MANGUPURA, radarbuleleng.id - Pura Taman Ayun menjadi saksi sejarah dari Dinasti Kerajaan Mengwi atau Puri Ageng Mengwi.
Penglingsir Puri Ageng Mengwi, Anak Agung Gde Agung mengatakan, Puri Ageng Mengwi pertama kali didirikan oleh Raja Mengwi I Gusti Agung Putu yang juga bergelar Cokorda Sakti Blambangan, pada abad ke-17 atau tahun 1634 saka.
Gde Agung mengatakan, leluhur Puri Ageng Mengwi saat itu sudah memikirkan pelayanan yang dapat diberikan kepada masyarakat.
Selain itu juga memberikan suatu pencerahan budaya kepada masyarakat, termasuk agama
"Beliau (leluhur, red) membangun Pura Taman Ayun sudah beripikir Pura Paibon yang dibuat ini bukan hanya untuk kepentingan beliau dan keluarga serta keturunan. Beliau membuat itu untuk kepentingan masyakat yang di bawah naungan beliau," jelasnya.
Pura Taman Ayun memiliki tiga fungsi utama. Pertama yaitu dalam rangka didedikasikan untuk kepentingan masyarakat atau sosial religius.
Karena pada masa itu, lanjut mantan Bupati Badung dua periode ini, masyarakat belum memungkinkan untuk datang ke Pura Besakih, Pura Batukaru, Pura Uluwatu, maupun Pura Sakenan karena terkendala jalan.
"Oleh karena itulah beliau membuat Pura Taman Ayun. Di mana pura-pura Khayangan Jagat yang ada di Bali ini, mulai dari Besakih, Batur, sampai Batukaru distanakan di Pura Taman Ayun," kata Anak Agung Gde Agung.
Pelinggihnya pun dibangun sesuai dengan perwujudan dari sumbernya.
Sehingga masyarakat yang tidak bisa tangkil ke Pura Besakih, Batur, maupun Batukaru, bisa cukup dari Pura Taman Ayun.
"Kedua, walaupun Pura Paibon, tetapi itu merupakan pemersatu dari wangsa-wangsa di Bali. Baik itu brahmana, ksatria, termasuk pasek itu bisa melakukan persembahyangan di Taman Ayun," sambungnya.
Fungsi ketiga yaitu sebagai sosial ekonomi. Hal ini nampak dari kolam yang ada di Taman Ayun, baik di dalam ataupun di luar.
Kolam ini tak semata-mata berfungsi secara keindahan maupun estetika saja, melainkan juga berfungsi untuk mengaliri sawah ratusan hektar yang ada di sebelah selatan Pura Taman Ayun.
Konservasi budaya pun diturunkan dari generasi ke generasi, hingga akhirnya kini berada di generasi ke-13.
Dari sang ayah, Anak Agung Gde Agung mengaku sudah diajarkan untuk melestarikan Puri Ageng Mengwi, Pura Taman Ayun, termasuk dengan budaya dan keseniannya.
Puri Ageng Mengwi pun memiliki sanggar tari yang lengkap dengan ratusan anggota sanggarnya.
Selain itu, tiap tahunnya ia rutin mengadakan Taman Ayun Barong Festival dalam rangka pelestarian budaya yang menyasar pelajar hingga jawara.
Sang ayah juga mendoktrin supaya menanamkan pada dirinya menjadi seorang konservasionis, sehingga tidak merusak bangunan maupun budaya yang ada. Serta mempertahankan budaya yang adi luhung.
"Bagaimana mempertahankan bangunan artefak yang sudah ada seperti di Taman Ayun. Mulai dari Nistaning Mandala, Madya Mandala, dan Utama Mandala, tetap kami pertahankan seperti saat didirikan," paparnya.
Pelestarian Pura Taman Ayun tak hanya telah diakui oleh daerah sebagai pusat budaya.
Tetapi juga oleh nasional dengan masuk dalam cagar budaya nasional, serta secara internasional yang sudah masuk dalam warisan budaya dunia oleh UNESCO sejak tahun 2012.***
Editor : Donny Tabelak