Pemaron. Aktivitas pembangkit listrik itu diprotes warga gara-gara memicu kebisingan.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Puluhan kepala keluarga yang tinggal di sekitar kawasan PLTGU Pemaron, khususnya di Perum Nirwana Pemaron, kembali menyuarakan aksi protes.

Pada Kamis (12/2/2026) warga kembali menggeruduk PLTGU Pemaron memprotes suara kebisingan yang makin membuat warga resah.

Aksi protes itu terungkap lewat video yang diterima Radar Buleleng. Terlihat ada dua video yang berbeda.

Video pertama terlihat warga mendatangi pintu PLTGU Pemaron. Dalam video tersebut, warga diarahkan mendatangi PLTD yang berada di sisi belakang PLTGU.

Pada video kedua, warga tampak menyampaikan protes kepada seorang petugas di areal PLTD. Suara kebisingan mesin pembangkit juga terdengar dalam video tersebut.

Namun, mereka mengaku tidak mendapat jawaban yang memuaskan dan merasa “dilempar” tanpa kepastian solusi.

Salah satu warga, Maryono, menuturkan kebisingan dari mesin pembangkit listrik sudah lebih dari setahun dirasakan dan dinilai semakin mengganggu.

“Mulai hidup dan matinya kami tersiksa. Kami tidak kuat dengan kebisingan itu. Sound barrier yang dipasang sepertinya tidak efektif. Kami ukur kebisingannya bisa sampai 83 sampai 90 desibel, menyiksa,” ujarnya.

Menurutnya, warga sempat menuntut agar mesin dimatikan sementara waktu. Namun, pihak pengelola berdalih ada kerusakan dan alasan teknis lainnya. Meski demikian, ia mengklaim saat didesak, suara mesin sebenarnya bisa dikurangi.

“Kalau memang bisa dikurangi, kenapa tidak dari awal? Kami tidak menuntut yang macam-macam. Kami hanya ingin kedamaian. Banyak anak-anak dan orang tua sakit, kami ingin istirahat dengan nyaman,” tegasnya.

Maryono menyebut, pemasangan peredam suara (sound barrier) yang sebelumnya dijanjikan tidak membawa perubahan signifikan. Warga pun mulai kehilangan kesabaran.

Apabila pengelola pembangkit listrik tidak bisa menuntaskan masalah tersebut, ia mendesak agar perusahaan merelokasi warga ke tempat yang lebih layak.

“Kalau memang harus terus seperti ini, silahkan beli rumah kami dengan harga wajar. Kami pindah. Kami ini tinggal di rumah subsidi. Kalau punya pilihan lain, kami sudah pindah dari dulu,” katanya.

Ia menilai keberadaan mesin diesel yang disebut berjumlah sekitar 148 unit dan berjarak sekitar 40 meter dari permukiman menjadi sumber utama persoalan. 

Selain kebisingan, warga juga mengeluhkan getaran, asap, mata perih, hingga kaca rumah yang terasa berminyak.

“Kami kena getar, kena asap, bising juga. Plafon ada yang jebol, lampu rusak, tapi tindak lanjutnya tidak jelas,” tambahnya.

Dalam aksi Kamis pagi itu, warga mendatangi lokasi sekitar pukul 13.30 WITA untuk mengadu. Namun mereka mengaku tidak mendapatkan kepastian.

“Kami datang ke PLTGU, katanya itu urusan PLTD. Kami datangi PLTD, katanya itu PLTGU. Kami seperti dilempar-lempar. Ujungnya hanya akan ditindaklanjuti dan dikoreksi. Sampai kapan? Apa menunggu kami tuli?” ujarnya.

Warga mencatat, kebisingan mulai berkurang sekitar pukul 18.30 WITA dan mesin berhenti sekitar pukul 21.00 WITA. 

Mereka menduga pengurangan itu terjadi karena adanya aksi protes. Terlebih pada Jumat (13/2/2026) suara bising mesin, tidak sekeras pada Kamis (12/2/2026).

Maryono juga menyinggung proses sosialisasi sebelum proyek berjalan. Ia mengaku sempat menghadiri pertemuan tersebut dan menyebut mayoritas warga menolak.

“Dalam sosialisasi, tidak ada warga yang setuju. Bahkan sempat ada yang gebrak meja. Tapi tiba-tiba mesin sudah datang dan terpasang. Kami tidak tahu siapa yang memberi izin,” katanya.

Ia juga mempertanyakan penjelasan bahwa pembangkit diesel yang kini berada di PLTGU Pemaron, diperuntukkan menyuplai listrik Bali selatan. 

“Seharusnya kan ditempatkan saja di Bali Selatan, bukan di tengah pemukiman Bali Utara. Kami sadar butuh listrik, kami juga bayar token listrik, bukan listrik gratis. Tolong berikan kami solusi,” tandasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#peredam suara #PLTD #Mesin #petugas #rumah #pembangkit #keluarga #kebisingan #video #listrik #PLTGU Pemaron #pembangkit listrik #Resah #pemaron