radarbuleleng.id-Ada yang menarik dari penyataan Ratna Sarumpaet saat terciduk Pecalang bersama seorang lelaki muda berkendara mobil saat Umat Hindu di Bali sedang melaksanakan tapa brata Nyepi.
Seperti diketahui, Ratna Sarumpaet berkendara mobil bersama seorang pria muda di jalanan kawasan Canggu, Kuta Utara Badung, Bali.
Saat terciduk pecalang berkeliaran di Bali saat Nyepi, ibu dari artis Atiqah Hasiholan ini mengaku ingin pergi ke ATM. Dia juga berdalih, tidak mengetahui Nyepi bertepatan hari Senin 11 Maret 2024.
Aksi nekat wanita kelahiran 16 Juli 1949 menggunakan mobil saat Nyepi, ini pun viral di media sosial dan mendapat kecaman dari warganet. Dia diketahui bersama seorang pria muda menggunakan mobil warna abu-abu metalik.
Mobil yang digunakan Toyota Sienta dengan plat nomor B 2760 SOC. Laju kendaraan mereka dihentikan pecalang setempat yang saat itu menjaga wilayah.
Warganet geram dengan ulah Ratna Sarumpaet yang konon aktivis ini. Pasalnya, pengakuannya tidak tahu Nyepi pada tanggal 11 Maret.
Netizen bilang, ga masuk akal. Sebab sebelum keluar pihak pengelola vila tentunya sudah memberi tahu bahwa Bali sedang Nyepi.
Yang mengherankan, ia tahu dari karyawan vila bahwa Nyepi pada 9 Maret 2024 lalu.
Meskipun sudah meminta maaf tetap netizen tidak terima dengan ulahnya tersebut.
"Ga mungkin! Alasan saja," tulis akun bernama @indi***
"Siapa nama stafnya yang bilang Nyepi 9 Maret Bu?," tulis @leo***
"Ingin viral aja ini orang. Sudah tahu Nyepi di Bali malah keluar. Rese," tulis akun @hendr.
Bahkan ada netizen yang meminta Ratna Sarumpaet yang tak lain ibu dari artis Atiqah Hasiholan ini untuk diproses hukum karena sudah menodakan agama.
“ Agar dia paham apa arti kata menghargai agama orang lain dan bukan seenak jidatnya mondar mandir disaat warga sedang beribadah saat Nyepi. Baiknya diberikan sanksi adat, bila perlu diberi sanksi sebagai penista agama,” tulis salah satu akun di Instagram.
Terkait viralnya Ratna Sarumpaet berkeliaraan menggunakan mobil saat warga Bali sedang eryakan Nyepi di Bali, belum ada keterangan resmi dari Polda Bali dan pemuka agama di Bali. ***
Editor : Donny Tabelak