Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Rahayu! Sepanjang Bulan September, Bali Sudah Tiga Kali Diguncang Gempa. Lontar Palalindon Ungkap Maknanya

Eka Prasetya • Sabtu, 21 September 2024 | 14:04 WIB

 

Ilustrasi gempa bumi
Ilustrasi gempa bumi

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Peristiwa gempa bumi kembali mengguncang Bali. Gempa dilaporkan terjadi Sabtu (7/9/2024) sekitar pukul 07.26 WITA.

Gempa terakhir berkekuatan 4,9 skala richter. Pusat gempa terletak pada koordinat koordinat 8.52 Lintang Selatan  dan 115.35 Bujur Timur. Lokasi tepatnya ada pada arah 3 kilometer,barat daya dari Kota Gianyar.

Lokasi ini berdekatan  dengan peristiwa gempa yang terjadi pada Sabtu (7/9/2024) dua pekan lalu. Saat itu gempa terjadi pada koordinat 8.52 Lintang Selatan  dan 115.35 Bujur Timur. Lokasi tepatnya ada pada arah 2 kilometer, timur laut dari Gianyar.

Sepanjang bulan September 2024, sudah tiga kali terjadi peristiwa gempa yang terjadi di daratan Pulau Bali.

Sebelumnya gempa dengan kekuatan  3.0 skala richter pada Jumat (6/9/2024) pukul 04.13 WITA dini hari.

Terakhir gempa juga terjadi dengan kekuatan 4.9 skala richter pada Sabtu (7/9/2024) dua pekan lalu.

Hingga kini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali masih mendata kerusakan yang terjadi, dampak dari gempa bumi tersebut.

Bagi masyarakat adat di Bali, gempa bumi diyakini menjadi gejala alam terhadap suatu hal yang akan terjadi.

Gejala-gejala tersebut tertulis dalam Lontar Palalindon yang menjadi salah satu acuan masyarakat adat Bali.

Dampak gempa juga dibahas secara khusus dalam buku berjudul “Linuh Dalam Teks Palalindon”, yang ditulis oleh I Made Giri Nata yang dosen Filsafat Hindu, I Gede Rudia Putra yang juga mantan Rektor IHDN Denpasar, serta I Gusti Made Widya Sena yang dosen Teologi Hindu.

Mengacu kalender Bali, gempa bumi yang terjadi pada Sabtu (21/9/2024) berarti terjadi pada rahina Saniscara Umanis Sungsang pada Sasih Katiga.

Berikut makna gempa bumi yang terjadi pada saniscara umanis sungsang sasih katiga:

Gempa yang terjadi pada sasih katiga memiliki makna sebagai berikut: tekaning lindu, Bhatari Sri Mayoga, rahayu ikang rat, tahun dadi,  toya teka angemu rusaning lemah, Bhatara Guru sedih denim bah banget mwang udan madres, ewawh ikang wang salah paksa, karepnia, akweh wang kacarik pejaha.

Bila diterjemahkan, gempa yang terjadi pada sasih katiga atau bulan ketiga dalam kalender Bali bermakna sebagai berikut: Apabila sasih katiga terjadi linuh, Bhatara Sri beryoga selamatlah dunia, tanaman berhasil, air besar mengandung sari-sari tanah. Tetapi Bhatara Guru sedih karena air terlalu besar, hujan deras, sulitlah orang mencari makan dan banyak orang meninggal karena ke sawah (karena mengelola sawah).

Lontar Palindon juga membahas dampak gempa yang terjadi pada hari tertentu. Dalam hal ini hari Sabtu atau rahina saniscara dalam kalender Bali.

Dalam teks lontar tertulis: tekaning lindu, sasab marana magalak, sarwa tinandur kweh rusak, laraning wang mati, mahiweng-hiwengan kala banaspati raja, amangsa, mwang bhuta klika mangrusit, pamigenanira Sang Hyang Geni.

Arti atau makna gempa bumi yang terjadi pada hari Sabtu adalah: Terjadi linuh, semua wabah merajalela, segala tanaman para petani banyak yang rusak, banyak yang menderita sampai mati, gentayangan kala banaspati raja, memangsa, juga Bhuta Kalika mengganggu, akibat kutukan Sang Hyang Geni.

Sementara dalam perhitungan pancawara tepatnya saat umanis juga didapat penjelasan sebagai berikut: tekaning lindu, sarwa tinandur rusak, mwang pari mati busung, eweh sang amawa rat, mangrawosin baya sang prabu kageringan, mwah pejah aperang, bukti rug ikang bumi rebah, pamigenan Sanghyang Iswara.

Bila diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, makna gempa yang terjadi pada umanis adalah: terjadi linuh,  segala tanaman rusak, padi mati busung, pemimpin susah, dalam mencari solusi kepemimpinan, juga terjadi peperangan banyak yang mati, negara kacau balau. Akibat kutukan Sang Hyang Iswara.

Melihat penjelasan dari lontar tersebut, gempa bumi yang terjadi pada Sabtu (21/9/2024), tepatnya pada rahina saniscara umanis sungsang sasih katiga Tahun 1946 caka sebagai berikut:

Pada sasih katiga, terjadi linuh yang membawa dampak besar bagi dunia. Bhatara Sri berusaha menjaga kesejahteraan tanaman dan keberhasilan air, tetapi Bhatara Guru merasa sedih karena hujan deras menyebabkan kesulitan bagi rakyat dalam mencari makan, dan banyak orang meninggal di sawah. 

Linuh ini juga memicu wabah yang merusak tanaman petani, menimbulkan penderitaan hingga kematian, sementara kekacauan dan peperangan menghancurkan tatanan negara akibat kutukan Sang Hyang Geni dan Sang Hyang Iswara.

Untuk mengatasi gangguan mistik ini, perlu dilakukan upacara caru di persimpangan jalan, menyucikan diri, serta memasang penangkal dengan doa-doa. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #gempa #lontar #gempa bumi