Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Musim Tanam Tiba, Petani di Subak Jatiluwih Gelar Ritual Mapag Toya, Memohon Keberkahan agar Hasil Panen Melimpah dan Dijauhkan dari Wabah

Juliadi Radar Bali • Rabu, 18 Desember 2024 | 20:05 WIB
Suasana ritual Mapag Toya yang digelar oleh petani di tempek kedamian Subak Jatiluwih, Desa Jatiluwih, Penebel Tabanan.
Suasana ritual Mapag Toya yang digelar oleh petani di tempek kedamian Subak Jatiluwih, Desa Jatiluwih, Penebel Tabanan.

radarbuleleng.id- Memasuki musim tanam padi, ada yang menarik dilakukan oleh petani di tempek Kedamian Subak Jatiluwih, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan. Mereka menggelar ritual Mapag Toya, pada Selasa (17/12). 

Ritual Mapag Toya itu dilaksanakan pada saluran sungai dan bendungan yang air akan mengairi lahan pertanian yang akan ditanami padi. 

Ritual Mapag Toya diupacarai oleh Pemangku desa adat setempat bersama dengan para anggota tempek kedamian. 

Menurut Perbekel Desa Jatiluwih I Nengah Kartika, Mapag Toya adalah sebuah ritual pertanian yang dilakukan oleh petani di subak Jatiluwih sebelum mereka mulai mengolah lahan pertanian untuk memasuki musim tanam tiba di tengah musim hujan.

Mulai dari proses mengairi, membajak sawah hingga nantinya melakukan proses tanam.

"Ritual ini dipuput oleh Pemangku dan ini rutin digelar setiap akan mulai musim tanam tiba," ujar Kartika.

Ia menjelaskan, ritual Mapag Toya menandakan dimulai musim tanam padi di Desa Jatiluwih.

Bagi masyarakat petani di Desa Jatiluwih ini merupakan peristiwa penting karena dimulainya siklus pertanian baru dengan harapan panen padi melimpah dan terhindar dari ancaman wabah penyakit. 

Ritual Mapag Toya ini melibatkan prosesi ke sungai mata air suci, tempat persembahan diberikan kepada roh-roh air.

Air tersebut kemudian dibawa kembali ke desa dan dipercikan ke ladang-ladang yang melambangkan berkah bagi tanah. 

Upacara Mapag Toya mencerminkan konsep Tri Hita Karana, bagaimana manusia menjaga keharmonisan dengan alam, sesama manusia dan tuhannya. 

"Terpenting dalam ritual ini sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Gangga dengan tujuan memohon berkah agar proses tanam berjalan sampai panen melimpah," bebernya. 

Saat melakukan ritual Mapag Toya selalu mengikuti hari baik atau dewasa ayu. 

Secara umum ritual ini dilakukan oleh anggota pekaseh di subak Jatiluwih yang ada ditujuh tempek.

Mulai dari tempek Uma Kayu, tempek Gunung Sari, Tempek Telabah Gede, Tempek Besi Kalung, Tempek Kedamian, Tempek Umaduwi dan Tempek Kesambi. 

"Penentuan kapan waktu dilaksanakan ritual ini itu menjadi kesepakatan dari masing-masing tempek di Subak Jatiluwih," jelasnya. 

Ia menambahkan saat ini luas lahan areal pertanian di Subak Jatiluwih mencapai 303 hektar dengan anggota subak mencapai 545 orang. Dari luas lahan mencapai ratusan hektar dominan ditanami padi. 

"Bahkan petani di sini setiap tahunnya rutin menanam padi beras merah," pungkasnya.***

Editor : Donny Tabelak
#ritual #petani #Jatiluwih #musim tanam #subak #mapag toya