Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Nama Nyoman dan Ketut Terancam Punah di Bali, Koster: Suud Ngelah Dua Anak!

Juliadi Radar Bali • Rabu, 17 Juli 2024 | 01:48 WIB
Ketua DPD PDIP Bali Wayan Koster (baju putih depan). Menurut Koster, nama Nyoman dan Ketut itu merupakan identitas nama Bali.
Ketua DPD PDIP Bali Wayan Koster (baju putih depan). Menurut Koster, nama Nyoman dan Ketut itu merupakan identitas nama Bali.

radarbuleleng.id - Bukan hanya masalah wisatawan nakal dan perilaku aneh yang akan dihadapi Bali kedepan.

Melainkan masalah menurunnya jumlah populasi penduduk Bali akibat terancam punahnya keturunan keempat; Nyoman dan Ketut saat ini. 

"Karena berhasil penduduk Bali keluarga berencana (KB) sekarang ini dengan rata-rata dua anak. Nyoman dan Ketut hampir punah di Bali. Kalau sudah begini mengurangi warisan yang kita punya di Bali. Kedepan harus kita jaga, jangan sampai Nyoman dan Ketut punah," ungkap Ketua DPD PDIP Bali Wayan Koster saat menyampaikan pemaparan Haluan 100 Tahun Bali Era Baru, yang dihadiri oleh seluruh kader PDIP Tabanan, Selasa (16/7) di Gedung Kesenian I Ketut Maria, Tabanan. 

Menurut Koster, Nyoman dan Ketut itu merupakan identitas nama Bali. Anak pertama Putu, Gede, Wayan, anak kedua Made, Nengah, Kadek, dan anak ketiga Komang dan Nyoman kemudian anak keempat Ketut.

Didalam program Haluan 100 Tahun Bali Era Baru, salah satu unsur isu yang harus dijaga adalah keturunan anak ketiga dan keempat Nyoman dan Ketut. Karena merupakan kearifan lokal dan identitas Bali. 

Termasuk di Tabanan ini sangat tertib sekali dengan program keluarga berencana (KB) hanya dua anak. 

"Jadi karena itu kami akan memberlakukan kebijakan untuk program Bali 100 tahun kedepan tetap memberlakukan empat anak. KB jangan lagi dua anak, KB itu empat anak bahkan lima anak," beber Koster. 

Jika berdasarkan data angka kelahiran, tahun 1971 rata-rata seorang perempuan di Bali melahirkan 5-6 anak selama masa reproduksi. Kemudian tahun 2020, rata-rata seorang perempuan melahirkan dua anak.

Pada tahun 2023, data jumlah siswa SD, SMP dan SMA/SMK mencapai 758.174 orang. 

Dari data itu jumlah siswa yang memakai nama Bali sebanyak 595.931 orang atau 79 persen. Dengan jumlah siswa yang memakai nama anak ketiga (Komang dan Nyoman) hanya sebanyak 109.198 orang atau 18 persen dan nama anak keempat (Ketut) sebanyak 37.389 orang atau 6 persen. 

"Nyoman dan Ketut ini hampir punah. Suhut jani ngelah panak dua (berhenti sekarang dua anak). Apalagi pakai pasektomi itu sadis. Sekarang makin banyak anak makin bagus," ungkap Koster.

Koster menambahkan pihaknya pun bakal memberikan intensif bagi keluarga yang bisa melahirkan anak ketiga dan keempat (Nyoman dan Ketut).

"Seperti apa skema insentifnya nanti secara detail kami akan bahas," jelasnya.   

Misalnya dibeberapa negara Asia seperti Cina, termasuk mereka memberikan insentif bagi keluarga yang ingin menambah satu anak lagi. Karena Cina menurun jumlah penduduknya.  

Termasuk negara Singapura juga begitu, bahkan Negara Jepang. Jepang mengalami kesulitan populasi jumlah penduduk.

Karena banyak dari warga negaranya yang tidak ingin kawin. Ada yang ingin menikah tapi tidak mau memiliki anak.

Ada yang menikah tapi ingin memiliki satu anak. Jadi populasinya menurun. Akhirnya menghadapi masalah demografi. 

"Nah kita di Bali jangan sampai menghadapi masalah Demografi ini," pungkasnya. 

Sementara itu Ketua DPC PDIP Tabanan yang juga Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya mengatakan langkah kongkritnya kedepan Pemerintah Kabupaten akan mengikuti kebijakan dari pembangunan Bali 100 Tahun kedepan. 

"Kami ngikut karena namanya membangun Bali harus satu jalur. Apa yang menjadi kebijakan tentang pembangunan haluan bali 100 tahun kedepan. kita juga siap melaksanakan," ucapnya .

Insentif memang sangat penting kepada keluarga yang melahirkan anak ketiga dan keempat (Nyoman dan Ketut). Untuk memberikan motivasi. 

Yang penting dipikirkan juga biaya kehidupan. Karena setiap saya kali turun dan tanya masyarakat kenapa tidak mau lagi melahirkan anak ketiga dan keempat kesulitan dibiaya hidup, biaya sekolah dan beli.

"Ini perlu dikongkritkan lagi bagaimana memberikan insentif kedepan," tandas Sanjaya. ***

Editor : Donny Tabelak
#keluarga berencana #wayan koster #punah #NYOMAN #populasi penduduk